Huawei Siapkan Terobosan Ai Yang Bisa Kurangi Ketergantungan Pada Hbm

Sedang Trending 4 bulan yang lalu

Telset.id – Jika Anda mengira perkembangan kepintaran buatan (AI) tetap berjuntai pada teknologi memori impor, bersiaplah untuk terkejut. Huawei dikabarkan tengah mempersiapkan terobosan besar dalam teknologi konklusi AI nan bakal diumumkan pada 2025 Financial AI Inference Application Implementation and Development Forum tanggal 12 Agustus mendatang.

Bocoran dari sumber dalam negeri China menyebut, teknologi baru ini berpotensi mengurangi ketergantungan negara tersebut pada High Bandwidth Memory (HBM) – komponen krusial dalam sistem AI. Tak hanya itu, solusi Huawei ini juga diklaim bisa meningkatkan performa konklusi model AI skala besar secara signifikan.

Huawei AI

Mengapa HBM Begitu Penting?

High Bandwidth Memory (HBM) bukan sekadar komponen biasa. Teknologi memori DRAM nan dibangun dengan teknik stacking 3D ini memungkinkan beberapa chip DRAM terintegrasi secara vertikal, menghasilkan kecepatan transfer info nan jauh lebih tinggi dibanding memori konvensional.

Dengan bandwidth ultra-tinggi, latensi rendah, dan efisiensi daya nan baik, HBM menjadi tulang punggung untuk beban kerja AI nan berat. Dalam proses konklusi AI – saat model nan sudah terlatih memproses input baru – akses info secara real-time dalam jumlah besar absolut diperlukan.

Model AI dengan ratusan miliar parameter sangat berjuntai pada HBM untuk menyuplai info tanpa hambatan, memastikan GPU beraksi pada kapabilitas penuh. Bahkan penundaan mini pun bisa berakibat pada performa, menjadikan HBM komponen tak tergantikan untuk perangkat keras AI kelas atas.

Huawei dan Upaya Mengurangi Ketergantungan pada HBM

Lantas, gimana Huawei berencana mengurangi ketergantungan pada HBM? Salah satu jalur nan mungkin ditempuh adalah kreasi berbasis chiplet, di mana beberapa chip mini dikemas berbareng dan saling terhubung untuk berbagi beban komputasi. Konfigurasi ini bisa mengurangi kebutuhan memori berbandwidth tinggi dengan mendistribusikan tugas pemrosesan secara lebih efisien.

Pendekatan lain melibatkan optimasi model AI itu sendiri – mengurangi jumlah parameter alias menggunakan algoritma nan lebih efisien. Perbaikan semacam ini bisa menurunkan tuntutan perangkat keras sembari mempertahankan performa, membikin AI canggih lebih terjangkau dan irit biaya.

Seperti nan terjadi pada Huawei Pura 80, penemuan Huawei sering kali bisa mengejutkan pasar. Jika teknologi konklusi baru ini bisa menyamai alias melampaui performa sistem berbasis HBM, momen ini bisa menjadi titik kembali dalam pengembangan perangkat keras AI.

Dampak Potensial pada Lanskap Teknologi Global

Dengan mengatasi tantangan teknis dan rantai pasok sekaligus, penemuan semacam ini bisa mempercepat swasembada AI China dan mengubah langkah sistem AI berkinerja tinggi dibangun. Detail komplit bakal terungkap saat Huawei resmi mengumumkan teknologi ini.

Apakah ini pengganti penuh untuk HBM alias langkah awal untuk mengurangi keterbatasannya, pengumuman ini pasti bakal menyedot perhatian industri AI dan semikonduktor global. Terlebih di tengah perkembangan terbaru di mana Huawei Mate XT 2 juga menunjukkan kemajuan signifikan dalam teknologi mobile.

Di sisi lain, keputusan Nvidia dan AMD untuk bayar 15% pendapatan chip mereka dari China kepada AS juga menandai pergeseran signifikan dalam industri teknologi. Inovasi Huawei ini bisa menjadi jawaban atas tantangan geopolitik nan semakin kompleks.

Seperti halnya HUAWEI MatePad Pro 12.2” 2025 nan menghadirkan terobosan di segmen tablet, langkah Huawei dalam bagian AI ini patut ditunggu. Apakah mereka bakal kembali mengejutkan dunia? Jawabannya bakal segera kita dapatkan.

Selengkapnya