Telset.id – Bayangkan Anda bangun pagi ini dan mendapati jalanan di depan rumah sudah berubah menjadi sungai deras. Atau mungkin, tembok tebuk di belakang rumah tiba-tiba ambruk menerjang segala nan dilaluinya. Ini bukan skenario movie bencana, melainkan realitas pahit nan sedang dialami penduduk Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dalam beberapa hari terakhir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan serius: Indonesia sedang dalam kondisi darurat musibah hidrometeorologi.
Data terbaru BMKG menunjukkan kebenaran nan mengkhawatirkan. Dalam periode 25-27 November 2025 saja, beberapa wilayah di tiga provinsi tersebut mengalami hujan dengan intensitas mencapai kategori ekstrem. Aceh Utara tercatat menerima curah hujan 310.8 mm per hari, sementara Medan di Sumatera Utara mencapai 262.2 mm per hari. Angka-angka ini bukan sekadar statistik biasa—ini adalah sirine nan memekakkan telinga tentang sungguh rentannya wilayah kita terhadap perubahan cuaca ekstrem.
Lalu apa sebenarnya nan memicu kejadian cuaca ekstrem ini? BMKG mengidentifikasi dua aspek utama: Siklon Tropis SENYAR nan terbentuk di Selat Malaka dan aktivitas Gelombang Rossby Ekuator. Kombinasi mematikan ini menciptakan kondisi ideal untuk pembentukan awan-awan hujan dalam skala masif. Bahkan ketika SENYAR sudah bergerak menjauh menuju Malaysia, dampaknya tetap terasa cukup signifikan di wilayah Sumatra.
Peta Merah BMKG untuk Sepekan ke Depan
BMKG tidak main-main dengan peringatan kali ini. Lembaga nan dipimpin oleh Dwikorita Karnawati ini telah membagi tingkat kewaspadaan menjadi tiga kategori: Waspada, Siaga, dan Awas. Untuk periode 28-30 November 2025, status Awas (hujan sangat lebat hingga ekstrem) diberikan unik untuk Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Sementara status Siaga (hujan lebat hingga sangat lebat) bertindak untuk wilayah nan lebih luas, termasuk Riau, Bengkulu, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Kalimantan Barat.
Yang membikin situasi semakin kompleks, muncul Siklon Tropis KOTO di Laut Filipina nan memberikan akibat tidak langsung berupa hujan dengan intensitas sedang hingga lebat serta gelombang tinggi mencapai 1.25-4 meter di perairan utara Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku Utara. Seolah musibah datang beruntun tanpa memberi kesempatan untuk bernapas.
Memasuki periode 29 November hingga 3 Desember 2025, kondisi cuaca ekstrem tetap bakal terus bersambung meski dengan pola nan sedikit berubah. Status Siaga untuk hujan lebat hingga sangat lebat sekarang beranjak ke Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Papua Pegunungan. Perubahan pola ini menunjukkan dinamika cuaca nan sangat kompleks dan susah diprediksi secara sempurna.
Dampak Teknologi dalam Mitigasi Bencana
Dalam situasi seperti ini, peran teknologi menjadi semakin krusial. Sistem peringatan awal nan terintegrasi dengan baik bisa menjadi pembeda antara hidup dan mati. Sayangnya, prasarana teknologi kita tetap mempunyai banyak celah. Seperti nan diungkapkan dalam laporan RED Asia tentang inisiatif AI untuk mendukung upaya Indonesia, potensi kepintaran buatan dalam memprediksi dan memitigasi musibah tetap belum dimanfaatkan secara optimal.
Bayangkan jika sistem peringatan awal BMKG bisa terintegrasi dengan aplikasi mobile nan digunakan masyarakat secara massal. Atau jika info satelit dan sensor cuaca bisa diproses dengan algoritma machine learning nan bisa memprediksi dengan kecermatan lebih tinggi. Ini bukan lagi sekadar wacana teknologi, melainkan kebutuhan mendesak nan kudu segera diwujudkan.
Industri telekomunikasi pun memegang peran vital dalam situasi darurat seperti ini. Stabilitas jaringan komunikasi bisa menentukan efektivitas pemindahan dan koordinasi penanganan bencana. ATSI sebagai asosiasi telekomunikasi terus mendorong skema insentif untuk menjaga upaya telekomunikasi tetap stabil, nan pada akhirnya juga berakibat pada ketahanan bangsa menghadapi bencana.
Bahkan dalam konteks nan lebih luas, perkembangan teknologi digital semestinya bisa menciptakan ekosistem nan lebih tangguh. Program seperti Telkomsel MikroMaju nan mendorong literasi upaya digital sebenarnya bisa diperluas cakupannya untuk mencakup edukasi mitigasi musibah berbasis teknologi.
Antara Mitigasi dan Realitas di Lapangan
Pertanyaan besarnya: Sudah siapkah kita menghadapi skenario terburuk? Data dari BNPB menunjukkan bahwa dalam musibah banjir dan longsor di Sumatra Barat saja, ribuan penduduk kudu mengungsi ke hotel-hotel dan gedung-gedung tinggi. Gambaran ini mengingatkan kita pada sungguh rapuhnya infrastrukturdarurat kita.
Yang lebih mengkhawatirkan, pola cuaca ekstrem ini tampaknya bakal menjadi “tamu tetap” di negeri kita. Perubahan suasana dunia telah mengubah banyak hal, termasuk intensitas dan gelombang musibah hidrometeorologi. Kita tidak bisa lagi mengandalkan cara-cara konvensional dalam menghadapi ancaman nan semakin kompleks ini.
Lalu apa nan bisa kita lakukan sebagai individu? Pertama, patuhi setiap peringatan nan dikeluarkan BMKG. Kedua, persiapkan rencana pemindahan family dan pastikan semua personil family memahami prosedur darurat. Ketiga, manfaatkan teknologi nan ada—dari aplikasi cuaca hingga grup komunikasi masyarakat—untuk tetap terhubung dan mendapatkan info terbaru.
BMKG telah melakukan bagian mereka dengan memberikan peringatan dini. Sekarang giliran kita, pemerintah daerah, dan seluruh komponen masyarakat untuk bergerak cepat. Karena dalam menghadapi bencana, nan paling berbobot bukanlah kekayaan barang nan bisa diselamatkan, melainkan nyawa manusia nan tidak ternilai harganya.