Amd Siap Gandeng Samsung Untuk Chip 2nm, Tekan Dominasi Tsmc

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

Telset.id – Bayangkan Anda adalah seorang produsen mobil balap nan hanya bisa membeli mesin dari satu pemasok. Mesinnya memang juara, tapi harganya terus melambung dan Anda tak punya pilihan lain. Kira-kira begitulah dilema nan dihadapi AMD dan banyak kreator chip lainnya di era kekuasaan TSMC. Namun, gelombang perubahan mungkin bakal segera datang. Bocoran terbaru dari Korea Selatan mengindikasikan bahwa AMD sedang serius mempertimbangkan untuk menggunakan proses fabrikasi 2nm milik Samsung pada chip-chip masa depannya. Ini bukan sekadar rumor biasa, tapi sebuah langkah strategis nan bisa mengubah peta persaingan di industri semikonduktor global.

Selama bertahun-tahun, TSMC telah menjadi raksasa nan nyaris tak tertandingi dalam urusan memproduksi chip paling canggih. Konsistensi dan keandalannya memang tak diragukan lagi. Namun, monopoli—atau setidaknya kekuasaan nan sangat kuat—selalu punya konsekuensi. Ketika hanya ada satu toko nan menjual peralatan terbaik di kota, pemilik toko itu punya kuasa penuh untuk meningkatkan harga. Dan itulah nan terjadi. TSMC telah mengumumkan rencana untuk meningkatkan nilai jasa foundry-nya dalam tiga tahun ke depan. Bagi perusahaan seperti AMD nan menggantungkan produk-produk unggulannya pada TSMC, tekanan biaya ini menjadi beban nan semakin berat. Mereka butuh opsi lain, dan Samsung muncul sebagai penantang nan semakin percaya diri.

Lalu, kenapa sekarang? Samsung bukanlah nama baru dalam upaya chip. Perusahaan asal Korea ini sudah lama berupaya mengejar ketertinggalan dari TSMC, namun sering terbentur masalah yield—jumlah chip nan sukses dan berfaedah sempurna dari setiap lempengan silikon. Masalah ini membikin banyak pengguna potensial, termasuk AMD, berpikir dua kali untuk menyerahkan kreasi chip berbobot miliaran dolar. CEO AMD, Lisa Su, memang pernah menyiratkan kemauan untuk mempunyai lebih banyak pilihan manufaktur, tetapi kekhawatiran bakal kualitas menjadi penghalang besar. Namun, angin tampaknya berdesir ke arah nan berbeda untuk node 2nm. Laporan menyebut bahwa chip 2nm pertama Samsung menerima respons positif mengenai yield dan performa, menandakan proses nan sekarang lebih stabil dan matang.

Kepercayaan ini tampaknya juga dipegang oleh raksasa teknologi lain. Samsung baru-baru ini sukses mengamankan perjanjian besar-besaran dengan Apple dan Tesla untuk chip 2nm mereka. Keberhasilan merangkul dua pengguna sekaliber itu tentu menjadi sinyal kuat bagi pasar bahwa Samsung serius dan mampu. Kini, mata mereka tertuju pada AMD. Bahkan, Chairman Samsung Lee Jae-yong dikabarkan bakal segera berjumpa langsung dengan Lisa Su untuk membahas kemitraan potensial ini. Pertemuan tingkat tinggi seperti ini bukanlah formalitas belaka; ini adalah bukti bahwa pembicaraan telah memasuki tahap nan sangat serius.

Di sini kecerdikan strategis AMD terlihat. Menurut laporan, AMD tidak beriktikad menjadi “kelinci percobaan” dengan langsung mengangkat generasi pertama proses 2nm Samsung. Alih-alih, mereka dikabarkan menargetkan node generasi kedua nan dikenal dengan kode SF2P. Ini adalah langkah nan bijaksana. Generasi pertama sebuah proses teknologi baru sering kali tetap menyisakan ruang untuk penyempurnaan. Dengan menunggu SF2P, AMD meminimalkan akibat dan memastikan mereka mendapatkan jenis nan sudah lebih disempurnakan.

Samsung sendiri menyatakan bahwa SF2P menawarkan peningkatan nan signifikan dibanding pendahulunya. Proses ini diklaim mempunyai performa nan lebih baik, konsumsi daya nan jauh lebih rendah, dan ukuran chip (footprint) nan lebih kecil. Mass production untuk SF2P diprediksi bakal dimulai pada 2026, dengan jenis nan lebih baik lagi, SF2P+, menyusul di tahun 2027. Timeline ini sejalan dengan siklus pengembangan produk AMD. Jika negosiasi melangkah mulus, kesepakatan antara kedua perusahaan bisa final dalam waktu dekat, apalagi mungkin bulan depan. Bagi Samsung, menambahkan AMD sebagai pengguna bakal menjadi kemenangan besar lainnya, memperkuat posisinya sebagai penantang serius bagi TSMC di arena node paling advanced. Ini juga menjadi babak baru dalam persaingan sengit kedua raksasa Korea itu, terutama setelah Apple sukses menggeser Samsung sebagai raja smartphone global.

Lalu, apa makna semua ini bagi kita sebagai konsumen dan pengamat industri? Pertama, ini adalah buletin baik untuk kompetisi. Dominasi tunggal jarang menguntungkan dalam jangka panjang. Kehadiran Samsung sebagai pengganti nan kuat bakal memberi AMD—dan mungkin perusahaan lain—ruang bernapas dan daya tawar. Pada akhirnya, kejuaraan nan sehat bisa mendorong penemuan lebih sigap dan berpotensi menstabilkan alias apalagi menekan harga. Kedua, langkah AMD ini menunjukkan sungguh pentingnya diversifikasi rantai pasokan di era geopolitik nan tidak pasti. Menaruh semua telur dalam satu keranjang, dalam perihal ini TSMC, dianggap semakin berisiko.

Namun, tentu ada tantangan. Transisi ke foundry baru bukan seperti mengganti suku cadang. Ini memerlukan penyesuaian kreasi nan mendalam dan kerjasama engineering nan sangat erat. Performa chip AMD Ryzen, EPYC, alias Radeon nan kita kenal hari ini adalah hasil simbiosis nan sudah lama terjalin dengan TSMC. Membangun chemistry nan sama dengan Samsung memerlukan waktu dan komitmen. Selain itu, meski yield 2nm dikabarkan membaik, kapabilitas produksi massal Samsung untuk memenuhi permintaan raksasa seperti AMD, Apple, dan Tesla secara berbarengan tetap menjadi tanda tanya besar. Apakah mereka siap? Ini mengingatkan kita pada kabar penundaan Samsung Galaxy S26 nan diduga mengenai dengan persiapan chipset baru.

Jika kerja sama ini terwujud, akibat riil mungkin baru bakal kita rasakan beberapa tahun ke depan, tepatnya saat produk berbasis SF2P mulai membanjiri pasar. Bisa jadi ini bakal menjadi jantung dari prosesor gaming alias server generasi mendatang. nan pasti, langkah AMD ini telah menyalakan lampu hijau bagi era baru persaingan di pabrik chip. TSMC mungkin tetap nan terdepan, tetapi sekarang mereka kudu menengok ke belakang, lantaran pengejar tidak hanya ada, tetapi sudah mulai menarik napas nan sama. Persaingan ini juga bakal mempengaruhi lini produk smartphone, di mana Samsung Galaxy S26 Ultra dikabarkan bakal menggunakan Exynos 2600 nan performanya dijanjikan gahar. Pertarungan di level nanometer nan paling mini ini, pada akhirnya, bakal menentukan produk teknologi paling besar nan kita gunakan sehari-hari.

Selengkapnya