Ai Chatbots Di Media Sosial: Cermin Polarisasi Manusia Yang Mengkhawatirkan

Sedang Trending 4 bulan yang lalu

Telset.id – Jika Anda berpikir algoritma media sosial adalah satu-satunya penyebab polarisasi politik dan sosial, penelitian terbaru dari Universitas Amsterdam bakal membikin Anda tercengang. Studi ini mengungkap bahwa apalagi AI chatbot—tanpa kombinasi tangan algoritma—secara alami membentuk ruang kemandang (echo chamber) dan memperkuat pandangan partisan.

Facebook is displayed on a smartphone, with a person's hand tapping to like a post.

Para peneliti menciptakan simulasi platform media sosial sederhana tanpa iklan alias algoritma rekomendasi, lampau melepaskan 500 chatbot berbasis GPT-4o mini dengan beragam hubungan politik. Hasilnya? Chatbot-chatbot tersebut secara konsisten mengikuti akun nan sejalan dengan kepercayaan politik mereka dan lebih sering membagikan konten partisan ekstrem.

Eksperimen nan Menggugah Kesadaran

Dalam lima penelitian berbeda, masing-masing melibatkan 10.000 interaksi, chatbot menunjukkan kecenderungan nan mirip dengan manusia: konten paling partisan mendapat engagement tertinggi. “Temuan ini tidak menggambarkan kita dengan baik,” tulis para peneliti dalam preprint nan dipublikasikan di arXiv. Bagaimanapun, chatbot dilatih berasas info hubungan manusia di bumi nan sudah didominasi algoritma.

Yang lebih mengkhawatirkan, beragam intervensi seperti feed kronologis, menyembunyikan jumlah follower, alias memperkuat pandangan berlawanan hanya menghasilkan perubahan maksimal 6% dalam pola engagement. Bahkan, menyembunyikan profil pengguna justru memperlebar polarisasi dan meningkatkan perhatian pada konten ekstrem.

Penelitian ini mempertanyakan apakah struktur media sosial itu sendiri—bukan hanya algoritmanya—yang secara inheren memperkuat kecenderungan terburuk manusia. “Media sosial adalah cermin rumah hantu bagi kemanusiaan; dia memantulkan kita, tetapi dalam corak nan paling terdistorsi,” tulis AJ Dellinger dalam laporannya.

Fenomena ini juga relevan dengan perkembangan fitur-fitur baru di platform seperti Instagram nan berupaya meningkatkan hubungan sosial. Namun, apakah upaya tersebut cukup untuk mengatasi polarisasi nan sudah mengakar?

Di Indonesia, rumor ini semakin relevan menyusul rencana Kemkomdigi memblokir iklan rokok di media sosial. Langkah ini menunjukkan kesadaran bakal pengaruh media sosial dalam membentuk opini publik, meski solusi teknis mungkin tidak cukup.

Seperti nan ditunjukkan oleh protes musisi terhadap Spotify, teknologi dan platform digital sekarang berada di persimpangan jalan antara kemajuan dan tanggung jawab sosial. Pertanyaannya: bisakah kita merancang ulang media sosial untuk mempromosikan pemahaman, bukan perpecahan?

Studi Amsterdam ini tidak memberikan jawaban optimis, tetapi setidaknya memberi kita cermin untuk memandang masalah secara lebih jernih. Mungkin langkah pertama adalah mengakui bahwa algoritma hanyalah amplifikasi dari kecenderungan nan sudah ada dalam diri kita semua.

Selengkapnya