– Pasar derivatif Bitcoin kembali menunjukkan sikap hati-hati, meski The Fed sudah mulai beranjak ke kebijakan nan lebih ekspansif. Alih-alih memicu optimisme, kondisi makro nan rentan dan performa Bitcoin nan tetap kalah dari emas membikin para trader tetap waspada.
Keputusan The Fed pada hari Rabu untuk mempertahankan suku kembang di 3,75 persen memang sesuai ekspektasi, namun penyusunan votenya tidak lazim. Pasalnya, dua personil mau mempertahankan suku kembang di 4 persen. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan pandangan internal nan cukup tajam. Dalam konvensi pers, Jerome Powell kembali menegaskan resiko nan belum mereda, mulai dari pelemahan tenaga kerja hingga inflasi nan tetap lengket.

Namun, sorotan utama justru datang dari kebijakan baru, ialah The Fed kembali membeli obligasi pemerintah jangka pendek guna ‘mengelola likuiditas’, dengan program awal senilai US$ 40 miliar. Langkah ini menandai pergeseran besar dari periode pengetatan moneter 2022-2024, nan menurunkan neraca bank sentral dari US$ 9 triliun menjadi US$ 6,6 triliun.
Peningkatan likuiditas ini semestinya mendukung kredit, investasi, dan konsumsi. Tetapi pasar Bitcoin tampaknya tidak terburu-buru menyambutnya.
Options Market Tunjukkan 70 Persen Peluang BTC Tetap di Bawah US$ 100.000
Data pasar opsi menunjukkan bahwa perjanjian call BTC dengan strike US$ 100.000 jatuh tempo 30 Januari 2026, mengindikasikan 70 persen probabilitas Bitcoin bakal tetap berada di bawah level tersebut.
Harga premi call tersebut sekarang hanya US$ 3.440, turun drastis dari US$ 12.700 sebulan lalu, menandakan berkurangnya ekspektasi bullish agresif. Opsi ini bakal gosong jika BTC ditutup di bawah US$ 100.000, namun potensi untung tak terbatas jika nilai justru melesat di atasnya.
Baca Juga: Polymarket: Mayoritas Trader Tak Percaya Bitcoin Capai Rekor Baru 2025
Menariknya, perjanjian itu kadaluwarsa dua hari setelah FOMC berikutnya (28 Januari), sehingga sensitivitas pasar terhadap terhadap pasar kebijakan suku kembang bakal sangat tinggi. Saat ini probabilitas pemangkasan suku kembang pada Januari hanya 24 persen, menurut CME FedWatch.
Mengapa Bitcoin Tak Ikut dalam Euforia Likuiditas?
Sementara saham menikmati kebijakan ekspansif, SnP 500 naik 13 persen dalam enam bulan, Bitcoin bergerak lambat. Alasannya, menurut analis:
- Investor nan keluar dari obligasi jangka pendek biasanya tidak langsung lari ke BTC, melainkan beranjak ke ekuitas sebagai aset langka.
- Meski yield obligasi 5 tahun turun ke 3,72 persen, BTC belum kembali menunjukkan status ‘store of value’ nan kuat.
- Kekhawatiran terhadap utang pemerintah Amerika dan potensi inflasi membikin pasar terpecah antara aset resiko dan aset lindung nilai.
Beberapa analis menyebut tekanan dari sektor teknologi, khususnya naiknya biaya perlindungan default perusahaan AI, dapat mendorong rotasi modal dari saham ke aset alternatif. Namun untuk saat ini, whale Bitcoin dan market maker tetap belum percaya BTC dapat menembus US$ 100.000 secara meyakinkan, meski kondisi makro tampak lebih mendukung dibanding beberapa bulan terakhir.
Disclaimer: Semua konten nan diterbitkan di website Cryptoharian.com ditujukan sarana informatif. Seluruh tulisan nan telah tayang di bukan nasihat investasi alias saran trading.
Sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada mata duit kripto, senantiasa lakukan riset lantaran mata uang digital adalah aset volatil dan berisiko tinggi. tidak bertanggung jawab atas kerugian maupun untung anda.
3 minggu yang lalu