– Bitcoin (BTC) menunjukkann ketahanan mengejutkan di kisaran US$ 87.000 – US$ 88.000 meskipun pasar dunia sebelumnya bersiap menghadapi salah satu resiko makro paling ditakuti tahun ini, ialah kenaikan suku kembang Bank of Japan (BoJ).
Analis makro mata uang digital berjulukan David di media sosial X, menyatakan bahwa respon pasar kali ini menandai patahannya pola lama nan selama ini menghantui penanammodal Bitcoin setiap kali Jepang mengetatkan kebijakan moneternya.

Menjelang Desember, kekhawatiran pasar bukan tanpa alasan. Dalam setiap fase normalisasi kebijakan DOJ sebelumnya, Bitcoin selalu terpukul keras. Penghentian suku kembang negatif pada Maret 2024 diikuti penurunan tajam.
“Kenaikan ‘kelanjutan’ pada Juli 2024 memicu koreksi lebih dalam. Bahkan, kenaikan lanjutan pada Januari 2025 menyeret BTC ke penurunan nyaris sepertiga nilainya. Pelaku pasar mungkin berfikir bahwa BoJ hike identik dengan Bitcoin crash,” ungkap David.
Kali ini, skenario tersebut tidak terjadi.
BoJ memang meningkatkan suku kembang 25 pedoman poin, sesuai ekspektasi pasar. Namun nada nan menyertai keputusan tersebut justru menjadi kunci. Gubernur BoJ Kazuo Ueda menekankan pendekatan wait and see, mengakui ketidakpastian dunia dan menolak memberi sinyal garang soal kenaikan lanjutan. Pesan nan ditangkap pasar jelas, ialah kebijakan memang mengetat, tapi tidak terburu-buru.
Baca Juga: Kenapa Banyak Trader Rugi Saat Breakout?
Alih-alih menguat, yen justru melemah. Pasangan USD/JPY menembus level 156, sinyal bahwa likuiditas dunia tidak sedang tersedot. Dengan begitu, skenario terburuk, carry trade unwind, di mana penanammodal terpaksa menjual aset berisiko seperti Bitcoin untuk menutup pinjaman yen,tidak pernah terjadi.
Menurut David, inilah perbedaan utama kali ini. Pasar sebelumnya bersiap untuk kekacauan seperti Juli 2024, tetapi nan terjadi justru kebalikannya. Fenomena sell the rumor, buy the news muncul dalam corak terbalik, dengan kekhawatiran menguap begitu keputusan diumumkan.
Data historis juga mendukung konklusi tersebut. Dalam kondisi normal, hubungan Bitcoin dengan Yen Jepang condong rendah. Lonjakan hubungan hanya muncul saat terjadi guncangan alias kepanikan besar. Karena ekspektasi sudah dikelola dengan baik oleh BoJ, fase ‘panic correlation’ tidak pernah aktif.
Hasilnya, Bitcoin sukses terlepas sementara dari salah satu halangan makro terbesarnya di 2025. Kenaikan suku kembang sudah nyaris sepenuhnya diperkirakan pasar, pergerakan yen justru mendukung aset beresiko, dan kondisi makro Amerika saat ini relatif stabil, jauh berbeda dari ketakutan resesi nan mendominasi 2024.
“Risiko carry trade belum sepenuhnya hilang, tetapi sekarang berada dalam kondisi dorman. Selama yen tetap lemah dan BOJ bergerak perlahan, Bitcoin mempunyai ruang untuk bergerak berasas fundamentalnya sendiri, bukan sebagai proksi likuiditas Jepang,” pungkas David.
Bitcoin Resilience at $87K as the Carry Trade Threat Fizzles
History
Going into December, the historical precedent was terrifying. The Bank of Japan (BOJ) was poised to hike rates to 0.75% the highest level since 1995. For Bitcoiners, "BOJ Hike" had become synonymous with… pic.twitter.com/dvwItZvIKg
Disclaimer: Semua konten nan diterbitkan di website Cryptoharian.com ditujukan sarana informatif. Seluruh tulisan nan telah tayang di bukan nasihat investasi alias saran trading.
Sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada mata duit kripto, senantiasa lakukan riset lantaran mata uang digital adalah aset volatil dan berisiko tinggi. tidak bertanggung jawab atas kerugian maupun untung anda.
1 minggu yang lalu