Pengamat: Bubble Bitcoin Lebih Dipicu Siklus Ekonomi, Bukan Halving

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

– Pergerakan nilai Bitcoin (BTC) jauh lebih dipengaruhi siklus ekonomi makro dibandingkan narasi terkenal siklus halving. Hal ini disampaikan oleh salah satu pengamat pasar mata uang digital Sminston With setelah menyelesaikan kajian statistik nan mengaitkan nilai Bitcoin dengan ISM Purchasing Manager’s Index (PMI).

Menurutnya, lonjakan nilai Bitcoin nan berkarakter ‘bubbles’ tidak pernah terjadi besar-besaran saat ekonomi berada dalam fase kontraksi.

“Bitcoin tidak pernah naik lebih dari 2,5x garis power law support ketika PMI berada di bawah 50,” ungkap With.

With menjelaskan, PMI di bawah 50 menandakan kontraksi ekonomi, sementara jika di atas 50 menandakan ekspansi.

PMI Jelaskan 26 persen Variasi Harga Bitcoin

Dalam risetnya, With membandingkan nilai mentah ISM PMI dengan deviasi harga Bitcoin dari support power law (menggunakan 0,05 quantile power law sebagai acuan). Hasilnya mengejutkan:

  • R² = 0,26 → PMI saja menjelaskan 26 persen ragam valuasi Bitcoin
  • p-value = 1,2e-13 → hubungan sangat signifikan secara statistik

“Untuk satu parameter makro, ini sangat besar. Dan p-value nan nyaris nol berfaedah hubungan ini bukan kebetulan,” ujarnya.

Data tersebut menunjukkan bahwa ketika PMI masuk fase ekspansi ekonomi, Bitcoin condong bergerak jauh di atas garis supportnya. Sebaliknya, saat PMI berada di area kontraksi, Potensi bubble Bitcoint terbukti terbatas.

Baca Juga: Konglomerat Satu Ini Yakin Kebijakan Baru The Fed Bisa Picu Reli Bitcoin

Halving Bukan Faktor Utama

Ia juga secara terbuka menantang narasi lama di organisasi kripto.

“Siklus halving itu berlebihan. Gunakanlah prinsip kesederhanaan, ialah bubble Bitcoin membesar saat ekonomi berkembang,” kata With.

Menurutnya, halving mungkin memengaruhi struktur pasokan. Tetapi likuiditas dan ekspansi ekonomi adalah bahan bakar nan mendorong lonjakan nilai ekstrem.

Jika kajian ini benar, maka:

  • Bull run besar Bitcoin lebih berjuntai pada ekspansi ekonomi global.
  • Kebijakan moneter, pertumbuhan industri, dan sentimen makro menjadi variabel kunci.
  • Mengabaikan info ekonomi seperti PMI bisa membikin penanammodal salah membaca fase siklus.

“Dengan kata lain, Bitcoin bukan bergerak dalam ruang hampa. Aset tersebut mengikuti degub ekonomi dunia lebih dekat dari nan banyak orang kira,” pungkas With.

You may not like that Bitcoin bubbles are tied-in to the Macro cycles, but no matter how you skin it, it appears to be a strong driver.
– – –
Just take a look at THIS – BTC price has NEVER done more than a 2.5x off its power law support line when PMI was below 50 (contraction).… pic.twitter.com/q8k5k7cuhZ

— Sminston With 👁 (@sminston_with) December 22, 2025

Disclaimer: Semua konten nan diterbitkan di website Cryptoharian.com ditujukan sarana informatif. Seluruh tulisan nan telah tayang di bukan nasihat investasi alias saran trading.

Sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada mata duit kripto, senantiasa lakukan riset lantaran mata uang digital adalah aset volatil dan berisiko tinggi. tidak bertanggung jawab atas kerugian maupun untung anda.

Selengkapnya