Telset.id – Bayangkan Anda sedang enak-enak berselancar di internet, lampau tiba-tiba layar penuh dengan notifikasi pembaruan Windows nan terlihat sangat resmi. Stuck di 95%, meminta Anda menekan tombol ajaib untuk menyelesaikannya. Apa nan bakal Anda lakukan? Hati-hati, itu mungkin bukan Microsoft nan sedang berbicara, melainkan penjahat siber nan sedang mengulurkan jaringnya. Sebuah jenis baru malware ClickFix nan licik sedang beraksi, dan targetnya adalah kepercayaan buta pengguna terhadap proses pembaruan sistem operasi mereka.
Para peneliti keamanan dari Huntress baru-baru ini mengungkap kampanye rawan nan mengandalkan rekayasa sosial murni. Tidak ada file mencurigakan nan diunduh, tidak ada pop-up peringatan antivirus nan berteriak. Hanya sebuah laman web nan dengan sempurna meniru layar pembaruan Windows, komplit dengan bilah progres nan terhenti. Tipuannya sederhana namun efektif: memanfaatkan kebiasaan pengguna untuk alim pada perintah nan terlihat resmi. Serangan ini terutama muncul di situs-situs web berisiko tinggi, seperti laman streaming dewasa nan dipenuhi iklan dan pop-up jebakan. Cukup satu klik nan salah pada iklan alias verifikasi usia palsu, dan browser Anda bakal dikunci oleh tampilan nan dirancang untuk menimbulkan kepanikan.

Di sinilah trik psikologisnya bekerja. Layar tiruan itu kemudian memberikan instruksi: tekan Windows + R untuk membuka kotak Run, lampau tempelkan sebuah perintah unik untuk “memperbaiki” proses pembaruan nan macet. Perintah itulah nan menjadi gerbang masuk bagi malware. Begitu dijalankan, perintah tersebut secara diam-diam bakal meluncurkan mshta, sebuah perangkat bawaan Windows nan sah, untuk mengambil payload rawan dari server jarak jauh. Untuk memperumit deteksi, kode jahatnya dibungkus dengan banyak perintah sampah nan tidak berguna, termasuk string random nan aneh—salah satunya apalagi merujuk pada pidato lama PBB—yang tampaknya hanya dimaksudkan untuk membuang-buang waktu analis forensik.
Dari Gambar PNG ke Pencuri Data
Yang membikin jenis ClickFix ini begitu cerdas adalah metode penyembunyiannya. Sebagian kode rawan rupanya disembunyikan di dalam file gambar berformat PNG. Malware kemudian bakal mengekstrak shellcode tersembunyi langsung dari piksel gambar tersebut, sebuah teknik nan dikenal sebagai steganografi. Setelah sukses diekstraksi, kode itu bakal menyuntikkan dirinya ke dalam proses lain nan sedang melangkah di sistem, memanfaatkan kerangka kerja .NET untuk menyamar. Proses ini membuatnya lebih susah diidentifikasi oleh perangkat lunak keamanan tradisional.
Setelah berakar di sistem, tahap kedua serangan dimulai. Malware bakal mendownload dan menjalankan infostealer alias pencuri info tingkat lanjut, seperti Rhadamanthys alias LummaC2. Inilah tujuan akhirnya: menggasak semua info berbobot Anda. Mulai dari kata sandi nan tersimpan di browser, cookie sesi login, info kartu angsuran dan kredensial perbankan, hingga info dompet kripto. Semuanya dikumpulkan dan dikirimkan langsung ke pelaku serangan. Kampanye ini dilaporkan telah aktif sejak awal Oktober dan tetap berjalan hingga kini, dengan banyak domain tiruan nan menjadi host bagi layar pembaruan tiruan tersebut.
Pelajaran Keamanan: Jangan Pernah Percaya Buta
Inti dari serangan ini adalah pemanfaatan terhadap aspek manusia, bukan celah teknis perangkat lunak. Ini adalah pengingat keras bahwa firewall dan antivirus terhebat pun bisa dikalahkan oleh satu momen kecerobohan pengguna. Pelajaran utamanya jelas: jangan pernah menyalin dan menempelkan perintah command line dari sembarang laman web, tidak peduli seberapa resmi tampilannya. Update Windows nan sah tidak bakal pernah meminta Anda untuk membuka kotak Run dan menempelkan kode. Proses pembaruan terjadi secara otomatis melalui Windows Update alias dengan menjalankan installer nan terunduh dari situs Microsoft resmi.
Serangan semacam ini juga menunjukkan tren nan mengkhawatirkan di bumi siber, di mana platform terkenal menjadi sasaran. Seperti nan pernah terjadi di TikTok nan jadi sasaran serangan malware via video petunjuk palsu, penjahat siber terus mencari celah di mana pengguna lengah dan mudah dibujuk. Perlindungan proaktif menjadi kunci. Selalu verifikasi sumber informasi, waspada terhadap pop-up dan iklan mencurigakan di situs web nan tidak terpercaya, dan pertahankan kebiasaan siber nan sehat. Untuk transaksi online, terapkan selalu 5 tips transaksi kondusif mobile banking untuk mencegah pencurian info finansial.
Di sisi lain, pengembangan fitur keamanan oleh platform besar juga terus berlanjut. Misalnya, fitur anti-pencurian Google Identity Check nan datang di Android 16 menunjukkan upaya untuk menambal celah dari sisi autentikasi. Namun, pada akhirnya, pertahanan terkuat tetap berada di ujung jari Anda. Saat layar biru pembaruan Windows tiba-tiba muncul di tengah berselancar, tahan dulu kemauan untuk panik dan patuh. Ambil napas, tutup browser dengan paksa melalui Task Manager (Ctrl+Shift+Esc), dan jalankan pemindaian keamanan menyeluruh. Lebih baik sedikit repot memastikan daripada menyesal lantaran info krusial Anda telah beranjak tangan.