Amazon MGM Studios baru saja merilis trailer pertama untuk Mercy, thriller detektif sci-fi yang menjanjikan aksi mencekam dan crippled penuh misteri. Dibintangi oleh Chris Pratt (Guardians of nan Galaxy), Rebecca Ferguson (Silo, Dune), dan Annabelle Wallis (Malignant), movie ini dijadwalkan tayang di bioskop pada 23 Januari 2026. Trailer yang dirilis hari ini langsung mencuri perhatian, dengan adegan-adegan futuristik di mana Ferguson berperan sebagai hakim AI yang dingin dan tak kenal ampun, memaksa Pratt berjuang untuk membuktikan ketidakbersalahannya.
Diumumkan pertama kali di awal 2024, Mercy kini mendekati debut resminya setelah hampir dua tahun dalam proses produksi. Meski item crippled masih dirahasiakan ketat, cerita movie ini disebut mengikuti seorang detektif veteran—diperankan oleh Pratt—yang dituduh melakukan kejahatan keji. Ia pun dipaksa menghadapi pengadilan di masa depan yang didominasi teknologi AI, di mana satu kesalahan kecil bisa berujung pada hukuman abadi. “Ini bukan sekadar thriller, tapi pertarungan antara manusia dan mesin yang menguji batas keadilan,” ungkap sumber produksi dalam pernyataan resmi.
Trailer singkat berdurasi dua menit itu menampilkan ocular futuristik yang memukau, dengan kota-kota neon yang gelap gulita dan sistem pengadilan AI yang tak bisa dibohongi. Pratt terlihat berlari dari kejaran drone pengawas, sementara Ferguson—sebagai entitas integer yang sempurna—menghukumnya dengan suara dingin: “Belas kasihan adalah untuk yang lemah.” Adegan klimaks menunjukkan Pratt berlutut, memohon ampun di hadapan layar hologram raksasa, menciptakan ketegangan yang membuat penonton gelisah. “Saya belum pernah memainkan peran sekompleks ini. Karakter saya bukan pahlawan biasa, tapi pria biasa yang terjebak di dunia yang tak adil,” kata Pratt dalam wawancara eksklusif dengan Variety.
Naskah Mercy ditulis oleh Marco van Belle, penulis skenario yang relatif jarang tampil di layar lebar—karya pertamanya adalah Arthur & Merlin sebelas tahun lalu. Sementara itu, sutradara Timur Bekmambetov (Wanted, Abraham Lincoln: Vampire Hunter) kembali ke kursi penyutradaraan setelah absen sejak 2021, ketika ia menggarap V2: Escape From Hell. Bekmambetov juga baru saja terlibat sebagai produser di War of nan Worlds: The Attack, movie yang mendapat kritik pedas dari para kritikus. Meski tim kreatif ini mungkin tidak langsung memicu euforia, kombinasi dengan bintang-bintang Hollywood seperti Pratt dan Ferguson diharapkan bisa mengangkat Mercy menjadi salah satu movie sci-fi terpanas tahun depan.
Mercy akan menghadapi persaingan ketat di bulan Januari 2026. Hanya dua minggu sebelumnya, pada 9 Januari, sekuel bencana Greenland: Migration yang dibintangi Gerard Butler akan tayang, menawarkan aksi endurance di tengah kiamat meteor. Tak lama kemudian, pada 30 Januari, Jason Statham kembali dengan Shelter, thriller aksi produksi Black Bear yang menjanjikan ledakan dan kejar-kejaran tanpa henti. “Kami siap bersaing. Mercy punya cerita yang lebih dalam, bukan sekadar ledakan,” tegas produser movie dalam konferensi pers virtual.

Sementara menunggu Mercy, penggemar Chris Pratt bisa menyaksikan proyek-proyek terbarunya yang tak kalah seru. Tahun ini, ia sibuk syuting musim baru The Terminal List dan spin-off-nya, Dark Wolf, seri aksi militer Amazon. Tak lama lagi, pada Natal 2025, Pratt tampil di Way of nan Warrior Kid, komedi keluarga berlatar petualangan seorang mantan Navy SEAL yang membantu keponakannya melawan perundung di sekolah. “Ini movie yang dekat dengan hati saya—tentang ketangguhan dan keluarga,” ujar Pratt.
Tahun 2026 akan semakin padat bagi aktor ini. Pada 3 April, ia kembali sebagai suara Mario di The Super Mario Galaxy Movie, petualangan animasi yang diharapkan meledakkan container office. Selain itu, Pratt juga dijadwalkan mengisi suara Garfield dalam sekuel The Garfield Movie, meski tanggal rilisnya masih misterius. Dengan jadwal selebriti yang melelahkan ini, tak heran Pratt disebut sebagai salah satu aktor tersibuk di Hollywood saat ini.
Di era di mana AI semakin meresap ke kehidupan sehari-hari, Mercy datang di waktu yang tepat. Film ini bukan hanya hiburan, tapi juga komentar tajam tentang etika teknologi, keadilan, dan kemanusiaan. Dengan Ferguson yang karismatik sebagai antagonis AI—mirip perannya di Silo tapi lebih gelap—dan Pratt yang selalu bisa diandalkan sebagai pahlawan relatable, trailer ini sudah cukup untuk membuat penonton memesan tiket lebih awal.