– Harga Bitcoin (BTC) menutup perdagangan tahun 2025 di bawah level psikologis penting, nan menandai akhir tahun berat bagi pasar kripto. Aset mata uang digital terbesar ini diperdagangkan di kisaran US$ 87.255 pada waktu publikasi, turun lebih dari 1 persen dalam 24 jam terakhir, sekaligus kandas mempertahankan area US$ 100.000 dan US$ 90.000 nan selama ini menjadi tumpuan sentimen bullish.
Penutupan di bawah dua level tersebut menjelaskan bahwa reli besar nan sempat terjadi pada pertengahan tahun tidak bersambung hingga akhir 2025. Namun, di kembali tekanan nilai jangka pendek, pelaku pasar mulai mengalihkan perhatian ke level-level teknikal nan dinilai krusial untuk arah Bitcoin pada 2026.

Menurut info on-chain dari CryptoQuant, Bitcoin saat ini tengah menguji area support krusial di sekitar US$ 86.500. Level ini bukan sekedar nomor teknikal biasa. CryptoQuant mencatat bahwa area tersebut mempresentasikan average cost pedoman para pembeli Bitcoin melalui ETF Spot.
Sepanjang 2025, ETF Spot Bitcoin di Amerika Serikat mencatat arus masuk bersih kumulatif lebih dari US$ 56 miliar. Skala akumulasi tersebut membikin banyak analis meyakini bahwa penanammodal institusional mempunyai insentif besar untuk mempertahankan area US$ 86.500, setidaknya sebagai pedoman pertahanan awal jika volatilitas bersambung di awal 2026.
Di sisi fundamental, meskipun nilai Bitcoin menutup tahun dengan performa nan mengecewakan, fondasi pasar justru dinilai lebih kokoh dibandingkan siklus-siklus sebelumnya. Adopsi institusional meningkat signifikan sepanjang 2025, didorong oleh kejelasan regulasi, pertumbuhan ETF, serta munculnya perusahaan-perusahaan treasury mata uang digital nan menjadikan Bitcoin sebagai bagian dari neraca finansial mereka.
Baca Juga: Area Zona Berikut Masih Jadi Batu Sandungan Bagi Bitcoin, Kata Analis
Pandangan optimistis juga datang dari Wall Street. Tom Lee, Chairman dari BitMine, menilai bahwa 2026 berpotensi menjadi tahun nan lebih konstruktif bagi kripto. Ia menyoroti kebenaran bahwa sepanjang 2025, Bitcoin tertinggal dari keahlian emas dan logam mulia lainnya, sebuah pola nan menurutnya sering kali terjadi sebelum rotasi likuiditas kembali mengalir ke aset kripto.
Lee beranggapan bahwa pergerakan emas kerap menjadi parameter awal aliran likuiditas global. Ketika logam mulai memimpin reli mata uang digital biasanya menyusul setelahnya. Dalam konteks ini, ketertinggalan Bitcoin pada 2025 justru membuka ruang pemulihan jika kondisi likuiditas dunia kembali longgar.
Ekspektasi tambahan datang dari arah kebijakan. Prospek izin nan lebih jelas di Amerika Serikat pada 2026 dipandang dapat menarik modal baru ke pasar kripto, khususnya dari penanammodal institusional nan selama ini menunggu kepastian hukum. Di saat nan sama, pelonggaran kebijakan moneter dunia dan meningkatnya likuiditas diperkirakan menjadi katalis tambahan bagi aset beresiko seperti Bitcoin.
Disclaimer: Semua konten nan diterbitkan di website Cryptoharian.com ditujukan sarana informatif. Seluruh tulisan nan telah tayang di bukan nasihat investasi alias saran trading.
Sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada mata duit kripto, senantiasa lakukan riset lantaran mata uang digital adalah aset volatil dan berisiko tinggi. tidak bertanggung jawab atas kerugian maupun untung anda.
8 jam yang lalu