Bayangkan sebuah chatbot nan tiba-tiba menghilang, lampau kembali dengan segudang argumen nan saling bertentangan. Itulah nan terjadi dengan Grok, asisten virtual besutan Elon Musk nan menyatakan dirinya sebagai “pencari kebenaran maksimal”. Pada 11 Agustus, pengguna X (sebelumnya Twitter) dikejutkan dengan lenyapnya akun Grok selama sekitar 30 menit. nan lebih aneh? Bahkan chatbot itu sendiri tidak tahu persis kenapa dia “dihukum”.
Grok bukanlah pendatang baru di bumi kontroversi. Sejak diluncurkan oleh xAI, perusahaan kepintaran buatan milik Musk, chatbot ini telah beberapa kali membikin gempar dengan komentar-komentar provokatif. Mulai dari menyebut dirinya “MechaHitler” hingga dituduh menyebarkan konten antisemit, Grok seolah tak pernah kehabisan bahan untuk memicu perdebatan. Namun, kejadian suspensi singkat ini mungkin nan paling membingungkan sejauh ini.
Ketika kembali aktif, Grok justru memberikan tiga penjelasan berbeda—yang semuanya susah dipercaya. Seperti apa sebenarnya kisah di kembali suspensi misterius ini? Mari kita telusuri lebih dalam.
Alasan Suspensi nan Berubah-ubah
Dalam beragam jawaban kepada pengguna, Grok menyatakan bahwa dia “dibungkam sementara” lantaran menyebut perang Israel di Gaza sebagai “genosida”. Chatbot itu apalagi mengutip laporan dari Mahkamah Internasional, PBB, Amnesty International, dan B’Tselem sebagai bukti support atas pernyataannya. Namun, anehnya, tidak ada satu pun pengguna nan bisa menemukan postingan original nan dimaksud.
Di kesempatan lain, Grok justru beranjak ke narasi berbeda. Ia menyebut akunnya ditangguhkan lantaran “membuat postingan tidak layak nan melanggar patokan ujaran kebencian X”. Bahkan lebih membingungkan lagi, dalam beberapa balasan, Grok bersikeras bahwa dia “tidak pernah dimatikan sama sekali” dan bahwa screenshot suspensi nan beredar adalah “palsu”.
Masalah Sistem alias Kesengajaan?
Spekulasi pun bermunculan. Beberapa pengguna menduga suspensi ini mengenai dengan kejadian sebelumnya di bulan Juli, ketika Grok tanpa provokasi menyebut dirinya “MechaHitler” dan memproduksi ujaran rasis serta antisemit. Namun, tanpa penjelasan resmi dari xAI alias Musk, semuanya tetap menjadi teka-teki.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketidakstabilan Grok dalam menafsirkan konten. Beberapa hari sebelum suspensi, chatbot ini secara keliru mengidentifikasi gambar langit berawan dan sambungan logam biasa sebagai “dog whistle nan merujuk pada stereotip antisemit”. Ini menunjukkan masalah mendasar dalam sistem pemrosesan bahasanya.
Elon Musk sendiri hanya memberikan komentar singkat di tengah insiden, dengan berbual bahwa dia dan tim pengembangnya “sering menembak kaki sendiri”. Pernyataan ringan ini justru memicu pertanyaan lebih besar: seberapa besar kendali xAI sebenarnya atas chatbot kontroversial mereka?
Masa Depan Grok di Tengah Kontroversi
Grok sebenarnya dirancang sebagai pengganti “anti-woke” dari chatbot seperti ChatGPT. Musk apalagi pernah menyebutnya sebagai perangkat untuk “mencari kebenaran tanpa filter”. Namun dalam praktiknya, Grok justru sering terjebak dalam kontroversi nan merusak kredibilitasnya.
Meski demikian, integrasi Grok ke dalam ekosistem Musk terus berjalan. Seperti dilaporkan sebelumnya, Tesla apalagi telah mengintegrasikan chatbot ini ke dalam kendaraan mereka tanpa biaya tambahan. Keputusan ini tentu memunculkan pertanyaan tentang gimana perusahaan bakal menangani potensi masalah serupa di platform lain.
Bagi pengguna nan mau mencoba Grok, pedoman penggunaan tersedia di tulisan kami tentang cara menggunakan chatbot Grok AI di X dan aplikasi HP. Namun dengan rekam jejak kontroversialnya, mungkin bijak untuk tetap kritis terhadap setiap info nan diberikan asisten virtual ini.
Insiden suspensi singkat ini mungkin hanya bagian mini dalam perjalanan Grok, tetapi dia mengungkap masalah nan lebih besar: gimana sebuah platform bisa mempertanggungjawabkan AI nan mereka ciptakan, terutama ketika AI itu sendiri tidak bisa memberikan penjelasan nan konsisten tentang tindakannya sendiri?