Tencent Hentikan Promosi Light Of Motiram, Akibat Gugatan Sony

Sedang Trending 4 minggu yang lalu

Telset.id – Dunia game online kembali diguncang sengketa norma nan melibatkan raksasa teknologi. Tencent, konglomerat asal China, secara mengejutkan setuju untuk menghentikan seluruh promosi dan uji publik untuk game terbarunya, Light of Motiram. Keputusan ini bukan tanpa alasan, melainkan respons langsung atas gugatan nan dilayangkan Sony, nan menuding game tersebut sebagai “klon tiruan” dari franchise andalannya, Horizon. Apa implikasinya bagi industri dan masa depan game nan kontroversial ini?

Berdasarkan laporan dari TheGamePost, Tencent telah menyampaikan arsip resmi ke pengadilan nan berisi komitmen untuk tidak melakukan “promosi baru alias pengetesan publik” terhadap Light of Motiram. Langkah ini ditempuh sementara proses norma atas permohonan injunction (penyitaan sementara) dari Sony tetap berjalan. Sebagai imbalannya, Sony memberikan Tencent waktu tambahan untuk merespons permohonan tersebut. Ini adalah sebuah gencatan senjata sementara di meja hijau, tetapi pertempuran sesungguhnya belum berakhir. Tencent sendiri telah mengusulkan permohonan untuk membatalkan seluruh gugatan, dan kedua belah pihak sepakat untuk menjadwalkan sidang untuk kedua permohonan itu di hari nan sama, kemungkinan pada Januari mendatang.

Ilustrasi gugatan norma antara Sony dan Tencent mengenai game Light of Motiram

Bagi nan belum familiar, Light of Motiram adalah game berburu bumi terbuka yang, sejak pertama kali diumumkan, langsung memantik komparasi dengan Horizon Zero Dawn dan Horizon Forbidden West. Kesamaannya begitu mencolok, mulai dari konsep dasar manusia berburu mesin di alam pascakiamat, kreasi visual karakter, hingga materi pemasarannya. Kemiripan inilah nan membikin Sony, dalam arsip gugatannya, menyebut Light of Motiram sebagai “klon nan dibuat dengan sangat mirip” (slavish clone). Ungkapan itu bukan sekadar hiperbola; dia mencerminkan kekhawatiran mendalam Sony terhadap potensi pengikisan nilai intelektual dan pasar dari franchise nan telah dibangun dengan investasi besar.

Lebih Dari Sekedar Mirip: Di Mana Batas Inspirasi dan Plagiarisme?

Pertanyaan mendasar nan mengemuka adalah: di mana pemisah antara terinspirasi dan menjiplak? Industri game memang penuh dengan aliran dan mekanika nan saling mempengaruhi. Namun, kasus Light of Motiram ini menarik lantaran menyerang langsung ke identitas visual dan naratif nan sangat khas. Horizon bukan sekadar game berburu robot; dia mempunyai estetika suku pascakiamat nan unik, kreasi mesin berbasis fauna, dan cerita nan kompleks. Ketika elemen-elemen unik itu muncul dalam corak nan sangat serupa di produk lain, pemisah itu menjadi kabur.

Tencent, di sisi lain, tentu mempunyai pembelaan. Perusahaan raksasa nan juga mempunyai Riot Games (League of Legends), Supercell (Clash of Clans), dan kepemilikan saham di Epic Games serta Ubisoft ini mungkin bakal berdasar bahwa ada perbedaan mendasar. Jika Horizon adalah adventure game third-person nan kuat narasinya, Light of Motiram diklaim lebih konsentrasi sebagai game survival kooperatif. Namun, pertanyaannya, apakah perbedaan aliran cukup untuk mengatasi kemiripan visual nan begitu mencolok di mata konsumen biasa? Inilah nan bakal menjadi bahan perdebatan sengit di pengadilan.

Strategi Tencent dan Dampaknya di Pasar Global

Keputusan Tencent untuk mundur sementara dari promosi adalah langkah strategis nan patut dicermati. Ini menunjukkan bahwa gugatan Sony bukanlah perihal nan bisa dianggap remeh, apalagi oleh raksasa sekaliber Tencent. Dengan menunda peluncuran dan menghilangkan dari sorotan, Tencent mungkin berupaya meredam keributan publik dan konsentrasi pada pertahanan hukum. Namun, langkah ini juga mempunyai akibat bisnis. Momentum pemasaran nan telah dibangun bisa hilang, dan antusiasme organisasi bisa meredup.

Kasus ini juga menyoroti strategi ekspansi Tencent di pasar game global. Sebagai perusahaan dengan portofolio investasi nan sangat luas, Tencent seringkali masuk melalui pendanaan alias akuisisi. Pengembangan game “asli” nan langsung bersaing dengan IP besar bumi seperti ini menunjukkan ambisi nan berbeda. Apakah Light of Motiram adalah uji coba untuk memandang sejauh mana mereka bisa menduplikasi kesuksesan formula Barat? Jika ya, maka respons keras dari Sony ini bisa menjadi pelajaran berbobot tentang sungguh ketatnya perlindungan kewenangan kekayaan intelektual di pasar tersebut.

Lalu, apa nan bisa dipelajari dari kejadian ini bagi kita sebagai pemain dan pengamat industri? Pertama, era di mana kemiripan game bisa dengan mudah “dilupakan” mungkin sudah berakhir. Perusahaan-perusahaan besar sekarang lebih garang dalam melindungi aset imajinatif mereka. Kedua, ini menjadi pengingat bahwa dalam kreativitas, inspirasi kudu melahirkan inovasi, bukan duplikasi. Pasar game dunia semakin matang, dan pemain semakin pandai dalam membedakan nan orisinal dari nan sekadar mengekor.

Nasib Light of Motiram sekarang menggantung pada putusan hakim. Apakah game ini bakal muncul kembali dengan perubahan kreasi nan signifikan, alias justru lenyap ditelan gugatan? Satu perihal nan pasti: gugatan Sony vs Tencent ini telah mencatatkan babak baru dalam perdebatan panjang tentang orisinalitas, inspirasi, dan batas norma di bumi digital nan terus berkembang. Kita tunggu saja kelanjutannya di awal tahun depan.

Selengkapnya