Telset.id – Dalam pertarungan norma nan semakin memanas antara perusahaan teknologi raksasa dan startup, Cameo justru sukses mengunci kemenangan sementara melawan OpenAI. Bagaimana sebuah aplikasi nan mempertemukan fans dengan selebritas bisa membikin raksasa AI seperti OpenAI kudu menelan pil pahit kekalahan di pengadilan?
Bagi Anda nan mengikuti perkembangan bumi AI, pasti sudah tak asing dengan beragam kontroversi nan menyelimuti OpenAI. Namun kali ini, perusahaan nan dikenal dengan ChatGPT itu kudu berhadapan dengan tuntutan norma serius dari Cameo, platform nan memungkinkan pengguna membeli video individual dari selebritas favorit mereka. Keputusan pengadilan federal Amerika Serikat nan dikeluarkan Senin lampau menjadi babak baru dalam perseteruan merek jual beli di era teknologi modern.

Hakim federal Eumi K. Lee memberikan kemenangan signifikan bagi Cameo dengan mengeluarkan perintah pembatasan sementara terhadap OpenAI. Hingga 22 Desember mendatang, OpenAI dilarang menggunakan kata “cameo” dalam kaitannya dengan fitur apa pun di dalam Sora, aplikasi kreator video berbasis AI nan mirip TikTok. nan menarik, larangan ini tidak hanya mencakup kata “cameo” saja, tetapi juga ragam serupa seperti “Kameo” dan “CameoVideo”.
Steven Galanis, CEO Cameo, tidak menyembunyikan rasa puasnya dengan keputusan pengadilan. Dalam pernyataannya kepada CNBC, Galanis menyatakan, “Kami berterima kasih dengan keputusan pengadilan, nan mengakui kebutuhan untuk melindungi konsumen dari kebingungan nan diciptakan OpenAI dengan menggunakan merek jual beli Cameo.” Meskipun mengakui bahwa perintah pengadilan ini berkarakter sementara, Galanis berambisi OpenAI bakal setuju untuk berakhir menggunakan merek mereka secara permanen guna menghindari kerugian lebih lanjut bagi publik maupun Cameo.
Di sisi lain, OpenAI tampaknya tidak beriktikad menyerah begitu saja. Juru bicara OpenAI nan berbincang dengan Engadget menyatakan penolakan terhadap klaim Cameo: “Kami tidak setuju dengan klaim dalam gugatan bahwa siapa pun dapat menyatakan kepemilikan eksklusif atas kata ‘cameo’, dan kami berambisi dapat terus menyampaikan kasus kami ke pengadilan.” Pernyataan ini menunjukkan bahwa pertempuran norma ini tetap jauh dari kata selesai.
Akar persoalan ini sebenarnya sudah berjalan sejak Oktober lalu, ketika Cameo menggugat OpenAI dengan klaim bahwa penggunaan istilah “cameo” oleh perusahaan AI tersebut berpotensi membingungkan konsumen dan melemahkan merek mereka. nan menjadi pertanyaan: kenapa sebuah kata nan terkesan biasa bisa memicu pertarungan norma sedemikian sengit?
Galanis mengungkapkan bahwa sebelum mengusulkan gugatan, Cameo telah berupaya menyelesaikan sengketa ini secara “damai”. Namun upaya tersebut tampaknya tidak membuahkan hasil, lantaran OpenAI disebut menolak untuk berakhir menggunakan nama tersebut. Fitur cameo dalam Sora memungkinkan pengguna mengunggah kemiripan wajah mereka ke aplikasi, nan kemudian dapat digunakan orang lain dalam video mereka sendiri.
Pertarungan norma ini terjadi di tengah beragam masalah nan dihadapi OpenAI. Seperti nan pernah kami laporkan dalam artikel sebelumnya, perusahaan ini tengah menghadapi kerugian finansial nan tidak main-main. Kerugian mencapai Rp 12 triliun dengan biaya operasional Sora nan mencapai Rp 15 miliar per hari membikin posisi OpenAI dalam negosiasi mungkin tidak sekuat nan dibayangkan.
Persoalan kewenangan cipta dan kontroversi sepertinya menjadi makanan sehari-hari bagi OpenAI belakangan ini. Seperti nan terungkap dalam laporan kami tentang protes Jepang, training Sora 2 dengan konten berkuasa cipta telah memicu reaksi keras dari beragam pihak. Kini, dengan kasus Cameo ini, beban norma nan kudu ditanggung OpenAI semakin bertumpuk.
Fitur cameo dalam Sora sendiri sebenarnya menawarkan keahlian nan cukup menarik bagi pengguna. Seperti nan pernah kami telaah dalam artikel tentang fitur cameo karakter, teknologi ini memungkinkan pengguna membikin video AI dengan wajah hewan piaraan alias karakter lainnya. Namun di kembali kemudahan nan ditawarkan, rupanya tersimpan masalah norma nan tidak sederhana.
Hakim Lee telah menjadwalkan sidang lanjutan pada 19 Desember untuk menentukan apakah perintah pembatasan ini kudu dibuat permanen. Keputusan nan bakal diambil dalam sidang tersebut kemungkinan bakal menjadi preseden krusial dalam perlindungan merek jual beli di era teknologi AI. Bagaimana pengadilan bakal memutuskan antara kewenangan kekayaan intelektual sebuah perusahaan versus penggunaan kata nan dianggap umum oleh perusahaan lain?
Yang patut dicermati, kasus ini bukan hanya tentang dua perusahaan nan berseteru, tetapi juga tentang gimana teknologi AI modern berinteraksi dengan norma nan ada. Dalam analisis mendalam tentang kontroversi Sora 2, kami telah mengungkap gimana teknologi AI generasi terbaru ini memicu kekhawatiran serius tentang deepfake dan pelanggaran kewenangan cipta.
Masalah penggunaan teknologi AI untuk tujuan nan tidak semestinya juga semakin mengemuka. Seperti nan kami laporkan dalam artikel tentang penyalahgunaan Sora 2, teknologi ini telah disalahgunakan untuk stalking dan pembuatan deepfake nan menakut-nakuti privasi dan keamanan pengguna.
Pertanyaannya sekarang: apakah kemenangan sementara Cameo ini bakal menjadi awal dari rangkaian masalah norma lainnya bagi OpenAI? Atau justru menjadi momentum bagi perusahaan untuk lebih berhati-hati dalam mengembangkan dan memberi nama fitur-fitur baru mereka? nan pasti, bumi sedang menyaksikan gimana norma berupaya mengejar laju perkembangan teknologi nan begitu cepat.
Bagi para pengguna dan pengamat teknologi, kasus ini menjadi pelajaran berbobot tentang pentingnya memperhatikan aspek legal dalam penemuan teknologi. Di satu sisi, kita mau memandang kemajuan teknologi nan pesat, tetapi di sisi lain, perlindungan terhadap kewenangan kekayaan intelektual dan konsumen tetap kudu dijaga. Mampukah norma nan ada mengimbangi penemuan nan bergerak dengan kecepatan cahaya? Jawabannya bakal terungkap dalam sidang 19 Desember mendatang.