God Of War Amazon Series Dapat Order 2 Musim, Sutradara Emmy Award Siap Garap

Sedang Trending 4 minggu yang lalu

Telset.id – Setelah beberapa tahun penuh gejolak di kembali layar, penyesuaian serial TV God of War dari Amazon akhirnya menunjukkan tanda-tanda nyata untuk segera menghantam layar kaca Anda. Kabar terbaru nan cukup mengguncang adalah bahwa proyek ambisius ini tidak hanya memasuki tahap pra-produksi, tetapi juga langsung mendapat order dua musim penuh. Sebuah langkah berani nan menunjukkan sungguh yakinnya Amazon dengan potensi epik Kratos dan Atreus ini.

Menurut laporan eksklusif dari Deadline, roda produksi telah berputar di Vancouver. Dan nan lebih menarik, sosok di belakang kamera untuk dua bagian perdana bukanlah orang sembarangan. Frederick E.O. Toye, sutradara nan baru saja membawa pulang piala Emmy untuk kategori Outstanding Directing for a Drama Series berkah karyanya di serial fenomenal Shogun, bakal memegang kendali. Track record-nya berbincang sendiri: dari bumi pasca-apokaliptik Fallout, kekacauan berdarah The Boys, hingga kompleksitas futuristik Westworld. Penunjukan ini adalah sinyal kuat bahwa Amazon tidak main-main dalam menyajikan penyesuaian nan tak sekadar mengejar nama besar, tetapi juga kedalaman cerita dan kualitas sinematik.

Anda tentu ingat, gaung penyesuaian God of War pertama kali terdengar pada 2022. Namun, jalan menuju Midgard di layar rupanya tak mulus. Tahun lalu, sang showrunner awal memutuskan hengkang, menciptakan ketidakpastian. Kekosongan itu sekarang telah diisi oleh sosok nan tak kalah mumpuni: Ronald D. Moore, otak di kembali seri-seri sci-fi legendaris seperti Battlestar Galactica. Kombinasi Moore sebagai pengarah narasi dan Toye sebagai penyelenggara visual di episode-episode krusial membentuk tim imajinatif nan nyaris terlalu bagus untuk menjadi kenyataan. Ini adalah resep nan menjanjikan sebuah penyesuaian video game nan mungkin, untuk pertama kalinya, betul-betul bisa menyamai—atau apalagi melampaui—jiwa dari sumber materialnya.

Ilustrasi konsep art God of War dengan Kratos dan Atreus di alam Norse nan epik

Serial ini bakal mengadaptasi game God of War tahun 2018, sebuah titik kembali dalam franchise nan mengalihkan setting dari mitologi Yunani ke mitologi Norse. Seperti dijelaskan Amazon, inti ceritanya adalah perjalanan seorang ayah dan anak: Kratos, Dewa Perang nan penuh dendam, dan Atreus, putranya nan tetap mencari jati diri. Mereka berdua melakukan kunjungan untuk menebar abu Faye, istri dan ibu mereka. Di atas permukaan, ini adalah quest petualangan melawan monster dan dewa-dewa Norse. Namun di jantungnya, ini adalah kisah nan sangat manusiawi tentang kesedihan, penebusan, dan upaya susah untuk menjadi keluarga. Kratos berjuang mengajari putranya untuk tidak mengulangi kesalahannya nan kelam, sementara Atreus, dengan kepolosan dan kemanusiaannya, mencoba mengingatkan sang ayah bahwa tetap ada sinar di kembali kemarahan nan membara.

Saat ini, proses casting untuk dua peran sentral tersebut sedang berlangsung. Ini adalah puzzle terbesar nan kudu dipecahkan. Siapa nan cukup berkarisma dan fisiknya memadai untuk memerankan Kratos, namun juga bisa menampilkan kerapuhan di kembali mata nan dingin? Dan tokoh muda seperti apa nan bisa menghidupkan kecerdasan, rasa mau tahu, serta bentrok jiwa Atreus? Keputusan casting ini bakal menjadi penentu pertama apakah serial ini bisa menangkap prinsip hubungan nan begitu kompleks dan menyentuh itu.

Lalu, apa makna order dua musim sekaligus ini? Dalam industri streaming nan sering kali bersikap hati-hati, terutama untuk penyesuaian game, keputusan Amazon ini adalah sebuah statement of confidence. Mereka memandang lebih dari sekadar IP nan populer. Mereka memandang sebuah saga epik nan memerlukan ruang bernapas. Game 2018 dan sekuelnya, God of War Ragnarök, adalah cerita nan padat dan berlapis. Mencoba memaksanya menjadi satu musim bakal menjadi kekerasan pada narasi. Dengan dua musim, ada kesempatan untuk mendalami karakter, membangun bumi Nine Realms secara gradual, dan nan terpenting, tidak terburu-buru dalam menyajikan momen-momen intim antara Kratos dan Atreus nan justru menjadi tulang punggung kisah ini.

Kesuksesan penyesuaian video game ke layar lebar alias serial memang bukan jaminan. Banyak nan kandas lantaran terlalu jauh menyimpang alias justru terlalu kaku. Namun, gelombang baru nan dipelopori oleh serial seperti The Last of Us dan Fallout—yang kebetulan juga melibatkan Toye—telah membuktikan bahwa formula nan tepat adalah menghormati inti cerita original sembari memanfaatkan kekuatan medium baru. God of War mempunyai bahan baku nan sempurna: bentrok family universal nan dibungkus dalam petualangan khayalan nan megah. Tantangannya sekarang ada pada tim imajinatif untuk menerjemahkan “feel” dari game—kombinasi antara pertarungan brutal, puzzle lingkungan, dan narasi nan terpancar dari setiap interaksi—ke dalam bahasa televisi.

Dengan kekuatan finansial Amazon, talenta imajinatif pemenang Emmy di bangku sutradara, dan narasi nan sudah terbukti menggugah jutaan pemain game, penyesuaian serial God of War ini mungkin sedang berada di jalur nan tepat. Ini bukan lagi sekadar rumor alias angan-angan. Ini adalah proyek nyata nan sedang dikerjakan oleh orang-orang terbaik di bidangnya. Pertanyaannya sekarang bukan lagi “apakah bakal dibuat?”, melainkan “seberapa dahsyat hasil akhirnya nanti?” Untuk para fans nan telah menanti, berita order dua musim dan kehadiran Frederick E.O. Toye ini adalah berita angin sepoi-sepoi nan membawa harapan, tepat sebelum angin besar petualangan Kratos dan Atreus menerjang layar kaca Anda. Sementara menunggu casting resmi diumumkan, kita bisa berambisi bahwa proyek ambisius lainnya di bumi hibtech juga melangkah mulus, seperti nan terlihat dari upaya menjalankan iPadOS 26 di iPhone 17 Pro Max alias penemuan di perangkat mobile seperti bocoran baterai raksasa dan fast charging 100W untuk Poco X8 Pro. Dunia teknologi dan intermezo memang tak pernah berakhir berinovasi, dan perangkat seperti AI Stupid Meter pun datang untuk mengawasi perkembangan salah satu penggeraknya: kepintaran buatan.

Selengkapnya