Broken Avenue: Ai “band” Metal Yang Curi Musik Knocked Loose Dan Counterparts

Sedang Trending 2 jam yang lalu

Telset.id – Bayangkan sebuah band metal nan tiba-tiba muncul, mempunyai 127.000 pendengar di Spotify, masuk dalam beragam playlist, namun tidak ada seorang pun nan pernah melihatnya tampil live alias tahu siapa personelnya. Inilah realitas mengganggu nan dihadapi bumi musik dengan kemunculan Broken Avenue, sebuah proyek nan diduga sepenuhnya dihasilkan oleh kepintaran buatan (AI) dan dituding mencuri musik dari band-band besar seperti Knocked Loose, Counterparts, dan The Devil Wears Prada.

Fenomena ini bukan sekadar lelucon alias penelitian seni. Ini adalah operasi yang, menurut banyak pengamat, dirancang untuk menggerogoti royalti nan semestinya diterima musisi sungguhan. Dalam ekosistem streaming nan sudah susah bagi artis independen, kehadiran entitas seperti Broken Avenue bagai tamu tak diundang nan menyedot sumber daya. Mereka memanfaatkan algoritma platform dan kemungkinan besar playlist nan juga digenerate AI untuk menumpang popularitas, menciptakan ilusi penerimaan nan pada akhirnya mengalihkan pendapatan ke kantong pihak tak bertanggung jawab.

Yang membikin kasus ini semakin parah adalah tingkat peniruannya nan terang-terangan. Broken Avenue tidak hanya mencuri sound alias style musik, tetapi juga diduga menggunakan AI untuk membikin jenis rendah kualitas dari artwork album band-band nan mereka jiplak. Coba perhatikan sampul album Knocked Loose berjudul “You Won’t Go Before You’re Supposed To”, lampau bandingkan dengan gambar-gambar nan digunakan Broken Avenue. Kemiripannya begitu mencolok, seolah-olah hanya melewati filter AI sederhana. Praktik ini tidak hanya merugikan secara finansial, tetapi juga merupakan pelecehan terhadap integritas artistik dan kerja keras musisi.

Reaksi dari kancah musik metal pun sigap dan penuh amarah. Brendan Murphy, vokalis Counterparts, dengan gamblang menyuarakan frustrasinya di media sosial. Dalam sebuah cuitan, dia menawarkan duit $100 bagi siapa saja nan bisa memberikan info kontak legit untuk seseorang berjulukan “James Trolby”, nan diduga berada di kembali proyek Broken Avenue. “Aku tidak bakal melakukan perihal gila, Anda tidak bakal mendapat masalah,” tulisnya, mencoba meyakinkan calong pemberi informasi. Namun, misteri tetap menyelimuti. Apakah James Trolby betul-betul ada, alias hanya nama samaran nan menjadi lapisan lain dari penyamaran proyek ini?

Insiden ini menyoroti kelemahan sistemik di platform streaming seperti Spotify. Meski mempunyai kebijakan kewenangan cipta, efektivitas penegakannya sering dipertanyakan. Kemudahan untuk mengupload konten, dikombinasikan dengan algoritma rekomendasi nan bisa dimanipulasi, menciptakan celah bagi pihak-pihak nan mau mencari untung sigap dengan langkah tidak etis. Ketika sebuah “band” bisa mendapatkan puluhan ribu pendengar tanpa pernah menulis satu riff pun alias berdiri di atas panggung, itu adalah pertanda jelek bagi masa depan industri musik nan berbasis pada kreasi asli.

Lalu, apa artinya bagi kita, para pendengar? Di satu sisi, kita mungkin tidak sengaja mendukung praktik ini dengan men-streaming lagu mereka nan masuk dalam playlist campuran. Di sisi lain, ini adalah panggilan untuk lebih kritis dan sadar bakal asal-usul musik nan kita dengarkan. Dunia metal, khususnya, dibangun di atas komunitas, keaslian, dan hubungan manusiawi antara band dan fans. Band-band seperti Knocked Loose membangun pengikut mereka dari tur ke tur, dari jerih payah nyata. Membiarkan entitas AI mengambil pundi-pundi pendapatan mereka adalah pengkhianatan terhadap semangat itu.

Masa depan nan digambarkan oleh kasus Broken Avenue suram: band palsu, seni palsu, orang palsu, namun duit nan dihasilkan sangat nyata. Dan duit itu tidak mengalir ke musisi nan berkeringat di studio dan panggung. Ini adalah skenario distopia di mana algoritma dan bot bisa lebih “sukses” secara finansial daripada seniman manusia. Jika tidak ada tindakan tegas dari platform dan perlindungan norma nan lebih kuat, kita mungkin bakal memandang lebih banyak Broken Avenue bermunculan, tidak hanya di metal, tetapi di semua aliran musik.

Pertanyaannya, apakah kita hanya bakal berdiam diri? Atau kita akan, seperti Brendan Murphy, menuntut akuntabilitas? Dukungan kepada band-band original menjadi lebih krusial dari sebelumnya. Hadiri konser mereka, beli merchandise langsung, dan stream musik mereka dari sumber resmi. Ketika teknologi seperti AI audio semakin canggih dan mudah diakses, keahlian kita untuk membedakan nan original dari nan tiruan bakal diuji. Namun, satu perihal nan tidak bisa direplikasi oleh AI adalah jiwa, pengalaman hidup, dan emosi mentah nan dituangkan ke dalam musik oleh musisi sesungguhnya. Itulah nan selama ini membikin aliran seperti metal begitu berdaya, dan itulah nan kudu kita pertahankan.

Industri gadget dan teknologi pun tidak lepas dari rumor serupa, di mana orisinalitas dan kewenangan kekayaan intelektual sering diuji. Sama seperti kita menghargai penemuan original dari produk seperti Redmi Pad 2 Pro alias vivo Watch GT, bumi musik juga memerlukan penghargaan nan sama terhadap kreasi orisinal. Perdebatan tentang AI dalam seni memang kompleks, tetapi ketika digunakan untuk menipu dan mencuri, garis hitam putihnya menjadi jelas. Saatnya platform musik bertindak lebih proaktif sebelum budaya musik nan kita cintai tergerus oleh gelombang kepalsuan nan hanya mencari untung semata.

Selengkapnya