Telset.id – Pernahkah Anda membayangkan sebuah bumi virtual di mana kita bekerja, bersosialisasi, dan menghabiskan sebagian besar hidup digital? Itulah visi “metaverse” nan diusung Mark Zuckerberg dengan begitu gegap gempita, hingga mengubah nama perusahaan induk FB menjadi Meta pada 2021. Namun, empat tahun kemudian, mimpi besar itu tampaknya kudu berhadapan dengan realitas nan lebih keras. Laporan terbaru dari Bloomberg mengungkapkan rencana Meta untuk melakukan pemotongan anggaran nan signifikan—hingga 30%—pada bagian metaverse mereka. Ini bukan sekadar penghematan biasa; ini adalah sinyal koreksi arah nan dramatis dari salah satu proyek teknologi paling ambisius dasawarsa ini.
Pemotongan drastis ini, nan rencananya bakal berakibat pada produk seperti platform virtual Meta Horizon Worlds dan headset realitas virtual Quest, dibahas dalam serangkaian pertemuan di kediaman Zuckerberg di Hawaii. nan menarik, laporan tersebut menyebut bahwa bagian metaverse diminta untuk melakukan pemotongan nan “lebih dalam dari rata-rata” bagian lain. Permintaan ini bukan tanpa alasan. Data berbincang jelas: divisi Reality Labs, rumah bagi pengembangan metaverse, telah mencatatkan kerugian kumulatif lebih dari $70 miliar sejak 2021. Sebuah nomor dahsyat nan apalagi untuk standar raksasa teknologi sekalipun.
Antara Keyakinan dan Kenyataan: Jarak nan Masih Terlalu Jauh
Laporan Bloomberg mengisyaratkan bahwa Zuckerberg sendiri tetap percaya bahwa suatu hari kelak orang bakal menghabiskan sebagian besar waktu mereka di bumi virtual. Keyakinan ini adalah fondasi filosofis dari rebranding besar-besaran nan dulu dilakukan. Namun, pemotongan anggaran ini adalah pengakuan terselubung bahwa “suatu hari nanti” itu tetap sangat jauh—mungkin bertahun-tahun, apalagi berpuluh tahun—dari kenyataan. Jarak antara visi dan mengambil massal rupanya lebih lebar dari nan diperkirakan.
Investor, nan telah lama memandang metaverse sebagai lubang hitam keuangan, tentu menyambut berita penghematan ini dengan lega. Di sisi lain, konsumen juga belum sepenuhnya menerima konsep metaverse sebagaimana nan dibayangkan Meta. Membeli headset VR untuk bermain game seperti Beat Saber atau Half-Life: Alyx adalah satu hal; itu adalah pengalaman nan terbatas dan mempunyai tujuan jelas. Namun, menghabiskan waktu berjam-jam di bumi virtual seperti Horizon Worlds untuk bersosialisasi dengan avatar orang lain alias berbelanja busana digital untuk avatar—aktivitas nan menjadi inti visi metaverse sosial Meta—ternyata belum menemukan daya pikat massal. Seperti nan diungkapkan laporan tersebut, ada lembah lebar antara “memakai headset untuk menembak penjahat selama 20 menit” dan “berkeliling Abercrombie & Fitch tiruan untuk membeli baju digital.”
Pergeseran Strategis: Dari Metaverse ke Medan Pertempuran AI
Lalu, jika bukan metaverse, ke mana aliran biaya raksasa Meta bakal dialihkan? Jawabannya mencerminkan pergeseran angin dalam industri teknologi secara keseluruhan: Kecerdasan Buatan (AI). Meta dilaporkan bakal memusatkan sumber dayanya pada pengembangan model AI besar (large language models), chatbot nan lebih canggih, dan perangkat keras nan mendukung pengalaman AI. Produk seperti kacamata pandai Ray-Ban hasil kerjasama dengan EssilorLuxottica, nan lebih berfokus pada AI asisten visual dan augmented reality nan praktis, menjadi contoh arah baru ini.
Pergeseran ini sangat logis secara bisnis. Sementara metaverse tetap berupa janji jangka panjang nan menyantap biaya, kejuaraan di bagian AI—terutama melawan OpenAI, Google, dan Anthropic—adalah pertarungan nan terjadi hari ini. AI telah menunjukkan utilitas dan nilai komersial nan nyata dan langsung, mulai dari integrasi dalam iklan, perangkat kreatif, hingga efisiensi operasional. Zuckerberg sendiri telah lebih jarang menyebut kata “metaverse” dalam pidato publik dan panggilan pendapatan kuartalan belakangan ini, sebaliknya lebih sering membahas kemajuan dan investasi di bagian AI.
Masa Depan nan Diredefinisi: Apa Arti Ini bagi Meta dan Industri?
Langkah ini bukan berfaedah Meta bakal meninggalkan sepenuhnya mimpi metaverse-nya. Kemungkinan besar, ini adalah fase “konsolidasi” dan “realokasi”. Sumber daya nan tadinya disebar untuk membangun seluruh ekosistem dari nol, sekarang bakal difokuskan pada pengembangan teknologi inti—seperti headset VR/AR nan lebih baik dan AI nan mendukung hubungan virtual—sambil menunggu pasar dan teknologi matang secara alami.
Bagi industri, ini adalah pelajaran berbobot tentang gelombang hype teknologi. Metaverse adalah konsep nan kuat, tetapi eksekusinya memerlukan lebih dari sekadar teknologi nan keren; dia membutuhkan product-market fit yang jelas, kasus penggunaan nan menarik, dan prasarana nan mumpuni. Kegagalan Meta untuk mendorong mengambil massal metaverse dalam waktu dekat, meski dengan suntikan biaya puluhan miliar dolar, menunjukkan bahwa menciptakan sebuah “dunia baru” lebih susah daripada sekadar membangun sebuah platform media sosial.
Pada akhirnya, laporan pemotongan anggaran ini adalah cerita tentang seorang visioner nan melakukan koreksi kursi—sebuah tindakan nan justru memerlukan keberanian. Ini menandai babak baru bagi Meta: dari perusahaan nan mempertaruhkan segalanya pada satu visi jauh ke depan, menjadi perusahaan nan berupaya menyeimbangkan antara mimpi jangka panjang (metaverse) dengan realitas kompetitif jangka pendek (AI). Apakah ini akhir dari metaverse? Tentu tidak. Tetapi ini mungkin adalah akhir dari fase “membangun dengan membabi-buta” dan awal dari fase “membangun dengan lebih pandai dan terukur.” Dan di era di mana efisiensi tiba-tiba menjadi raja, itu mungkin justru berita baik.