Telset.id – Bumi kembali berguncang dengan keras di area nan berkawan dengan gempa. Senin (8/12) malam, gempa berkekuatan magnitudo 7,5 mengguncang wilayah utara Jepang, tepatnya di lepas pesisir Prefektur Aomori. Getaran luar biasa nan berjalan puluhan detik itu bukan hanya meninggalkan retakan di jalan dan memicu tsunami kecil, tetapi juga melukai puluhan orang. Namun, di tengah kekacauan itu, ada berita nan menenangkan bagi kita di Indonesia: ratusan Warga Negara Indonesia (WNI) nan tinggal di episentrum gempa dilaporkan dalam keadaan aman.
Bayangkan Anda sedang bersantai di rumah pada malam nan dingin, tiba-tiba bumi bergoyang dengan kekuatan nan belum pernah Anda rasakan sebelumnya. Alarm peringatan di ponsel bersuara bersahutan. Itulah nan dialami penduduk di Aomori dan Hokkaido. Perdana Menteri Sanae Takaichi mengonfirmasi, korban luka akibat musibah ini telah bertambah menjadi 30 orang. Satu di antaranya mengalami cedera serius di Pulau Hokkaido. Guncangan nan begitu kuat apalagi memicu gelombang tsunami setinggi 70 sentimeter, mengingatkan semua orang pada trauma gempa dan tsunami besar tahun 2011.
Lalu, gimana dengan ratusan WNI nan membangun kehidupan di sana? Apakah mereka selamat? Pertanyaan itu pasti terlintas di akal family di tanah air. Beruntung, respons sigap dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Tokyo memberikan jawaban nan melegakan. Meski berada di wilayah nan terdampak langsung, tidak ada laporan WNI nan menjadi korban. Kabar ini menjadi secercah sinar di tengah buletin duka dari gempa Jepang nan mengguncang itu.
Dampak dan Kekacauan di Lokasi Gempa
Rekaman visual dari letak gempa menggambarkan situasi nan mencemaskan. Retakan besar terlihat membelah beberapa ruas jalan, dan sebuah mobil dilaporkan terperosok ke dalam lubang nan menganga. Pecahan kaca dari jendela-jendela nan pecah berceceran di trotoar, menjadi saksi bisu kekuatan guncangan. Daiki Shimohata, seorang pegawai negeri berumur 33 tahun di Hashikami, Aomori, menceritakan pengalamannya kepada AFP. “Guncangannya belum pernah kami rasakan sebelumnya. Mungkin berjalan sekitar 20 detik,” ujarnya. Ia dan keluarganya terpaksa bergegas keluar rumah, menggendong kedua anak mereka nan tetap balita. “Guncangan ini mengingatkan saya pada musibah (tahun 2011),” tambahnya, menyiratkan sungguh dalam trauma nan kembali dihidupkan.
Guncangan nan berjalan sekitar 30 detik itu memaksa sekitar 28.000 penduduk untuk mengungsi. Tempat-tempat pengungsian darurat dilaporkan penuh, sebuah tantangan tambahan mengingat gempa terjadi di musim dingin dengan suhu nan mendekati titik beku. Sekitar 2.700 rumah di Aomori sempat mengalami pemadaman listrik, menambah kesulitan di malam nan gelap dan dingin. Namun, upaya pemulihan melangkah relatif cepat. Pada Selasa (9/12) pagi, listrik telah dipulihkan di sebagian besar wilayah, dengan kurang dari 40 rumah nan tetap gelap.
WNI di Bawah Bayang-Bayang Gempa: Aman dan Terpantau
Di kembali laporan korban dan kerusakan, perhatian unik tertuju pada keselamatan WNI. KBRI Tokyo dengan sigap memantau situasi dan mengeluarkan pernyataan resmi. “Jumlah WNI di Aomori diperkirakan sekitar 969 orang. Hingga saat ini Selasa, 9 Desember 2025, pukul 08.30 JST belum terdapat laporan WNI nan menjadi korban,” bunyi pernyataan tersebut. Angka 969 bukanlah jumlah nan sedikit. Bayangkan, nyaris seribu penduduk Indonesia hidup, bekerja, dan menetap di wilayah nan baru saja diguncang gempa besar. Fakta bahwa mereka semua selamat hingga laporan pertama diterbitkan adalah sebuah keberuntungan dan mungkin juga gambaran dari kesiapsiagaan.
Namun, KBRI tidak hanya berakhir pada pengumuman. Mereka aktif menyampaikan imbauan krusial kepada WNI di seluruh Jepang. Imbauan itu mencakup petunjuk praktis nan bisa menyelamatkan nyawa: terus memantau perkembangan situasi, mengikuti perintah pemindahan dari otoritas setempat, mempelajari rute pemindahan terdekat, dan nan tak kalah penting—mempersiapkan tas darurat. Tas darurat itu kudu berisi arsip penting, duit tunai, dan kebutuhan dasar. KBRI juga membuka hotline untuk dihubungi jika penduduk memerlukan bantuan. Langkah proaktif ini menunjukkan bahwa perlindungan WNI di luar negeri tidak hanya reaktif saat musibah terjadi, tetapi juga preventif.
Kesiapsiagaan seperti ini semestinya menjadi pelajaran bagi kita semua, di mana pun berada. Seperti nan pernah dibahas dalam kajian mengenai penyebab gempa Turki dan Suriah nan mematikan, mitigasi dan edukasi adalah kunci mengurangi korban jiwa. Jepang, dengan semua teknologinya, tetap mengandalkan kesiapan perseorangan dan masyarakat. Apalagi negara-negara nan rawan gempa seperti Indonesia.
Respons Nasional dan Peringatan Lanjutan
Pascagempa, aktivitas publik sempat lumpuh. Layanan kereta sigap Shinkansen dihentikan sementara di beberapa area untuk pemeriksaan keselamatan rel. Kekhawatiran lain nan selalu muncul setiap kali gempa besar mengguncang Jepang adalah kondisi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Berita baiknya, tidak ditemukan kelainan di PLTN Higashidori di Aomori maupun akomodasi Onagawa di Prefektur Miyagi, menurut operator Tohoku Electric Power. Ini meredakan kekhawatiran bakal repetisi musibah nuklir Fukushima.
Perdana Menteri Takaichi, dalam konvensi pers pada Selasa pagi, tidak serta merta menyatakan keadaan aman. Ia justru mengimbau penduduk untuk tetap waspada selama sekitar satu minggu ke depan. “Tolong dengarkan info dari JMA (Badan Meteorologi Jepang) alias pemerintah daerah… periksa apakah perabotan rumah sudah dipasang kuat… dan bersiaplah untuk mengungsi saat merasakan guncangan,” pesannya. Imbauan ini realistis, mengingat gempa susulan selalu mungkin terjadi. Kita tetap ingat gimana Malang diguncang gempa susulan nan membikin warganet serukan #PrayforMalang.
Gempa di Jepang ini sekali lagi mengingatkan kita tentang sungguh dinamisnya planet kita. Bumi di Cincin Api Pasifik tidak pernah betul-betul tidur. Seperti nan diungkap dalam laporan tentang gempa luar biasa Rusia sebagai peringatan untuk Indonesia, aktivitas seismik di satu titik bisa menjadi pertanda alias sekadar pengingat bakal potensi serupa di titik lain. Teknologi pendeteksian pun terus berkembang, apalagi Google mengoprek smartphone Android jadi perangkat sensor gempa, menunjukkan upaya manusia untuk selalu selangkah lebih depan.
Jadi, apa nan bisa kita ambil dari peristiwa ini? Pertama, keselamatan ratusan WNI di Aomori adalah berita nan patut disyukuri, sekaligus bukti pentingnya komunikasi dan pendataan nan baik oleh perwakilan diplomatik. Kedua, gempa M 7,5 di Jepang memperlihatkan bahwa apalagi negara paling siap sekalipun tetap rentan terhadap amukam alam. Ketiga, peringatan untuk tetap waspada pascagempa adalah perihal nan bijak, baik untuk penduduk Jepang maupun kita di Indonesia nan hidup di garis gempa nan sama. Bencana mungkin tidak bisa dihindari, tetapi korban jiwa bisa diminimalisir dengan pengetahuan, persiapan, dan kewaspadaan nan tak kenal lelah.