Netflix Pakai Ai Untuk Vfx Di The Eternaut, Efisiensi Atau Ancaman?

Sedang Trending 5 bulan yang lalu

Telset.id – Jika Anda mengira penggunaan AI dalam industri intermezo tetap sebatas eksperimen, pikirkan lagi. Netflix baru saja mengungkap kebenaran mengejutkan: mereka menggunakan generative AI untuk menciptakan pengaruh visual (VFX) dalam serial orisinal Argentina, The Eternaut, nan dirilis April 2025. Pengakuan ini disampaikan langsung oleh co-CEO Ted Sarandos dalam laporan finansial perusahaan, membuka babak baru dalam perdebatan tentang peran AI di bumi kreatif.

Sarandos menjelaskan, tim produksi memerlukan segmen gedung runtuh di Buenos Aires. Alih-alih menyewa studio VFX tradisional, Netflix memilih solusi berbasis AI. “Dengan perangkat berkekuatan AI, mereka mencapai hasil luar biasa dalam waktu singkat,” ujarnya. Menurutnya, proses tersebut 10 kali lebih sigap dibanding metode konvensional—sebuah efisiensi nan “tidak mungkin tercapai dengan anggaran terbatas.”

Adegan gedung runtuh di The Eternaut hasil generative AI

Prototipe Masa Depan alias Langkah Kontroversial?

Netflix menyebut ini sebagai “footage final berbasis AI pertama” di konten orisinal mereka. Namun, di kembali klaim inovasi, terselip pertanyaan kritis: apakah keputusan ini murni untuk kreativitas, alias sekadar menghemat biaya? Industri intermezo sendiri tetap panas membahas rumor AI. Pemogokan SAG-AFTRA baru-baru ini, misalnya, menjadikan perlindungan dari AI sebagai tuntutan utama. Bahkan movie nominasi Oscar The Brutalist sempat dikritik lantaran menggunakan AI pada 2024.

Lebih dari itu, legalitas training model AI dengan materi berkuasa cipta tetap abu-abu. Netflix justru berencana memperluas penggunaan AI, termasuk untuk iklan di jasa berlangganan beriklan mereka dan fitur pencarian berbasis model OpenAI. Langkah ini bisa menjadi preseden—apakah AI bakal menjadi perangkat pendukung, alias justru menggeser peran manusia?

Dilema Kreator vs Teknologi

Kasus The Eternaut menggarisbawahi dilema abadi: teknologi kerap datang sebagai pisau bermata dua. Di satu sisi, AI memungkinkan produksi konten dengan anggaran terbatas. Di sisi lain, ada kekhawatiran sah tentang masa depan pekerja kreatif. Seperti dikatakan seorang seniman VFX nan enggan disebutkan namanya, “Ini bukan tentang menolak kemajuan, tapi memastikan AI tidak menjadi perangkat untuk mengeksploitasi.”

Sementara Netflix belum merinci tools spesifik nan digunakan, langkah mereka bisa memicu tren. Apalagi, raksasa seperti Elon Musk lewat xAI juga mulai merambah konten hiburan. Pertanyaannya kini: bisakah industri menemukan titik jumpa antara penemuan dan keberlanjutan produktivitas manusia?

Selengkapnya