Telset.id – Kolaborasi antarpelaku kejahatan siber dalam ekosistem bawah tanah membikin serangan semakin kompleks dan susah dilacak. Hal ini diungkapkan oleh Ensign InfoSecurity, perusahaan keamanan siber terkemuka.
Head of Consulting Ensign InfoSecurity Adithya Nugraputra menjelaskan, sekarang siapa pun bisa berperan-serta dalam serangan siber tanpa perlu mempunyai keahlian teknis tinggi. “Satu orang di perusahaan nan mempunyai akses seperti username dan password bisa menjualnya di dark web alias ekonomi bawah tanah,” katanya dalam obrolan media di Jakarta Selatan, Rabu (10/7/2025).
Menurut Adithya, pelaku kejahatan siber seperti operator ransomware, Initial Access Broker (IAB), dan peretas sekarang bekerja sama untuk mendapatkan untung finansial. “Mereka tidak perlu mempunyai keahlian meretas sendiri. Akses dijual, serangan dijalankan, dan untung dibagi,” ujarnya.
Model Bisnis Baru Kejahatan Siber
Adithya memaparkan, IABs mengangkat model “satu akses dijual ke banyak pihak”. Mereka memperjualbelikan akses masuk seperti password kepada beragam golongan kejahatan siber. Pelaku utama serangan pun sering menggunakan pihak ketiga untuk menjalankan aksinya, sehingga susah dilacak.
“Penelusuran pelaku utama semakin sulit, apalagi jika mereka didukung oleh tokoh negara. Bisa saja peretas perseorangan rupanya didukung golongan terorganisir, nan kemudian didanai suatu negara,” jelas Adithya.
Fenomena ini memperburuk ancaman siber di Indonesia, nan sudah menjadi target utama serangan siber di Asia Tenggara. Sebelumnya, beberapa lembaga pemerintah dan perusahaan besar di Tanah Air juga pernah mengalami serangan masif seperti nan dialami platform X (Twitter).
Adithya menegaskan, kerjasama antar-kelompok kejahatan siber ini membikin ancaman semakin susah diantisipasi. Perusahaan dan lembaga perlu meningkatkan sistem keamanan berbasis AI dan melakukan training berkepanjangan untuk staf.