Canva Bocorkan Tren Desain 2026: Era “imperfect By Design” Dimulai

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Telset.id – Bayangkan sebuah bumi di mana setiap gambar di media sosial terlihat sempurna, mulus, dan dipoles oleh kepintaran buatan. Sekarang, bayangkan bumi itu mulai bosan. Itulah inti dari laporan terbaru Canva nan memprediksi 2026 sebagai tahun di mana “ketidaksempurnaan” justru menjadi kekuatan baru. Platform kreasi visual terkemuka bumi ini baru saja merilis laporan tahunan ketiganya, dan pesannya jelas: setelah bertahun-tahun dikuasai algoritme dan keseragaman, para pembuat sekarang mengambil kembali kendali.

Laporan Canva Design Trends 2026 bukan sekadar ramalan biasa. Ini adalah hasil kajian mendalam terhadap miliaran kreasi dan aktivitas pencarian dari jutaan pengguna global, ditambah survei terhadap 1.000 pembuat di AS dan Brasil serta masukan dari Dewan Penasihat Desainer Canva. Temuannya menggambarkan sebuah pergeseran budaya nan menarik. Di satu sisi, AI telah menjadi “partner esensial” bagi 77% kreator. Namun di sisi lain, 80% dari mereka merasa 2026 adalah tahun untuk “merebut kembali kendali kreatif”. Bagaimana caranya? Bukan dengan menolak teknologi, melainkan dengan menggunakannya untuk menciptakan sesuatu nan terasa lebih personal, lebih mentah, dan—ya—lebih tidak sempurna. Inilah era “Imperfect by Design”.

Anda mungkin bertanya, bukankah AI semestinya membikin segalanya lebih sempurna? Justru di situlah letak paradoksnya. Ketika AI bisa menghasilkan visual nan mulus dan teknis dalam hitungan detik, keaslian dan sentuhan manusia justru menjadi pembeda nan paling berharga. Pencarian komponen bergaya DIY dan kolase di Canva melonjak 90%, sinyal kuat bahwa audiens mulai merindukan jejak manusia di kembali sebuah karya. Ini seperti reaksi kembali terhadap banjir konten nan terlalu rapi, terlalu algoritmik. Tren ini apalagi selaras dengan gelombang penemuan di perangkat keras, di mana kreasi nan unik dan individual menjadi nilai jual, seperti nan terlihat pada bocoran kreasi slim Motorola Edge 70 dengan warna Lily Pad nan menawan.

Sepuluh Tren nan Akan Mendefinisikan Visual 2026

Canva mengidentifikasi sepuluh tren utama nan diprediksi bakal membentuk lanskap imajinatif tahun depan. Tren-tren ini bukan hanya tentang warna alias font, tetapi tentang filosofi dan respons terhadap kondisi budaya digital kita.

1. Reality Warp (Distorsi Realita): Garis antara nyata dan sureal sengaja dikaburkan. Pencarian kata kunci “liminal” dan “uncanny” (aneh) melonjak 220%, dengan nyaris seperempat pembuat memprediksi ini bakal menjadi style dominan 2026. Ini adalah eksplorasi ketidaknyamanan nan disengaja, ruang antar-waktu nan membikin penonton merenung.

2. Prompt Playground (Taman Bermain Perintah): Nostalgia internet awal berjumpa dengan penelitian emosional. Fragmen antarmuka pengguna, referensi teknologi retro, dan “vibe coding” membentuk bahasa visual baru. Pencarian “estetika lo-fi” meledak 527%, menandakan gairah bakal visual nan ekspresif dan penuh perasaan, bukan sekadar teknis.

3. Explorecore: Sebagai jawaban atas kelebihan info digital, Explorecore menganjurkan kejelasan dan ketenangan. Pencarian tata letak terinspirasi Zine dan Substack naik 85%, menunjukkan kemauan untuk kreasi nan memperlambat tempo dan membujuk penjelajahan mendalam.

4. Texture Check (Pengecekan Tekstur): Didorong oleh maraknya CGI dan material hiper-realistis, tekstur menjadi bintang. Dari permukaan kaca, lilin, hingga nan terasa bisa disentuh, pencarian mengenai tekstur realistis di Canva tumbuh 30%.

5. Notes App Chic (Gaya Aplikasi Catatan): Era keelokan dalam ketidaksempurnaan mendorong pembuat ke arah visual ala scrapbook, komposisi berantakan, dan autentisitas “di kembali layar”. Ini adalah pemberontakan lembut terhadap estetika nan terlalu dipoles.

6. Opt-Out Era (Era Menolak): Sebagai penyeimbang kelelahan digital, tren ini menyederhanakan visual hingga ke esensinya. Tata letak bersih, font serif, dan branding sederhana menggantikan palet maksimalis dan maskot. Pencarian “tata letak bersih,” “serif,” dan “branding sederhana” naik 54%. Ini mencerminkan kemauan untuk komunikasi nan langsung dan tanpa basa-basi, sebuah prinsip nan juga terlihat dalam perkembangan kreasi perangkat, seperti nan diisyaratkan dalam diskusi tentang kreasi revolusioner iPhone 2027.

7. Drama Club: Kreator meningkatkan volume emosi, menyalurkan storytelling sinematik ke konten sosial, seni, dan video. Minat pada “mockumentary,” “dramatic spotlight,” dan motif serupa naik 27%.

8. GrannyWave (Gelombang Nenek): Di India, nostalgia menggerakkan kebangkitan motif budaya, dari pola tenun tangan hingga warna pagelaran dan kegemerlapan Bollywood. Pencarian “tipografi Desi” dan “tipografi Hindi” tumbuh 26% dan 17%.

9. Zinegeist: Di Meksiko, aktivitas zine DIY kembali dengan style nan lebih kuat. Tata letak kolase, tekstur anti-kilap, dan tipografi besar dan berani mencengkeram saat pembuat menolak estetika nan terlalu digital. Pencarian mengenai naik 77%.

10. Block Party (Pesta Blok): Komunitas imajinatif Spanyol memadukan nada vintage, cerita rakyat, dan aktivitas sehari-hari ke dalam visual hangat dan nostalgis nan diinterpretasikan ulang melalui lensa modern.

Design DNA: Peta Identitas Kreatif Personal Anda

Selain meramal tren, Canva juga meluncurkan fitur “Design DNA” nan menarik. Bayangkan ini seperti Wrapped-nya Spotify, tetapi untuk produktivitas Anda. Fitur berkekuatan AI ini menganalisis kebiasaan kreasi pengguna sepanjang 2025 dan menghasilkan rekap personalisasi pencapaian imajinatif mereka. Anda bakal mendapatkan kartu identitas imajinatif nan mengkategorikan Anda apakah seorang “Font Stylist”, “Prompt Picasso”, “Chatter Box”, alias “Newbie”. Tahun lalu, Canva menghasilkan lebih dari 111 juta aset Design DNA nan unik. Fitur ini adalah contoh nyata gimana AI digunakan bukan untuk menyamaratakan, tetapi justru untuk merayakan karakter setiap individu, melanjutkan revolusi nan dimulai dengan inisiatif seperti Canva Create 2025.

Cat van der Werff, Executive Creative Director Canva, menyimpulkan semangat era ini dengan tepat: “Karena semakin banyak pembuat beranjak ke AI untuk membantu mengekspresikan diri secara visual, kami percaya 2026 menandai tahun ‘Imperfect by Design’, saat di mana memadukan AI dengan mulus berbareng khayalan dan produktivitas manusia menjadi lebih krusial dari sebelumnya.”

Jadi, apa artinya ini bagi Anda, baik sebagai seorang pembuat konten, pemilik merek, alias sekadar pengguna media sosial? Ini adalah lampu hijau untuk lebih berani. Lepaskan kebutuhan bakal kesempurnaan nan steril. Campurkan hasil generate AI dengan coretan tangan Anda sendiri. Pilih font nan sedikit “berantakan”. Tambahkan tekstur nan terasa nyata. Di tahun 2026, justru ketidaksempurnaan nan disengaja itulah nan bakal menarik perhatian dan terasa paling manusiawi. Era di mana mesin dan manusia bekerja-sama untuk menciptakan sesuatu nan tidak hanya indah, tetapi juga berarti, telah resmi dimulai. Dan Canva telah memberikan peta awalnya.

Selengkapnya