Harga Bitcoin Kembali Berantakan, Ada Apa?

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

– Harga Bitcoin kembali berada di bawah tekanan dan sekarang diperdagangkan di bawah level psikologis US$ 90.000. Pada perdagangan terbarunya, BTC sempat mengalami penurunan hingga kisaran US$ 88.794, melemah sekitar 1,46 persen dalam 24 jam terakhir, seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap aspek makro dan dinamika internal pasar derivatif.

Salah satu pemicu utama pelemahan hari ini datang dari spekulasi kebijakan Bank of Japan (BoJ). Meski belum ada pengumuman resmi mengenai kenaikan suku bunga, pasar merespon pola historis. Data menunjukkan bahwa pada periode sebelumnya, Bitcoin condong turun antara 23 persen hingga 31 persen setelah BoJ meningkatkan suku bunga.

Jepang sendiri merupakan pemegang asing terbesar obligasi pemerintah Amerika Serikat. Jika BoJ betul-betul mengetatkan kebijakan moneter, penanammodal dunia berpotensi mengurangi eksposur terharap aset beresiko. Dalam kondisi seperti ini, Bitcoin sering menjadi salah satu aset nan terdampak lebih awal.

Di luar aspek makro, tekanan struktural juga datang dari pasar opsi. Kepala Bitwise Alpha, Jeff Park, menilai bahwa potensi kenaikan nilai Bitcoin saat ini tetap tertahan oleh tindakan jual berkepanjangan dari pemegang BTC jangka panjang, alias nan kerap disebut OG Bitcoin holders.

Menurut Park, golongan ini aktif menjual call options, sebuah strategi nan secara efektif membatasi pergerakan naik harga. Ketika call dijual, market maker nan berada di sisi berlawanan terpaksa melakukan lindung nilai, nan pada akhirnya menciptakan tekanan jual tambahan di pasar spot.

Park menegaskan bahwa meskipun ETF Bitcoin terus membeli BTC dan juga opsi call, permintaan tersebut belum cukup kuat untuk menetralkan suplai opsi dari para pemegang lama. Akibatnya, nilai Bitcoin condong bergerak datar dan susah mencetak reli agresif.

Baca Juga: Analis Ungkap Risiko Tersembunyi di Balik Konsolidasi Harga Bitcoin

Kondisi ini tercermin jelas pada penurunan volatilitas, implied volatility Bitcoin nan sempat berada di sekitar 63 persen pada akhir November, sekarang turun tajam ke kisaran 44 persen. Volatilitas nan rendah biasanya identik dengan pergerakan nilai nan sempit dan minim momentum, sehingga kesempatan breakout ke atas menjadi semakin terbatas.

Menariknya, pasar juga menunjukkan perbedaan perilaku antara penanammodal tradisional dan pelaku mata uang digital native. Opsi nan mengenai dengan ETF Bitcoin iShares (IBIT) menunjukkan minat kuat terhadap posisi bullish, dengan penanammodal bersedia bayar lebih mahal untuk eksposur kenaikan harga. Sebaliknya, pasar opsi Bitcoin di platform mata uang digital tetap memperlihatkan permintaan upside nan relatif lemah.

Perbedaan ini mengindikasikan bahwa penanammodal institusional tradisional mulai bersiap untuk nilai nan lebih tinggi, sementara pemegang mata uang digital lama justru memanfaatkan reli untuk menjual dan mengunci untung melalui strategi opsi.

Selama pemegang jangka panjang terus memasok pasar dengan call options, Bitcoin beresiko tetap terjebak dalam lingkungan suplai tinggi dan volatilitas rendah. Jeff Park menilai bahwa arah nilai baru bakal berubah secara signifikan jika salah satu dari dua perihal terjadi, ialah pelambatan tindakan jual opsi oleh whale, alias lonjakan tajam permintaan terhadap opsi ETF Bitcoin.

Hingga katalis tersebut muncul, Bitcoin kemungkinan tetap bakal bergerak tertahan, meskipun mengambil institusional terus meningkat dan minat terhadap ETF tetap kuat. Untuk saat ini, kombinasi ketidakpastian makro dan tekanan struktural membikin momentum bullish menjadi susah berkembang.

Disclaimer: Semua konten nan diterbitkan di website Cryptoharian.com ditujukan sarana informatif. Seluruh tulisan nan telah tayang di bukan nasihat investasi alias saran trading.

Sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada mata duit kripto, senantiasa lakukan riset lantaran mata uang digital adalah aset volatil dan berisiko tinggi. tidak bertanggung jawab atas kerugian maupun untung anda.

Selengkapnya