Anda membeli ponsel flagship dengan nilai selangit, menunggu dengan deg-degan, dan membuka kotaknya dengan penuh harap. nan Anda inginkan adalah kesempurnaan—sebuah mahakarya teknologi nan terasa solid dan premium di genggaman. Namun, apa jadinya jika komponen kreasi paling ikonik pada perangkat tersebut justru terasa goyah dan kurang presisi? Inilah dilema awal nan dihadapi oleh segelintir pembeli pertama Xiaomi 17 Ultra Leica Edition di China.
Xiaomi 17 Ultra Leica Edition baru saja diluncurkan dengan sorotan utama pada kemampuannya di bagian fotografi, berkah kerjasama intens dengan Leica. Ponsel ini diposisikan sebagai senjata pamungkas bagi para pembuat dan fans fotografi mobile. Salah satu fitur bentuk nan paling mencolok dan dipromosikan adalah “Master Zoom Ring”—sebuah cincin bentuk nan mengelilingi modul kamera, dirancang untuk memberikan kontrol manual nan intuitif seperti pada lensa kamera profesional. Cincin ini bukan sekadar hiasan; dia adalah pusat dari pengalaman “feel” fotografi nan mau dihadirkan Xiaomi.
Namun, di kembali antusiasme peluncuran, muncul berita nan sedikit mengganggu. Beberapa unit nan sampai di tangan konsumen pertama dikabarkan mempunyai masalah pada ring kamera tersebut. Alih-alih memberikan sensasi klik nan mantap dan presisi, ring pada beberapa unit dilaporkan terasa “longgar” alias “goyang”. Laporan ini, meski belum masif, cukup untuk mempertanyakan kontrol kualitas pada batch produksi awal perangkat nan sangat premium ini.
Laporan dari Lapangan: Cincin nan Tak Beken
Seorang pengguna X dengan akun @Devinarde membagikan klip video pendek nan menunjukkan kejadian tersebut. Dalam video itu, terlihat sentuhan lembut pada “Master Zoom Ring” dapat menyebabkan sedikit goyangan alias wobble. nan menjadi perhatian, @Devinarde menegaskan bahwa masalah ini dilaporkan terjadi pada unit nan baru dibuka dari segelnya, bukan akibat kerusakan bentuk selama penggunaan alias pengiriman. “Beberapa pembeli jenis Leica melaporkan menerima unit dengan ring kamera nan ‘goyang’ alias lenggang langsung dari kotaknya,” tulisnya menanggapi sebuah komentar.
Namun, krusial untuk dicatat bahwa keluhan ini tidak tampak meluas. @Devinarde sendiri menyatakan bahwa unit jenis Leica nan dia pegang terasa kokoh, tanpa ada kelonggaran nan terasa pada ring kameranya. Ini mengindikasikan bahwa masalah tersebut mungkin terjadi pada batch alias unit tertentu, bukan sebagai abnormal kreasi nan melekat pada semua produk. Meski demikian, bagi pengguna nan terkena dampak, masalah mini pada fitur jagoan ini terasa seperti pengalaman premium nan ternoda.
Bukan Soal Kinerja, Tapi Soal Rasa dan Presisi
Yang menarik dari kasus ini adalah konsentrasi kritiknya. Tidak ada nan mempersoalkan keahlian kamera dari Xiaomi 17 Ultra Leica Edition itu sendiri. Ulasan awal justru tetap memuji color science dan keahlian tangkapan gambarnya. Masalahnya murni pada aspek “fit and finish”—kerapatan, presisi, dan kualitas penyambungan material. Pada tingkat nilai flagship, konsumen mempunyai ekspektasi nan sangat tinggi terhadap detail-detail semacam ini. Cincin nan goyah, sekecil apapun, dapat mengurangi kesan mewah dan kokoh nan semestinya melekat pada perangkat bercap “Ultra” dan “Leica”.
Fitur bentuk seperti “Master Zoom Ring” sejatinya adalah pembeda emosional. Ia datang untuk disentuh, diputar, dan dirasakan. Ia adalah penghubung antara pengguna dan perangkat kreatifnya. Ketika komponen tersebut tidak terasa sempurna, dia tidak hanya kandas memenuhi angan fungsional, tetapi juga angan emosional. Inilah nan membikin laporan-laporan ini signifikan, meski jumlahnya terbatas.
Peringatan untuk Pembeli Import: Periksa Sebelum Terlambat
Bagi konsumen di luar China nan tertarik dengan Xiaomi 17 Ultra Leica Edition, info ini menjadi pertimbangan nan cukup krusial. Mengingat ponsel ini belum tersedia secara resmi di banyak pasar global, banyak nan memilih untuk membeli melalui jalur impor grey-market dari retailer seperti TradingShenzhen, Wondamobile, Trinity Electronics di Hong Kong, alias Average Dad Shop di UK dan UAE. Retailer ini umumnya menawarkan agunan sekitar satu tahun, namun dengan kebijakan pengembalian nan jauh lebih ketat dibandingkan saluran resmi di Uni Eropa, misalnya.
Dengan adanya potensi masalah pada ring kamera di batch awal, membeli via impor menambah lapisan risiko. Masa tenggang untuk memeriksa perangkat dan mengusulkan klaim sangat terbatas. Oleh lantaran itu, sangat disarankan untuk segera memeriksa kondisi bentuk “Master Zoom Ring” begitu unit diterima. Uji apakah ada kelonggaran alias goyangan nan tidak wajar. Tindakan preventif ini bisa menyelamatkan Anda dari kekecewaan di kemudian hari.
Xiaomi sendiri kemungkinan besar bakal menyelesaikan masalah ini pada rangkaian produksi berikutnya. Perusahaan dengan volume produksi sebesar Xiaomi biasanya sigap merespons temuan kualitas di batch awal. Namun, stok ritel nan sudah beredar saat ini berpotensi membawa akibat tersebut. Ini adalah trade-off klasik dalam bumi gadget: mengimpor lebih awal untuk mendapatkan hardware terbaru, alias menunggu kesiapan nan lebih luas melalui saluran resmi untuk ketenangan pikiran dan perlindungan konsumen nan lebih baik.
Konteks Persaingan nan Ketat
Kejadian ini terjadi di tengah persaingan ketat pasar flagship global. Xiaomi terus berupaya mengukuhkan posisinya di puncak, tidak hanya melalui spesifikasi mentah tetapi juga melalui pengalaman pengguna dan kualitas bangunan nan premium. Dalam pertarungan melawan raksasa seperti Samsung Galaxy S25 Ultra, perincian sekecil apapun menjadi penentu. Samsung telah lama membangun reputasi untuk build quality nan konsisten dan presisi. Masalah pada fitur bentuk andalan, meski minor, dapat memberikan kesempatan bagi pesaing untuk menonjolkan kelebihan mereka dalam perihal finishing dan kontrol kualitas.
Demikian pula, ketika dibandingkan dengan pendekatan berbeda dari pesaing seperti OnePlus nan mungkin lebih konsentrasi pada responsivitas sistem, Xiaomi 17 Ultra jelas menempatkan kamera dan pengalaman fotografi sebagai senjata utama. Jika senjata utama tersebut mempunyai kelemahan pada aspek tactile-nya, maka nilai jual utamanya sedikit tercoreng.
Episode “ring kamera goyang” pada Xiaomi 17 Ultra Leica Edition ini mengingatkan kita bahwa dalam bumi teknologi high-end, kesempurnaan tidak hanya ada di dalam chipset alias perangkat lunak, tetapi juga pada gimana setiap komponen bentuk dirangkai dan dirasakan. Bagi Xiaomi, ini adalah ujian mini dalam perjalanan panjang kerjasama dengan Leica—sebuah partnership nan tidak hanya tentang software dan tuning warna, tetapi juga tentang warisan presisi optik dan mekanik Jerman. Ekspektasi konsumen terhadap perangkat nan membawa nama Leica secara otomatis lebih tinggi, termasuk dalam perihal kualitas material dan pengerjaan.
Bagi calon pembeli, cerita ini adalah pengingat untuk selalu waspada, terutama ketika membeli produk generasi pertama alias dari batch awal. Selalu luangkan waktu untuk inspeksi menyeluruh. Bagi industri, ini adalah pelajaran bahwa di era di mana spesifikasi mudah disamai, kelebihan kompetitif nan sebenarnya justru terletak pada hal-hal nan paling sederhana: konsistensi, perhatian terhadap detail, dan kualitas bangunan nan tak tergoyahkan—sesuai dengan namanya, “Ultra”.