– Aset mata duit mata uang digital nan beberapa minggu terakhir mengalami penurunan, telah menghantui portofolio para investornya. Penurunan ini pun menimbulkan banyak spekulasi mengenai dimulainya bear market, seperti nan terjadi sepanjang tahun 2022.
Namun, ada juga nan menganggap bahwa penurunan ini adalah koreksi sehat nan bakal membawa Bitcoin dan aset mata uang digital lainnya ke ATH baru.

Salah satu influencer mata uang digital di media sosial X berjulukan CryptoBirb, mengingatkan para followernya untuk memahami struktur dasar bear market sebelum menyimpulkan bahwa setiap penurunan nilai adalah akhir dari segalanya.
Mengacu pada kerangka klasik pasar keuangan, dia menjelaskan bahwa bear market primer bukanlah kejatuhan singkat, melainkan tren turun jangka panjang nan diselingi reli-reli sementara, sehingga nilai betul-betul mencerminkan skenario terburuk nan mungkin terjadi.
“Bear market primer selalu berkembang melalui tiga fase psikologis nan jelas,” ungkap CryptoBirb.
Fase pertama dimulai ketika angan nan dulu menopang keputusan beli mulai ditinggalkan. Optimisme memudar, narasi positif runtuh, dan pasar mulai meragukan dugaan nan sebelumnya dianggap pasti.
Fase kedua ditandai oleh tekanan fundamental. Penurunan pendapatan, pelemahan ekonomi, alias kondisi makro nan memburuk mendorong tindakan jual lebih luas. Di tahap ini, nilai turun lebih sigap dan reli menjadi semakin dangkal. Banyak pelaku pasar mulai menjual bukan lantaran panik, tetapi lantaran kerasionalan nan pahit.
“Puncaknya terjadi pada fase ketiga, dan nan paling menyakitkan. Di sini, penjualan terjadi tanpa memandang nilai. Investor tidak lagi peduli apakah aset terlihat murah alias mahal,” ujarnya.
Baca Juga: Bukan Kurang Permintaan, Ini Biang Keladi Harga Bitcoin Lesu
Menurutnya, pada tahap ini ketakutan telah mendominasi, buletin apa pun dibaca secara negatif dan banyak posisi terpaksa dilikuidasi lantaran tekanan margin alias kebutuhan likuiditas. CryptoBirb menyebut tiga fase ini sebagai periode ketika pesimisme menjadi konsensus.
Dalam perihal ini, dia juga menyoroti bahwa sebelum kepanikan betul-betul meledak, pasar biasanya melewati tahap distribusi. Pada fase ini, pelaku ahli mulai mengurangi eksposur mereka, sementara publik justru masuk terlambat, membeli di nilai tinggi dengan kepercayaan bahwa tren naik bakal terus berlanjut.
“Kepemilikan aset beranjak dari tangan nan kuat ke tangan nan lebih lemah,” kata CryptoBirb.
Ketika fase panic selling tiba, penurunan nilai berjalan lebih sigap dibandingkan fase bullish sebelumnya. Tekanan leverage memperparah situasi, lantaran penanammodal nan menggunakan pinjaman dipaksa menjual untuk memenuhi pemisah resiko. Proses ini menciptakan spiral turun nan sering kali terasa tak terkendali.
Pada akhirnya, bear market mencapai fase hilangnya minat beli. Investor nan telah mengalami kerugian besar memilih menjauh, apalagi dari aset berbobot tinggi nan sudah sangat undervalued. Pasar menjadi sepi, volume mengering, dan sentimen didominasi keputusasaan.
“Secara historis, justru fase inilah nan sering menandai titik-titik kesempatan jangka panjang, meski nyaris tak ada nan berani bertindak saat itu,” pungkas CryptoBirb.
Anatomy of bear market:
"Primary bear markets are long downward price movements, interrupted by occasional rallies, that continue until prices have discounted the worst that is apt to occur.
They, too, are characterized by three separate phases: first, abandonment of hopes… pic.twitter.com/mclorvc7CO
Disclaimer: Semua konten nan diterbitkan di website Cryptoharian.com ditujukan sarana informatif. Seluruh tulisan nan telah tayang di bukan nasihat investasi alias saran trading.
Sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada mata duit kripto, senantiasa lakukan riset lantaran mata uang digital adalah aset volatil dan berisiko tinggi. tidak bertanggung jawab atas kerugian maupun untung anda.
2 minggu yang lalu