Kasus antara perusahaan kreator pasar Wintermute dan bursa Binance menjadi sorotan besar di awal November.
Rumor tentang gugatan norma nan beredar sempat mengguncang pasar kripto, terutama lantaran muncul setelah koreksi besar pada Oktober.

Namun, setelah penjelasan dari pihak Wintermute, situasi mulai mereda. Meski begitu, akibat psikologis terhadap nilai Bitcoin tetap terasa hingga kini.
Kasus Wintermute dan Binance: Klarifikasi nan Menenangkan Pasar
Isu ini bermulai dari peristiwa pada 10 Oktober 2025, ketika pasar mata uang digital mengalami koreksi besar nan menghapus lebih dari $20 miliar posisi leverage. Kejadian tersebut memicu gelombang likuidasi di beragam bursa, dan banyak pelaku pasar nan kehilangan biaya dalam waktu singkat.
Massive rumors around Wintermute vs Binance after the October crash 🚨
Here’s what’s happening:
People is now claiming that Wintermute, one of crypto’s largest market makers is preparing to sue Binance
Over unfair ADL executions during the October 10 crash that liquidated… pic.twitter.com/icBd32E0gi
Beberapa hari setelah kejadian itu, beredar berita bahwa Wintermute mengalami kerugian besar dan berencana menggugat Binance lantaran sistem likuidasi otomatis nan dianggap tidak adil. Spekulasi ini sigap menyebar di media sosial, terutama di X, dan membikin banyak penanammodal panik.

Namun, CEO Wintermute, Evgeny Gaevoy, langsung membantah tuduhan tersebut. Ia menulis di X bahwa pihaknya tidak pernah mempunyai rencana untuk menggugat Binance, apalagi tidak memandang argumen untuk melakukannya.
Ia menegaskan bahwa hubungan dengan Binance tetap baik lantaran keduanya telah bekerja sama selama bertahun-tahun.
Gaevoy juga menjelaskan bahwa sistem manajemen akibat Wintermute melangkah dengan baik, sehingga perusahaan tetap stabil meskipun terjadi likuidasi besar.
Dalam wawancara di podcast Big Brain milik The Block, dia mengakui bahwa beberapa posisi memang terlikuidasi pada nilai nan tidak masuk akal, tetapi perihal itu tidak memengaruhi kondisi finansial perusahaan secara keseluruhan.
Pernyataan ini menenangkan banyak pihak. Pasalnya, jika rumor tersebut benar, bentrok antara dua pemain besar bisa menimbulkan pengaruh domino terhadap likuiditas pasar.
Para analis menilai bahwa tindakan Gaevoy untuk berbincang langsung merupakan langkah nan tepat dan membantu mengembalikan rasa percaya di kalangan pelaku pasar.
Di sisi lain, Binance telah mengonfirmasi bahwa mereka menyalurkan kompensasi sebesar $283 juta kepada pengguna nan terdampak, terutama mengenai aset sintetis seperti USDe, BNSOL, dan WBETH nan sempat kehilangan nilai acuannya.
Bursa ini juga menyiapkan biaya tambahan sebesar $400 juta, termasuk pinjaman kembang rendah sebesar $100 juta untuk membantu lembaga melanjutkan aktivitas perdagangan. Meski begitu, tidak ada konfirmasi apakah Wintermute termasuk penerima kompensasi tersebut.
Data blockchain menunjukkan bahwa Wintermute sempat mengirim sekitar $700 juta aset mata uang digital ke Binance beberapa jam sebelum koreksi besar itu terjadi dan menarik jumlah nan nyaris sama sesudahnya.
Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas mereka tetap melangkah normal. Dengan sanggahan langsung dari Gaevoy, rumor gugatan norma akhirnya mereda dan pasar berangsur tenang.
Bagi banyak pelaku industri, kejadian ini menjadi contoh bahwa komunikasi terbuka dan sigap sangat krusial dalam menjaga stabilitas pasar.
Ketika rumor dapat ditepis dengan pernyataan nan jelas, sentimen negatif bisa berubah menjadi tanda kepercayaan baru terhadap kekuatan ekosistem kripto.
Analisis Harga Bitcoin: Koreksi dan Potensi
Walaupun rumor norma telah dibantah, pergerakan Bitcoin tetap tidak lepas dari tekanan. Bulan Oktober dikenal sebagai “Red October” lantaran koreksi besar nan melanda nyaris seluruh aset kripto. Tekanan tidak hanya datang dari pasar derivatif, tetapi juga dari kondisi ekonomi global.
Beberapa hari setelah kasus Wintermute mencuat, info menunjukkan adanya arus keluar besar dari ETF Bitcoin spot, terutama dari BlackRock IBIT, nan mencatat penarikan sekitar $291 juta dalam satu hari. Aksi ini menandakan kehati-hatian penanammodal institusional setelah volatilitas meningkat.
Grafik Harian BTCUSD

Harga Bitcoin sempat menyentuh pemisah bawah di sekitar $100,900, sebelum kembali bergerak stabil di awal November. Namun, banyak analis memandang kondisi ini bukan sebagai tanda berakhirnya tren positif, melainkan fase koreksi sehat sebelum pasar melanjutkan pergerakan naik.
CEO SynFutures, Rachel Lin, menyebut bahwa penurunan ini merupakan bagian dari siklus alami Bitcoin setelah halving, di mana periode volatilitas tinggi sering diikuti oleh penguatan menjelang akhir tahun.
Secara historis, bulan November condong memberikan hasil positif bagi Bitcoin dengan rata-rata kenaikan sebesar 42% dalam 12 tahun terakhir.
Selain itu, beberapa aspek mendukung kesempatan pemulihan, antara lain:
- Aliran biaya institusional mulai kembali masuk setelah tekanan Oktober mereda.
- Likuiditas antar bursa membaik, seiring berkurangnya kekhawatiran akibat rumor Wintermute dan Binance.
- Data on-chain menunjukkan akumulasi dari penanammodal jangka panjang nan memandang koreksi ini sebagai peluang.
Dengan support aspek tersebut, banyak analis memperkirakan pemisah atas Bitcoin berada di sekitar $124,600 menjelang akhir tahun. Namun, jika terjadi tekanan baru dari aspek eksternal, pemisah bawah $100,900 tetap menjadi area krusial untuk menjaga stabilitas pasar.
Faktor makroekonomi juga berkedudukan besar dalam arah harga. Pengumuman dari Federal Reserve mengenai berakhirnya kebijakan pengetatan likuiditas dan potensi pemangkasan suku kembang di tahun depan menjadi sinyal positif bagi aset berisiko, termasuk kripto.
Selain itu, meredanya ketegangan perdagangan dunia turut memberi ruang bagi penanammodal untuk kembali masuk ke pasar kripto.
Meskipun prospek jangka menengah terlihat optimis, pasar tetap menghadapi tantangan besar. Likuidasi besar pada Oktober menunjukkan bahwa penggunaan leverage berlebihan tetap menjadi masalah serius.
Banyak analis menekankan pentingnya pengelolaan akibat dan tidak mengikuti euforia pasar secara membabi buta.
Dibandingkan dengan siklus sebelumnya, pergerakan nilai saat ini tergolong lebih stabil. Tekanan jual nan terjadi lebih banyak berasal dari sistem otomatis, bukan tindakan jual besar oleh lembaga finansial besar. Hal ini menunjukkan bahwa struktur pasar sekarang jauh lebih kuat dan terdistribusi dengan lebih baik.
Kasus antara Wintermute dan Binance juga memperlihatkan bahwa krisis kepercayaan bisa dihindari jika komunikasi antara pelaku besar melangkah dengan baik.
Ketika salah satu pihak dengan sigap memberikan penjelasan, pengaruh kepanikan bisa dicegah sebelum memengaruhi pasar secara luas.
Kesimpulan
Klarifikasi dari CEO Wintermute sukses menghapus rumor nan sempat mengguncang pasar kripto.
Langkah itu menegaskan pentingnya transparansi dalam industri nan sering diwarnai spekulasi. Sementara nilai Bitcoin sempat melemah hingga mendekati pemisah bawah $100,900, beragam parameter sekarang menunjukkan tanda pemulihan nan sehat.
Jika sentimen positif terus berlanjut, Bitcoin berkesempatan kembali menguat menuju pemisah atas di sekitar $124,600 dalam beberapa bulan ke depan. Meski begitu, kehati-hatian tetap diperlukan, lantaran volatilitas tetap menjadi bagian alami dari pasar kripto.
Kisah antara Wintermute dan Binance menjadi pengingat bahwa kepercayaan adalah aset paling berbobot dalam bumi digital ini. Selama komunikasi dan manajemen akibat dijaga, pasar mata uang digital mempunyai kesempatan besar untuk menutup tahun ini dengan catatan nan lebih stabil dan optimis.

Disclaimer: Semua konten nan diterbitkan di website Cryptoharian.com ditujukan sarana informatif. Seluruh tulisan nan telah tayang di bukan nasihat investasi alias saran trading.
Sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada mata duit kripto, senantiasa lakukan riset lantaran mata uang digital adalah aset volatil dan berisiko tinggi. tidak bertanggung jawab atas kerugian maupun untung anda.
1 bulan yang lalu