Startup Autolane Raup Rp 120 Miliar Untuk “atc” Mobil Otonom Di Drive-thru

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Telset.id – Startup teknologi Autolane sukses mengumpulkan biaya segar senilai USD 7,4 juta alias setara Rp 120 miliar untuk mengembangkan sistem “air traffic control” (ATC) bagi kendaraan otonom, khususnya di area komersial seperti restoran sigap saji dan gerai ritel besar. Pendanaan ini menggarisbawahi tantangan unik nan dihadapi mobil tanpa pengemudi di prasarana jalan Amerika nan didominasi kendaraan pribadi.

Ben Seidl, CEO dan salah satu pendiri Autolane, dalam wawancara eksklusif dengan TechCrunch, menjelaskan bahwa perusahaannya beraksi di lapisan “aplikasi” industri kendaraan otonom. “Kami bukan model fundamental. Kami tidak membangun mobil. Kami tidak melakukan hal-hal seperti itu,” tegas Seidl. “Kami hanya mengatakan, saat industri ini berkembang pesat dan mengalami pertumbuhan eksponensial… seseorang kudu duduk di tengah dan mengatur, mengoordinasikan, serta mengevaluasi apa nan terjadi.”

Visi Autolane adalah menciptakan prasarana nan memandu kendaraan otonom ke titik penjemputan dan pengantaran nan tepat, baik untuk jasa robotaxi maupun pengiriman peralatan seperti makanan dan bahan makanan. Ide ini terinspirasi dari kejadian viral awal tahun ini, di mana sebuah robotaxi milik Waymo terjebak di area cul-de-sac drive-thru restoran Chick-fil-A. Insiden serupa pernah terjadi di jalan raya, seperti nan dialami mobil otonom Waymo nan mogok dan membikin penumpangnya terjebak.

Seidl menyoroti bahwa jalan-jalan di Amerika, dengan jalur nan sangat lebar, lahan parkir nan luas, dan banyak akses driveway ke toko-toko, tidak ramah bagi pejalan kaki. “Ternyata, jalan-jalan Amerika juga tidak terlalu ramah untuk mobil self-driving,” katanya. Menurutnya, kekacauan sudah mulai terlihat dan diperlukan pihak nan membawa keteraturan.

Meski beberapa perencana kota berambisi kendaraan otonom dapat mendorong tata kota baru nan efisien dan terhubung, konsentrasi Autolane justru lebih sempit dan praktis. Seidl dengan jelas menyatakan bahwa perusahaan mereka tidak berkeinginan bekerja di jalan umum alias dengan tempat parkir publik. “Kami hanya menyediakan alat-alat ini sebagai solusi SaaS nan diaktifkan perangkat keras B2B, sehingga Costco, McDonald’s, alias Home Depot… dapat mulai mempunyai apa nan saya sebut ‘air traffic control untuk kendaraan otonom’, artinya mereka tahu mana nan masuk dan keluar,” paparnya.

Klien pertama mereka adalah Simon Property Group, real estate investment trust (REIT) ritel terbesar di dunia. Pendekatan upaya ke upaya (B2B) ini menunjukkan bahwa solusi awal untuk navigasi otonom nan lebih mulus justru bakal diterapkan di lingkungan pribadi milik korporasi, sebelum menyentuh prasarana publik. Teknologi semacam ini memerlukan komputasi canggih, mirip dengan nan dikembangkan dalam kolaborasi Nvidia dan MediaTek untuk sistem kendaraan baru.

Dilema Infrastruktur dan Masa Depan Mobilitas

Keberhasilan Autolane mengumpulkan biaya mengungkap dilema menarik dalam perkembangan mobilitas otonom. Di satu sisi, ada kebutuhan mendesak untuk sistem pendukung nan membikin kendaraan tanpa pengemudi beraksi lebih andal di lingkungan kompleks seperti drive-thru. Di sisi lain, solusi seperti ini bisa dianggap sebagai tempelan teknis atas masalah kreasi perkotaan nan lebih mendasar.

Seidl mengakui bahwa masalah sebenarnya mungkin terletak pada kreasi lanskap suburban nan tidak ramah dan berpusat pada mobil. Namun, startup miliknya memilih untuk menyelesaikan masalah nan lebih langsung dan dapat dikomersialkan. “Seseorang kudu membawa keteraturan pada kekacauan ini, dan kekacauannya sudah mulai,” deklarasinya kepada TechCrunch.

Industri kendaraan otonom sendiri terus bergerak maju dengan beragam pendekatan. Di China, misalnya, GAC Aion dan DiDi baru saja meluncurkan mobil otonom Level 4 nan dilengkapi sensor LiDAR canggih. Namun, perjalanan menuju mengambil massal tetap dipenuhi tantangan, termasuk skeptisisme dari beberapa pemimpin industri teknologi. Pendiri Apple pernah mengkritik Tesla dengan menyebut mobil otonomnya berbahaya, mencerminkan perdebatan nan tetap berjalan tentang kesiapan teknologi ini.

Dengan biaya segar Rp 120 miliar, Autolane sekarang mempunyai sumber daya untuk mewujudkan visinya tentang “menara pengawas” digital untuk kendaraan otonom di area komersial. Keberhasilan alias kegagalan mereka bakal menjadi studi kasus berbobot tentang apakah solusi perangkat lunak dan koordinasi dapat mengatasi keterbatasan prasarana fisik, alias justru membuktikan bahwa perombakan kreasi perkotaan nan lebih radikal adalah satu-satunya jawaban jangka panjang untuk mobilitas otonom nan betul-betul efisien dan aman.

Selengkapnya