Spry Fox Keluar Dari Netflix, Studio Cozy Grove Kembali Independen

Sedang Trending 4 minggu yang lalu

Telset.id – Dunia game Netflix kembali diguncang perubahan. Kali ini, bukan sekadar studio nan ditutup, melainkan sebuah “perceraian” nan cukup unik. Spry Fox, developer di kembali game-game cozy seperti Cozy Grove dan Alphabear, secara resmi meninggalkan naungan Netflix. Namun, berbeda dengan nasib tragis studio lain seperti Team Blue alias Boss Fight Entertainment nan langsung ditutup, Spry Fox justru dibeli kembali oleh pendiri aslinya dan bakal beraksi sebagai perusahaan independen. Lantas, apa nan sebenarnya terjadi di kembali layar strategi gaming Netflix nan terus bergeser ini?

Berdasarkan laporan dari Game File, transaksi ini memungkinkan Spry Fox untuk melanjutkan pengembangan game simulasi kehidupan desa kooperatif terbarunya, Spirit Crossing. nan menarik, Netflix tidak sepenuhnya melepas tangan. Raksasa streaming tersebut bakal tetap terlibat sebagai penerbit Spirit Crossing unik untuk platform mobile. Sementara itu, sang pendiri, David Edery dan Daniel Cook, bebas mencari penerbit lain untuk jenis konsol dan PC dari game tersebut. Ini seperti hubungan upaya nan berubah bentuk: dari anak perusahaan menjadi mitra strategis terbatas. Namun, di kembali berita “kebebasan” ini, ada bayang-bayang ketidakpastian. Laporan nan sama menyebut bahwa pemutusan hubungan kerja (PHK) di Spry Fox tetap mungkin terjadi, dan studio perlu mencari pendanaan tambahan untuk keberlangsungan jangka panjang.

Netflix mengakuisisi Spry Fox pada tahun 2022, dalam gelombang ekspansi garang mereka ke bumi gaming di bawah ketua Mike Verdu, mantan pelaksana EA. Saat itu, strateginya jelas: mengakuisisi studio berbakat, mendanai proyek-proyek orisinal, dan melisensikan beragam game mobile untuk dinikmati pengguna Netflix. Cozy Grove 2, nan dirilis awal 2024, adalah buah pertama dari akuisisi ini. Namun, angin berubah ketika Alain Tascan dari Epic Games mengambil alih kendali bagian game Netflix. Fokusnya bergeser drastis. Kini, Netflix Games lebih mengutamakan game nan berbasis IP Netflix sendiri, game-game sosial alias pesta (party games), dan proyek-proyek nan dianggap sebagai “known quantities” alias peralatan dagangan nan sudah dikenal pasar.

Di sinilah Spirit Crossing mulai terasa tidak nyaman. Diumumkan secara resmi Maret lalu, game ini digadang-gadang sebagai upaya ambisius untuk menyatukan komponen simulasi kehidupan cozy ala Animal Crossing: New Horizons dengan pengalaman sosial online layaknya MMO seperti World of Warcraft. Sebuah visi nan menarik, tetapi rupanya tidak lagi selaras dengan peta jalan baru Tascan. Spirit Crossing bukan game berasas IP Netflix (seperti Stranger Things), bukan game pesta sederhana, dan juga bukan waralaba nan sudah mapan. Ia terjebak di antara kategori, dan dalam strategi baru nan lebih ketat, perihal itu bisa menjadi argumen nan cukup untuk berpisah jalan.

Kembalinya Spry Fox sebagai studio independen memang terdengar seperti akhir nan lebih senang dibandingkan dengan penutupan paksa. Setidaknya, Spirit Crossing tetap punya napas untuk hidup. Namun, kebebasan itu datang dengan tanggung jawab finansial nan besar. Sebagai bagian dari Netflix, studio tidak perlu pusing memikirkan monetisasi; semua game bisa diakses cuma-cuma oleh pelanggan. Kini, sebagai entitas mandiri, Spry Fox kudu memutar otak gimana Spirit Crossing bisa menghasilkan duit setelah dibeli pemain. Apakah bakal ada battle pass, kosmetik berbayar, alias ekspansi berbayar? Perubahan kreasi untuk menampung model upaya baru sangat mungkin terjadi, dan ini bisa menjadi ujian berat bagi tim nan dikenal dengan karya-karya nan hangat dan tanpa tekanan monetisasi agresif.

Fenomena ini mengingatkan kita pada dinamika industri game nan keras. Nasib studio imajinatif seringkali berjuntai pada selera dan strategi korporat nan bisa berubah secepat kilat. Seperti nan terjadi pada Santa Ragione nan terancam tutup akibat kebijakan Steam, tekanan eksternal bisa datang dari mana saja. Dalam kasus Spry Fox, tekanan itu datang dari perubahan arah internal perusahaan induknya sendiri. Ini adalah pengingat bahwa akuisisi oleh raksasa teknologi tidak selalu menjadi agunan stabilitas, meski awalnya terlihat seperti mimpi nan menjadi kenyataan.

Lalu, apa artinya bagi kita, para pemain? Bagi fans Cozy Grove, mungkin tidak banyak nan berubah lantaran waralaba tersebut sudah berada di bawah Netflix. Namun, untuk Spirit Crossing, masa depannya sekarang lebih terbuka namun juga lebih berisiko. Game itu bisa jadi lebih ambisius lantaran bebas dari batas strategi Netflix, alias justru terpaksa dikompromikan untuk mencari celah monetisasi. Keberhasilan Spry Fox mencari penerbit untuk jenis PC dan konsol bakal menjadi kunci. Apakah bakal ada publisher besar nan tertarik dengan visi “cozy MMO” nan niche ini, alias justru mereka kudu kembali ke skala nan lebih kecil?

Perpisahan ini juga menjadi sinyal jelas tentang prioritas Netflix Games ke depan. Mereka tampaknya sedang membersihkan dek, berfokus pada proyek-proyek nan langsung selaras dengan kekuatan inti mereka: IP dan audiens massal. Ini adalah langkah upaya nan logis, meski terasa pahit bagi studio nan visinya tidak lagi sejalan. Bagi Netflix, ini mungkin langkah efisiensi. Bagi Spry Fox, ini adalah ujian nyata untuk memperkuat hidup di pasar nan kompetitif dengan identitas aslinya. Bagaimanapun, kita hanya bisa berambisi bahwa “kebebasan” ini bakal melahirkan karya terbaik mereka, dan Spirit Crossing tidak hanya menjadi sekadar konsep ambisius nan tenggelam dalam gejolak bisnis.

Jadi, sementara Netflix mungkin sedang sibuk menyiapkan game Stranger Things berikutnya alias game pesta untuk menemani nonton movie di layar lebar Samsung Galaxy Z Fold6, Spry Fox bakal berjuang sendirian di rimba raya industri game. Perjalanan mereka ke depan layak untuk diikuti, bukan hanya sebagai kisah studio nan “keluar dari Netflix”, tetapi sebagai gambaran nyata tentang sungguh rapuhnya produktivitas dalam menghadapi perubahan strategi korporat. Semoga mereka sukses menemukan penerbit nan tepat, lantaran bumi game selalu memerlukan lebih banyak warna dan kehangatan, di tengah maraknya game-game kompetitif nan memacu adrenalin. Siapa tahu, mungkin suatu hari kelak kita bakal memandang Spirit Crossing menjadi hits indie nan dimainkan di Acer Swift X 14 nan ringkas namun galak performanya.

Selengkapnya