– Salah satu ahli ekonomi ternama, ialah Steve Hanke melontarkan kritik keras terhadap Bitcoin di tengah tekanan pasar nan terus berlanjut. Profesor ekonomi terapan di John Hopkins University itu menilai kejatuhan terbaru Bitcoin sebagai bukti bahwa aset mata uang digital tersebut tidak mempunyai nilai fundamental.
Dalam unggahan di platform X pada 16 Desember, Hanke menegaskan bahwa Bitcoin hanyalah instrumen spekulatif semata. Pernyataan itu disampaikan saat nilai Bitcoin diperdagangkan di bawah US$ 86.000, setelah mengalami penurunan tajam dan beberapa hari terakhir.

Pandangan tersebut sejalan dengan sikap skeptis nan telah lama dia pegang. Sejak kemunculan Bitcoin, Hanke konsisten menolak legitimasi aset digital itu sebagai mata uang. Menurutnya, volatilitas ekstrem membikin Bitcoin tidak layak digunakan sebagai perangkat transaksi sehari-hari maupun sebagai perangkat penyimpan nilai nan stabil.
Ia juga kerap menyebut reli nilai Bitcoin sebagai ilusi pasar nan digerakkan spekulasi, dan berulang kali memperingatkan bahwa lonjakan semacam itu pada akhirnya bakal berujung pada kejatuhan. Dalam beragam kesempatan, Hanke apalagi menyebut Bitcoin sebagai “fantasi finansial” nan tidak menghasilkan nilai ekonomi nyata.
Kritiknya tidak berakhir di level pasar. Hanke secara terbuka menentang pendapat kebijakan seperti pembentukan persediaan strategis Bitcoin oleh Amerika Serikat. Menurutnya, langkah tersebut justru kontraproduktif lantaran mengalihkan sumber daya dari sektor nan betul-betul mendorong pertumbuhan ekonomi, seperti prasarana dan pembuatan lapangan kerja.
Baca Juga: Ketika Tokoh Kripto Sekelas Michael Saylor Tak Dapat Selamatkan Harga Bitcoin
Selain itu, dia juga menyoroti mengambil Bitcoin di tingkat negara, termasuk keputusan El Salvador menjadikannya perangkat pembayaran sah. Hanke memperingatkan bahwa kebijakan semacam itu beresiko mengguncang stabilitas ekonomi dan memperburuk tekanan inflasi, terutama di negara berkembang.
Komentar terbaru ini muncul di tengah gejolak pasar mata uang digital nan makin dalam. Bitcoin baru-baru ini sempat menyentuh level US$ 85.000, turun sekitar 4 persen dalam satu hari dan mencatatkan empat hari penurunan beruntun. Meski sempat memantul, nilai Bitcoin pada saat penulisan tetap berada di kisaran US$ 87.083, melemah tipis dalam 24 jam terakhir.
Jika dilihat secara keseluruhan, Bitcoin sekarang terkoreksi lebih dari 30 persen dari rekor tertingginya di atas US$ 126.000 nan tercapai pada Oktober 2025. Analis pasar menilai penurunan ini dipicu oleh kombinasi faktor, mulai dari kekhawatiran kebijakan suku kembang bank sentral, likuidasi paksa nan menembus US$ 380 juta, volume perdagangan akhir tahun nan tipis, hingga kekhawatiran meluas soal potensi gelembung di sektor kepintaran buatan.
Tidak hanya itu, peringatan dari Federal Reserve turut memperburuk sentimen. Sejumlah pihak menilai bahwa jika tekanan bersambung hingga 2026, pasar mata uang digital berisiko mengalami kontraksi nilai hingga US$ 3 triliun.
Disclaimer: Semua konten nan diterbitkan di website Cryptoharian.com ditujukan sarana informatif. Seluruh tulisan nan telah tayang di bukan nasihat investasi alias saran trading.
Sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada mata duit kripto, senantiasa lakukan riset lantaran mata uang digital adalah aset volatil dan berisiko tinggi. tidak bertanggung jawab atas kerugian maupun untung anda.
2 minggu yang lalu