Telset.id – CEO OpenAI Sam Altman menyatakan dirinya tidak bisa membayangkan membesarkan anak tanpa support chatbot AI ChatGPT. Pernyataan kontroversial ini disampaikannya dalam penampilan perdana di aktivitas The Tonight Show berbareng Jimmy Fallon, Senin (9/12/2024), nan langsung memicu reaksi skeptis dari publik dan peringatan serius dari para peneliti tentang akibat berjuntai pada AI untuk pengasuhan anak.
Dalam wawancara tersebut, Altman menyatakan bahwa meskipun manusia telah sukses membesarkan anak selama beratus-ratus tahun tanpa AI, dirinya sendiri sangat berjuntai pada ChatGPT. “Saya tidak bisa membayangkan telah melalui proses mencari tahu langkah membesarkan bayi baru lahir tanpa ChatGPT,” ujarnya kepada Fallon. “Jelas, orang melakukannya sejak dulu — tanpa masalah. Tapi saya sangat mengandalkannya.”
Altman memberikan contoh konkret, seperti menanyakan kepada ChatGPT kenapa anak laki-lakinya nan tetap bayi terus “menjatuhkan pizza ke lantai dan tertawa.” Ia apalagi mengaku pernah berlindung di bilik mandi selama sebuah aktivitas sosial hanya untuk bertanya pada tool AI tersebut apakah normal jika anaknya belum bisa melangkah di usia enam bulan. Pengakuan ini mengejutkan mengingat rekam jejak ChatGPT nan sering kali memberikan info nan tidak jeli alias menyesatkan.
Peringatan Peneliti: AI Bukan Pengganti Ahli
Klaim Altman nan terdengar seperti candaan ringan dalam talk show itu justru menyentuh rumor nan jauh lebih serius. Para peneliti telah lama memperingatkan ancaman dari ketergantungan berlebihan pada model bahasa besar (LLM) seperti ChatGPT, khususnya dalam konteks kesehatan dan pengasuhan anak. Sebuah studi tahun 2024 nan dipimpin oleh Calissa Leslie-Miller, kandidat ahli di University of Kansas, menyoroti “kebutuhan kritis bakal pengawasan mahir terhadap ChatGPT” untuk “melindungi info perawatan kesehatan anak.”
Tim peneliti menemukan bahwa orang tua nan berperan-serta dalam penelitian kesulitan membedakan antara saran medis nyata dari para mahir dan saran nan tidak terverifikasi nan dihasilkan oleh ChatGPT. “Selama penelitian, beberapa perulangan awal output AI mengandung info nan salah,” kata Leslie-Miller. “Ini mengkhawatirkan karena, seperti nan kita tahu, perangkat AI seperti ChatGPT rentan terhadap ‘halusinasi’ — kesalahan nan terjadi ketika sistem kekurangan konteks nan memadai.”
Nicholas Jacobson, guru besar madya pengetahuan info biomedis di Dartmouth College, menggarisbawahi bahwa model AI umum tidak dilatih dengan pengetahuan pengasuhan nan tervalidasi. “Saran mereka bisa generik, salah, alias mencerminkan bias dalam info training mereka — ialah internet terbuka,” jelasnya kepada majalah Parents bulan lalu. “AI tidak mengenal anak Anda, family Anda, alias situasinya. Ia tidak dapat mereplikasi penilaian klinis master alias pengetahuan intuitif mendalam nan dimiliki seorang orang tua.”
Trend Orangtua Mengandalkan Chatbot dan Risikonya
Meski menyimpan akibat paparan info berbahaya, faktanya semakin banyak orang tua nan beranjak ke ChatGPT untuk mencari nasihat. “Mengingat seberapa sigap alat-alat ini diadopsi di mana-mana, kondusif untuk mengatakan bahwa sejumlah besar dan terus bertambahnya orang tua menggunakannya,” kata Nicholas Jacobson.
Psikolog remaja Sophie Pierce menambahkan bahwa orang tua baru berbagi pengalaman menggunakan chatbot AI untuk lebih memahami perilaku bayi, mendukung rutinitas tidur dan makan, serta meningkatkan ikatan dengan bayi baru lahir. “Yang lain beranjak ke AI untuk menafsirkan catatan master anak, melacak tonggak perkembangan, alias mengatasi tantangan perilaku,” ujarnya.
Para mahir mencatat bahwa orang tua sering mencari solusi sigap ketika menghadapi tingkat stres nan tinggi. Sayangnya, chatbot telah terbukti memberikan banyak info nan bertentangan dan terkadang apalagi saling bertolak belakang, menggarisbawahi kebutuhan mendesak bakal masukan dari mahir manusia nan sesungguhnya. Fenomena ketergantungan pada AI untuk tugas-tugas kompleks seperti pengasuhan juga terlihat di platform lain, seperti upaya Facebook nan menghadirkan fitur AI baru untuk hubungan komunitas.
Kekhawatiran serupa juga muncul di ranah perangkat keras, di mana integrasi AI nan mendalam, seperti fitur AI terbaru di Google Pixel 9, menawarkan kemudahan tetapi juga menuntut kehati-hatian pengguna. Uji coba chatbot AI kepada pengguna setia, seperti nan dilakukan Google dengan membujuk Pixel Superfans menjajal Bard, menunjukkan gimana perusahaan teknologi aktif mempromosikan penggunaan alat-alat ini.
Reaksi di media sosial terhadap pernyataan Altman beragam, mulai dari rasa tidak percaya hingga kemarahan. Seorang pengguna dengan sarkastis menyoroti, “Sam Altman nyaris pasti mempunyai pengasuh penuh waktu nan tidak berkonsultasi dengan ChatGPT.” Kritikus AI Ed Zitron berkomentar bahwa penampilan Altman di aktivitas Fallon mencerminkan tahap keputusasaan OpenAI, nan saat ini menghadapi persaingan ketat dari Google dan tekanan penanammodal lantaran membakar miliaran dolar tanpa ujung nan jelas. “Mereka tidak tahu lagi kudu melakukan apa,” tulis Zitron.
Klaim Altman bahwa membesarkan anak tanpa ChatGPT adalah perihal nan mustahil bukan hanya merupakan pernyataan nan berlebihan, tetapi juga berpotensi mengirimkan pesan nan salah kepada jutaan orang tua. Di tengah maraknya penggunaan teknologi AI, krusial untuk diingat bahwa chatbot, sehebat apa pun, bukanlah pengganti untuk skill manusia, hatikecil keibuan/pengasuhan, dan konsultasi ahli nan terverifikasi, terutama dalam perihal nan menyangkut kesehatan dan perkembangan anak.