Pasar mata uang digital kembali mengalami tekanan dalam beberapa hari terakhir. Bitcoin, sebagai aset utama di pasar kripto, bergerak melemah dan kandas mempertahankan momentum positif nan sempat terbentuk sebelumnya.
Kondisi ini tidak berdiri sendiri, melainkan terjadi di tengah meningkatnya perhatian pasar terhadap aspek makro global, khususnya kebijakan moneter Jepang.

Bank of Japan disebut-sebut bakal meningkatkan suku kembang acuannya pada pertemuan kebijakan 18 hingga 19 Desember 2025. Kabar ini menjadi perhatian besar lantaran Jepang selama puluhan tahun dikenal sebagai sumber likuiditas murah bagi pasar finansial global.
Ketika arah kebijakan mulai berubah, pasar mata uang digital ikut bereaksi dengan meningkatnya tekanan jual dan menurunnya minat risiko.
Pergerakan ini juga tercermin dalam info on-chain, nan menunjukkan peningkatan aliran Bitcoin ke bursa serta penurunan aktivitas leverage. Kombinasi antara sentimen makro dan sinyal teknikal membikin pasar mata uang digital bergerak lebih melindungi menjelang keputusan resmi dari Bank of Japan.
Proyeksi Kenaikan Suku Bunga Acuan Jepang
Bank of Japan diperkirakan bakal meningkatkan suku kembang acuannya sebesar 25 pedoman poin pada 19 Desember 2025.
🚨 BREAKING
BANK OF JAPAN CONFIRMS THEY WILL HIKE INTEREST RATES TO 75 BPS ON DECEMBER 19.
THIS WOULD BE THE HIGHEST RATE LEVEL IN OVER 30 YEARS.
BEARISH NEWS FOR FINANCIAL MARKETS. pic.twitter.com/kD2iv7ssYe
Jika keputusan ini diambil, suku kembang bakal naik dari 0,5% menjadi 0,75%, nan merupakan level tertinggi sejak pertengahan 1990-an.
Meskipun secara nominal terlihat mini dibandingkan suku kembang negara lain, langkah ini mempunyai akibat besar lantaran posisi Jepang dalam sistem finansial global.
Selama bertahun-tahun, Jepang menerapkan kebijakan moneter nan sangat longgar. Suku kembang rendah membikin yen menjadi mata duit favorit untuk dipinjam.
Kondisi ini melahirkan strategi nan dikenal sebagai carry trade. Dalam praktiknya, penanammodal meminjam yen dengan kembang rendah, kemudian menukarkannya ke mata duit lain untuk membeli aset dengan potensi imbal hasil lebih tinggi, termasuk saham, obligasi, dan kripto.
Ketika suku kembang Jepang naik, biaya untuk mempertahankan strategi carry trade ikut meningkat. Investor nan sebelumnya nyaman memegang posisi berbasis pinjaman yen mulai menghadapi akibat tambahan.
Akibatnya, banyak pelaku pasar memilih untuk menutup posisi tersebut dengan menjual aset berisiko dan mengembalikan pinjaman. Proses ini dapat mengurangi likuiditas di pasar finansial secara keseluruhan.
Dampaknya terhadap pasar mata uang digital cukup signifikan. Ketika likuiditas berkurang, volume beli condong melemah.
Sebaliknya, tekanan jual meningkat lantaran penanammodal berupaya mengurangi eksposur terhadap aset nan dianggap berisiko tinggi.
Kondisi inilah nan membikin pasar mata uang digital sering kali bereaksi negatif terhadap kebijakan pengetatan moneter Jepang, meskipun kebijakan tersebut terjadi di luar ekosistem mata uang digital itu sendiri.
Data pasar prediksi menunjukkan probabilitas kenaikan suku kembang nan sangat tinggi. Hal ini menandakan bahwa pelaku pasar sudah mengantisipasi langkah Bank of Japan sejak jauh hari.
Namun, antisipasi ini tidak selalu berfaedah pasar bakal bergerak tenang. Penyesuaian posisi nan terjadi sebelum keputusan resmi diumumkan tetap dapat memicu tekanan jangka pendek.
Carry Trade dan Dampaknya ke Pasar Keuangan
Carry trade bukan hanya kejadian nan berakibat pada kripto, tetapi juga pada pasar finansial dunia secara luas.
What Factors To Watch?
Global markets under pressure for 3rd straight day-Asian markets open negative but in a small range
Global risk off sentiment continues-as expected rate hike for December 19-by Bank of Japan-threat remains for unwinding of yen carry trade-Gold continues…
Selama yen tetap lemah dan suku kembang Jepang rendah, strategi ini mendorong aliran biaya ke beragam aset berisiko. Hal ini membantu meningkatkan likuiditas, mendorong nilai aset naik, dan menciptakan kondisi pasar nan relatif kondusif.
Namun, ketika kondisi tersebut berubah, dampaknya bisa berbalik arah. Kenaikan suku kembang Jepang berpotensi memperkuat yen.
Penguatan yen membikin posisi carry trade menjadi kurang menguntungkan, apalagi merugikan. Investor nan terlambat menutup posisi bisa menghadapi kerugian ganda, baik dari selisih nilai tukar maupun dari penurunan nilai aset nan mereka pegang.
Dalam konteks pasar kripto, akibat ini sering terlihat melalui peningkatan aliran aset ke bursa. Data on-chain menunjukkan bahwa menjelang keputusan Bank of Japan, Bitcoin mulai dipindahkan ke platform perdagangan. Pola ini biasanya mencerminkan kesiapan penanammodal untuk menjual, bukan untuk menyimpan jangka panjang.
Selain itu, pasar derivatif juga menunjukkan tanda-tanda penyesuaian. Penurunan funding rate menandakan bahwa posisi long mulai ditutup dan leverage dikurangi.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa pelaku pasar memilih untuk bersikap lebih hati-hati, mengantisipasi potensi gejolak likuiditas setelah keputusan suku kembang diumumkan.
Carry trade nan mulai terurai tidak hanya memengaruhi satu aset alias satu pasar. Efeknya dapat menyebar ke beragam kelas aset secara bersamaan. Oleh lantaran itu, perubahan kebijakan moneter Jepang sering kali menjadi katalis krusial bagi pergerakan pasar global, termasuk kripto.
Analisis Harga Bitcoin
Dari sisi teknikal, Bitcoin saat ini berada dalam fase tekanan nan tetap cukup jelas. Pergerakan nilai menunjukkan bahwa pasar belum menemukan arah nan kuat untuk melanjutkan apresiasi.
Area pemisah bawah saat ini berada di sekitar $84,660, sementara pemisah atas berada di kisaran $94,476. Selama nilai bergerak di antara dua area ini, volatilitas condong dipengaruhi oleh sentimen jangka pendek.
Grafik Harian BTCUSD

Indikator teknikal juga belum memberikan sinyal nan mendukung pemulihan dalam waktu dekat. Indikator RSI tetap berada dalam area nan mencerminkan kekuasaan tekanan jual.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kekuatan beli belum cukup untuk membalikkan arah pergerakan harga. Sementara itu, parameter EMA tetap menunjukkan kecenderungan negatif, dengan nilai bergerak di bawah rata-rata utama.
Kondisi teknikal ini sejalan dengan info on-chain nan menggambarkan meningkatnya kehati-hatian investor.
Laporan menunjukkan adanya tekanan dari sisi unrealized loss nan cukup besar, serta tanda-tanda penurunan aktivitas jaringan. Situasi ini memperkuat pandangan bahwa pasar sedang berada dalam fase penyesuaian, bukan fase ekspansi.
Sejarah juga menjadi referensi krusial bagi pelaku pasar. Pada beberapa periode kenaikan suku kembang Jepang sebelumnya, Bitcoin mengalami koreksi nan cukup dalam.
Meskipun kondisi pasar tidak pernah identik sepenuhnya, pola historis ini membikin banyak penanammodal memilih untuk bersikap melindungi menjelang keputusan kebijakan terbaru.
Yang menarik, beberapa parameter menunjukkan bahwa sebagian besar penyesuaian mungkin sudah mulai terjadi sebelum pengumuman resmi.
Hal ini terlihat dari peningkatan aliran ke bursa dan penurunan leverage. Dengan kata lain, pasar tidak menunggu kejutan, tetapi bergerak lebih awal untuk mengurangi risiko.
Kesimpulan
Tekanan nan terjadi di pasar mata uang digital saat ini mencerminkan sensitivitas tinggi terhadap aspek makro global, khususnya kebijakan moneter Jepang.
Kenaikan suku kembang referensi berpotensi mempersempit ruang bagi strategi carry trade nan selama ini menopang likuiditas global. Ketika likuiditas menyusut, aset berisiko seperti mata uang digital condong menghadapi tekanan.
Dalam kondisi seperti ini, menjaga manajemen akibat menjadi perihal nan paling penting. Menghindari penggunaan leverage berlebihan, memahami konteks makro, serta mempunyai rencana nan jelas menjadi kunci untuk memperkuat di tengah volatilitas.
Pasar mata uang digital selalu bergerak dalam siklus, dan keahlian mengelola akibat sering kali lebih menentukan hasil jangka panjang dibandingkan mengejar pergerakan nilai jangka pendek.
Disclaimer: Semua konten nan diterbitkan di website Cryptoharian.com ditujukan sarana informatif. Seluruh tulisan nan telah tayang di bukan nasihat investasi alias saran trading.
Sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada mata duit kripto, senantiasa lakukan riset lantaran mata uang digital adalah aset volatil dan berisiko tinggi. tidak bertanggung jawab atas kerugian maupun untung anda.
2 minggu yang lalu