Spotify Vs Bandcamp: Dua Ekosistem Musik Digital Yang Bertolak Belakang

Sedang Trending 3 hari yang lalu

Telset.id – Di era di mana musik mengalir deras seperti air, dua platform ini berdiri di kutub nan berseberangan. Satu, raksasa berbobot miliaran dolar nan mau menguasai setiap detik waktu mendengarkan Anda. Satunya lagi, pasar digital sederhana nan lebih mirip toko kaset indie era dulu, dengan misi tunggal: memastikan artis dibayar dengan adil. Inilah cerita tentang Spotify dan Bandcamp, dan apa nan pilihan mereka ungkapkan tentang masa depan industri musik.

Anda mungkin sudah sangat berkawan dengan nan pertama. Spotify, dengan algoritma rekomendasinya nan canggih, playlist “Discover Weekly”, dan antarmuka nan memudahkan Anda tersesat dalam lautan lagu selama berjam-jam. Tapi pernahkah Anda bertanya-tanya, di kembali kemudahan itu, ke mana duit dari langganan premium alias iklan itu mengalir? Bandcamp, di sisi lain, mungkin terasa seperti bumi nan berbeda. Tidak ada algoritma misterius nan mengatur apa nan Anda dengar. nan ada adalah laman artis, nilai nan sering kali bisa Anda tentukan sendiri, dan tombol “beli” nan mencolok. Perbedaan ini bukan sekadar soal fitur, melainkan fondasi filosofis nan sama sekali berbeda tentang apa itu musik dan untuk siapa platform digital itu dibangun.

CEO dan salah satu pendiri Bandcamp, Ethan Diamond, pernah terdiam cukup lama ketika ditanya apakah perusahaannya adalah upaya digital. “Ya, saya tidak yakin,” katanya. “Aku menganggap Bandcamp sebagai perusahaan musik pertama, lantaran siapa nan kami layani pertama dan terutama adalah artis.” Bandingkan dengan narasi Daniel Ek, CEO Spotify, nan dalam panggilan pendapatan kuartal pertamanya tahun 2020 berulang kali menyebut “strategi audio-pertama”. Kata “audio” sengaja dipilih, menggantikan “musik”, lantaran podcast telah menjadi pilar penting. Misi Spotify, menurut Ek, adalah “menangkap porsi waktu nan dihabiskan pendengar di tempat lain.” Musik hanyalah salah satu langkah untuk mengisi waktu itu. Inilah inti perbedaannya: satu platform dibangun untuk melayani pembuat musik, nan lain dibangun untuk menguasai perhatian pendengar.

Ekonomi Skala vs. Ekonomi Dukungan Langsung

Spotify beraksi dengan logika ekonomi skala nan masif. Untuk memberi nilai bagi penanammodal dan mencapai profitabilitas nan susah digapai, platform perlu memaksimalkan jumlah pengguna dan waktu nan mereka habiskan di aplikasi. Royalty nan dibayarkan ke artis, nan sering dikeluhkan sangat rendah, adalah hasil dari model ini. Perhitungan kasar menunjukkan, untuk mendapatkan penghasilan setara bayaran minimum AS (sekitar $15 per jam), seorang musisi solo memerlukan nyaris 658.000 stream per bulan di Spotify. Angka nan nyaris mustahil bagi sebagian besar artis. Ek sendiri pernah berkomentar bahwa beberapa artis nan dulu sukses mungkin tidak bakal memperkuat di lanskap baru ini, di mana mereka “tidak bisa merekam musik sekali setiap tiga alias empat tahun dan berpikir itu bakal cukup.” Pernyataan ini disambut gelombang kemarahan dari musisi di media sosial, nan merasa karya mereka direduksi menjadi sekadar “output” nan kudu diproduksi terus-menerus.

Bandcamp mengambil jalan sebaliknya. Platform ini beraksi dengan model berbagi pendapatan nan transparan: mereka mengambil 10%-15% dari penjualan digital, dan 10% dari penjualan peralatan fisik. Artis dan label bebas menetapkan nilai mereka sendiri, apalagi memperbolehkan sistem “nama nilai Anda sendiri”. nan menarik, Diamond mengungkapkan bahwa sekitar separuh dari penjualan di Bandcamp adalah untuk peralatan fisik—vinyl, kaset, kaos, dan merchandise lainnya. “Aku tidak menganggap kami sebagai jasa streaming,” tegas Diamond. “Aku menganggap kami sebagai toko rekaman dan organisasi musik.” Bagi pengguna, membeli musik di Bandcamp bukan sekadar mendapatkan file digital, tetapi sebuah tindakan support langsung nan disengaja. Ini adalah perbedaan mendasar: Spotify memonetisasi perhatian pengguna (melalui iklan alias langganan), sementara Bandcamp memfasilitasi transaksi langsung antara fans dan pencipta.

Misi nan Berbeda: Menyembuhkan vs. Menguasai

Filosofi di kembali Bandcamp terasa lebih individual dan humanis. Diamond bercerita tentang inspirasi dari Prince, nan sebelum meninggal mengatakan kepada penulis biografinya, “Musik itu menyembuhkan. Tulis itu dulu.” Prinsip itulah nan mau diwujudkan Bandcamp: sebuah sistem di mana kekuatan pengobatan musik berada di tangan setiap orang nan mempunyai talenta untuk menggunakannya, dengan memastikan kompensasi nan setara dan transparan. Bandcamp lahir pada 2007, di era ketika “kompetisi utama adalah pembajakan,” kata Diamond. Mereka mau membuktikan bahwa orang tetap mau bayar untuk musik jika diberi langkah nan mudah dan langsung untuk mendukung artis favorit mereka.

Spotify, dengan ambisi “audio-pertama”-nya, mempunyai alam nan berbeda. Eksklusivitas podcast Joe Rogan dengan nilai perjanjian nan disebut-sebut mencapai $100 juta lebih adalah contoh nyata. Ini bukan tentang menyembuhkan, tetapi tentang menguasai pasar audio apa pun bentuknya. Pandemi COVID-19 pun, dalam pandangan Ek, adalah kesempatan untuk mempercepat peralihan dari radio linear ke jasa on-demand seperti Spotify. Fokusnya adalah pada persaingan dan perebutan waktu. Perbedaan ini membikin kedua platform ini bagai berasal dari galaksi nan berbeda. Diamond apalagi menyebut bahwa dia merasa lebih dekat dengan Etsy—sebuah pasar untuk barang-barang buatan tangan dan kerajinan—daripada dengan platform musik streaming lainnya.

Lantas, di mana masa depan industri musik digital? Mungkin tidak ada jawaban tunggal. Dunia memerlukan kedua model ini, tetapi dengan kesadaran bakal konsekuensinya. Spotify menawarkan akses tak terbatas nan nyaman dan menjadi mesin penemuan nan powerful bagi banyak pendengar. Namun, ketergantungan pada algoritma dan model royalty mikro telah menuai kritik tajam, termasuk dari dalam industri sendiri. Sementara itu, Bandcamp telah menjadi tulang punggung bagi banyak musisi indie dan subkultur, tempat di mana organisasi dapat tumbuh dan artis dapat memperkuat secara finansial dari pedoman fans nan loyal, meski mungkin tidak masif.

Bagi musisi dan pendengar nan mulai merasa jengah dengan kekuasaan algoritma dan ketidaktransparan, gerakan menuju model nan lebih pro-artis semakin mengemuka. Ini bukan lagi tentang memilih salah satu, tetapi tentang menyadari bahwa ekosistem musik digital bisa berwarna-warni. Mungkin masa depan bukanlah tentang satu pemenang nan menguasai semua, melainkan tentang koeksistensi beragam model nan melayani kebutuhan dan nilai nan berbeda. Seperti kata Diamond, nan terpenting adalah memastikan bahwa sistem nan dibangun memungkinkan musik—dengan segala kekuatan penyembuhannya—tetap hidup dan berkembang di tangan para penciptanya. Di tengah percepatan teknologi nan sering kali terasa dingin, sentuhan manusiawi dari sebuah “toko rekaman digital” seperti Bandcamp justru terasa seperti oase nan diperlukan.

Selengkapnya