Anthropic Incar Investasi Dari Uae Dan Qatar, Ceo Akui Ada Risiko

Sedang Trending 5 bulan yang lalu

Telset.id – Di tengah perlombaan pengembangan kepintaran buatan (AI), perusahaan rintisan Anthropic dikabarkan sedang merencanakan pendanaan dari Uni Emirat Arab (UAE) dan Qatar. Bocoran pesan internal CEO Dario Amodei mengungkap dilema etis di kembali langkah strategis ini.

Dalam pesan Slack nan diperoleh WIRED, Amodei mengakui bahwa menerima investasi dari pemimpin Timur Tengah berpotensi memperkaya “para diktator”. “Ini adalah akibat nyata dan saya tidak senang tentang perihal ini,” tulisnya. “Sayangnya, prinsip ‘Tidak ada orang jahat nan boleh mendapat faedah dari kesuksesan kita’ susah dijalankan dalam bisnis.”

Langkah ini terjadi ketika perusahaan-perusahaan AI berebut mengamankan modal besar untuk melatih model AI mutakhir. Pada Januari lalu, OpenAI mengumumkan proyek pusat info senilai $500 miliar dengan support finansial dari MGX, firma investasi milik pemerintah UAE.

Dilema Etis di Balik Pendanaan

Amodei menyadari keputusan ini bakal memicu tuduhan hipokrisi. Dalam esainya berjudul “Machines of Loving Grace”, dia pernah menulis bahwa kerakyatan perlu menetapkan syarat pengembangan AI untuk mencegah penyalahgunaan oleh rezim otoriter. Namun, realitas upaya tampaknya memaksa kompromi.

“Ada modal sangat besar di Timur Tengah, mudah $100 miliar alias lebih,” tulis Amodei. “Jika mau tetap berada di garis depan, kita mendapat faedah besar dari akses ke modal ini. Tanpa itu, jauh lebih susah bertahan.”

Anthropic dan Dinamika Geopolitik AI

Pada 2024, Anthropic sempat menolak pendanaan Arab Saudi dengan argumen keamanan nasional. Namun, ketika saham 8% milik FTX dilepas, kebanyakan dibeli ATIC Third International Investment asal UAE senilai $500 juta.

Kini, Anthropic tampaknya bersiap menerima biaya negara Teluk—meski belum jelas apakah kebijakan terhadap Arab Saudi berubah. Perusahaan berambisi bisa membatasi investasi hanya sebagai penyertaan finansial, tanpa memberi kendali strategis kepada investor.

Seperti diungkap dalam peringatan sebelumnya tentang akibat spionase AI, Amodei cemas penanammodal bisa mendapatkan “soft power” melalui janji pendanaan masa depan.

Kompetisi dan Tekanan Bisnis

Amodei mengakui Anthropic berada dalam posisi susah setelah kandas mencegah rival membangun pusat info besar di Timur Tengah. “Sayangnya, setelah kandas mencegah dinamika ini di tingkat kolektif, kami sekarang terjebak sebagai perusahaan individu,” tulisnya.

Ia merujuk pada rencana pusat info AI 5 gigawatt di UAE, nan membikin Anthropic berada dalam posisi kompetitif nan kurang menguntungkan. “Saya betul-betul berambisi kami tidak berada dalam posisi ini, tapi inilah kenyataannya.”

Meski demikian, Anthropic tetap berkomitmen pada pengembangan AI nan bertanggung jawab, termasuk penerapan kebijakan penggunaan nan ketat.

Keputusan Anthropic mencerminkan dilema nan dihadapi banyak perusahaan teknologi: gimana tetap kompetitif di pasar dunia sembari mempertahankan nilai-nilai etis. Seperti investasi Qatar di BlackBerry, aliran modal dari Timur Tengah terus mengubah lanskap teknologi dunia.

Amodei menutup pesannya dengan nada realistis: “Seperti banyak keputusan, ini mempunyai kekurangan, tapi kami percaya ini pilihan terbaik secara keseluruhan.” Kata-kata nan mungkin mewakili zeitgeist era AI—di mana kemajuan teknologi dan pertimbangan etis terus berkompetisi dalam ketegangan nan tak terhindarkan.

Selengkapnya