Bukan Meringankan: Riset Buktikan Ai Malah Tambah Jam Kerja Karyawan — Apa Dampaknya Bagi Pengguna Windows?

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Di jaman nan serba apa apa sudah dihubungkan dengan AI, nyatanya ketika kepintaran buatan alias AI ini banyak diharapkan bakal membikin produktivitas meningkat dan menjadikan beban kerja berkurang, namun kabarnya nih guys, riset terbaru justru menunjukan perihal sebaliknya dimana AI malah memperpanjang jam kerja tenaga kerja dan mengurangi waktu santuy mereka.

Jadi kawan-kawan, menurut studi berjudul “AI and the Extended Workday: Productivity, Contracting Efficiency, and Distribution of Rents“ nan ditulis oleh ahli ekonomi dari Emory, Auburn, Fordham, dan Seton Hall University, diungkapkan bahwa pengguaan AI seperti ChatGPT, Perplexity dan Copilot justru membikin tenaga kerja bekerja lebih lama lantaran ekspektasi output meningkat, kehilangan waktu senggang akibat tuntutan revisi dan perulangan sigap dan merasa selalu “tersedia / avail” lantaran AI mempercepat siklus kerja.

Nah menurut studi tersebut, kejadian ini disebut sebagai “availability creep”— di mana ekspektasi untuk selalu responsif meningkat lantaran AI dianggap mempercepat semua proses. Bahkan dalam lingkungan kerja berbasis Windows 11, fitur seperti Copilot nan terintegrasi ke File Explorer, Microsoft 365, dan Settings, tekanan ini semakin terasa, jadi bukannya AI menjadi hanya perangkat bantu saja, tapi malah juga menjadi pemicu ritme kerja nan lebih intens dan lebih cepat.

Dampaknya bagi pengguna Windows?

Nah bagi pengguna Windows terutama dalam lingkungan kerja hybrid dan remote, bisa jadi bakal berakibat lebih luas loh, misalnya jam kerja jadi lebih panjang, tekanan multitasking makin bertambah, dan jadi memerlukan skill baru seperti prompt engineering dan pertimbangan hasil AI.

Orang orang tua generasi boomer nan saat ini sudah menjadi ketua perusahaan sih biasanya bilang gini, “mas ini tolong di buatkan malam ini ya, mudah kan, soalnya pake AI”, nah ini jelas biasanya menambah beban kerja ke karyawan, sehingga ironisnya meskipun AI bisa memang membantu pengguna, namun AI juga justru menuntut manusia untuk lebih adaptif, lebih cepat, dan lebih kritis — bukan lebih santai.

Selain itu, banyak orang menganggap hasil AI itu sudah pasti betul dan sempurna, padahal nyatanya hasil tersebut kadang ngawur, tidak sesuai kebutuhan dan bisa merugikan pengguna apalagi perusahaan itu sendiri, contohnya nan baru baru ini viral, dimana tool coding berbasis AI justru menghapus database, jadi hasil AI perlu dikonfirmasi oleh manusia itu sendiri, sudah sesuai alias tidak, dan meskipun bisa mempercepat, ada proses ekstra juga nan kudu dilakukan oleh manusia sebagai pengguna.

Jadi, riset nan diterbitkan sebagai NBER Working Paper 33536 ini memang menjelaskan bahwa AI memang bisa membantu pengguna, namun ada akibat lain nan justru berbanding terbalik dengan kegunaan AI itu sendiri lantaran ekspektasi output meningkat, siklus kerja makin intens, dan beban kerja verifikasi dan koreksi nan bertambah.

Tapi gimana menurutmu? komen dibawah guys dan berikan pendapatmu.


Catatan Penulis : WinPoin sepenuhnya berjuntai pada iklan untuk tetap hidup dan menyajikan konten teknologi berbobot secara cuma-cuma — jadi jika Anda menikmati tulisan dan pedoman di situs ini, minta whitelist laman ini di AdBlock Anda sebagai corak support agar kami bisa terus berkembang dan berbagi insight untuk pengguna Indonesia. Kamu juga bisa mendukung kami secara langsung melalui support di Saweria. Terima kasih.

⚡️ Meracik Home Server Handal dari Laptop / PC Tua

Written by

Gylang Satria

Penulis, Pengguna Windows 11, Linux Ubuntu, dan Samsung S24. Tag @gylang_satria di Disqus jika ada pertanyaan.

Post navigation

Previous Post

Selengkapnya