Telset.id – Bayangkan sebuah bumi di mana “The Sopranos” berdampingan dengan “Stranger Things”, alias di mana Batman dan “The Lord of the Rings” menjadi bagian dari katalog nan sama dengan “Squid Game”. Itulah skenario nan mungkin bakal segera menjadi kenyataan, jika laporan terbaru dari Bloomberg terbukti akurat. Netflix, raksasa streaming nan telah mengubah langkah bumi menonton, dikabarkan sedang dalam pembicaraan eksklusif untuk mengakuisisi aset-aset utama dari Warner Bros. Discovery (WBD), termasuk studio movie dan TV legendarisnya serta jasa streaming HBO Max. Jika kesepakatan senilai miliaran dolar ini terwujud dan lolos dari pengawasan regulator, langit Hollywood bakal betul-betul berguncang.
Laporan ini muncul setelah bulan-bulan penuh spekulasi mengenai masa depan WBD, nan secara resmi “dijual” oleh CEO-nya, David Zaslav, sejak Oktober lalu. Proses lelangnya digambarkan sangat kompetitif, melibatkan pemain besar seperti Paramount Skydance Corp milik miliarder Larry Ellison dan Comcast pemilik NBCUniversal. Fakta bahwa Netflix sekarang disebut sebagai pihak nan masuk dalam pembicaraan eksklusif mengindikasikan bahwa tawarannya dinilai paling unggul, baik dari segi nilai maupun strategi. Ini adalah langkah berani nan menandai pergeseran dramatis dari strategi Netflix nan selama ini lebih mengandalkan pertumbuhan organik (organic growth) dan produksi original.
Apa nan Benar-benar Diincar Netflix? Warisan Budaya Pop nan Tak Terhingga
Menurut sumber nan familiar dengan pembicaraan, akuisisi ini tidak bakal mencakup aset kabel WBD seperti CNN, TBS, dan TNT—yang berbobot lebih dari $60 miliar dan bakal dipisahkan terlebih dahulu. Namun, nan diincar Netflix adalah kekayaan karun nan jauh lebih berbobot dalam jangka panjang: warisan intelektual (IP) dan prasarana kreatif.
Jika deal ini terlaksana, Netflix bakal menjadi pemilik:
-
Jaringan HBO beserta seluruh library ikoniknya: dari “The Sopranos”, “Game of Thrones”, “Succession”, hingga “The White Lotus”.
-
Studio Warner Bros. di Burbank, simbol jantung industri movie Hollywood.
-
Arsip movie dan TV raksasa yang mencakup 12.500 film dan 2.400 serial TV. Di dalamnya terdapat franchise raksasa seperti Batman, Harry Potter, The Lord of the Rings, DC Universe, serta serial fenomenal “Friends” dan “The Big Bang Theory”.
Dengan satu gerakan, Netflix tidak hanya bakal mendapatkan konten baru, tetapi bakal menguasai sebagian besar sejarah pop culture Barat abad ke-20 dan ke-21. Ini adalah strategi untuk mengamankan “moat” alias parit pertahanan nan nyaris tak tertembus dalam perang streaming, di mana kepemilikan IP nan kuat menjadi senjata utama.
Tantangan Regulasi dan Taruhan $5 Miliar nan Berani
Jalan menuju akuisisi ini dipastikan tidak bakal mulus. Netflix disebut-sebut menawarkan breakup fee atau denda pembatalan sebesar $5 miliar jika kesepakatan kandas mendapatkan persetujuan regulator. Penawaran ini adalah bukti sungguh seriusnya Netflix, sekaligus pengakuan bakal akibat tinggi nan dihadapi.
Akuisisi sebesar ini pasti bakal menjadi perhatian ketat dari Federal Communications Commission (FCC) di AS. Faktor politik juga mungkin berperan, mengingat Presiden Trump dilaporkan mempunyai hubungan dekat dengan Larry Ellison, nan perusahaan Paramount Skydance-nya juga menjadi pesaing dalam proses lelang ini. Selain itu, persetujuan diperlukan dari regulator di beragam negara mengingat jangkauan dunia baik Netflix maupun WBD. Paramount sendiri telah mengeluh bahwa proses lelang WBD dianggap “terlalu memihak satu penawar” (Netflix), dan menyatakan bahwa tawaran mereka bakal lebih mudah diterima regulator global.
Dampak bagi Konsumen dan Masa Depan Bioskop: Pertanyaan Besar nan Belum Terjawab
Bagi kita sebagai penonton, potensi akuisisi ini membawa serta sejumlah pertanyaan besar nan belum jelas jawabannya:
-
Integrasi alias Pemisahan? Akankah Netflix menggabungkan seluruh konten Warner Bros. dan HBO ke dalam satu aplikasi Netflix, alias mempertahankan HBO Max sebagai jasa terpisah dengan branding nan berbeda? Menggabungkannya bakal menciptakan “super-app” streaming nan tak tertandingi, sementara memisahkannya mungkin menjaga aura eksklusif HBO namun kurang efisien.
-
Komitmen pada Teater? Netflix secara historis lebih memprioritaskan rilis digital langsung ke platform. CEO Ted Sarandos apalagi pernah menyebut bioskop sebagai “konsep nan kedaluwarsa”. Sementara itu, Warner Bros. mempunyai komitmen kuat pada rilis teatrikal untuk film-film blockbuster-nya. Akankah Netflix menghormati model upaya ini, alias bakal menarik waralaba seperti “Batman” dan “Harry Potter” lebih sigap ke platform streaming?
-
Harga Berlangganan? Penggabungan konten sebesar ini tentu memerlukan biaya operasi nan besar. Akankah Netflix kemudian meningkatkan nilai berlangganannya lebih tinggi lagi, sehingga semakin eksklusif?
Pada akhirnya, laporan ini lebih dari sekadar rumor merger korporat. Ini adalah titik potensial di mana aliran sejarah industri intermezo dapat berbelok. Jika berhasil, Netflix tidak lagi sekadar menjadi penyedia jasa streaming, tetapi bakal beralih bentuk menjadi konglomerat media terintegrasi nan menguasai seluruh rantai nilai, dari produksi hingga distribusi, dengan katalog nan mungkin tak bakal pernah bisa ditandingi oleh Disney+, Prime Video, alias lainnya. Namun, di kembali semua skala dan ambisi, tantangan terbesarnya tetap sama: gimana meyakinkan regulator bahwa konsolidasi kekuatan sebesar ini tidak bakal mencekik kejuaraan dan merugikan konsumen di akhir cerita. Hari-hari mendatang bakal menentukan apakah kita bakal menyaksikan kelahiran raksasa baru, alias justru memandang rencana ambisius ini kandas di meja regulator.