Tokenisasi Dirham Di Uni Arab Emirates Semakin Marak! Apakah Investasi Yang Baik?

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Fenomena tokenisasi mata duit nasional sekarang semakin menjadi perhatian global, dan Uni Arab Emirates termasuk negara nan paling garang mendorong digitalisasi mata uangnya. 

Dalam waktu singkat, dua perkembangan besar terjadi sekaligus, ialah keberhasilan transaksi Digital Dirham sebagai CBDC pertama UAE dan peluncuran ADI Chain sebagai prasarana blockchain institusional untuk stablecoin dan aset bumi nyata. 

Bersamaan dengan dinamika ekonomi dunia nan tetap bergolak sejak 2009 hingga 2025, penanammodal mulai mempertanyakan apakah tokenisasi Dirham dapat menjadi pilihan menarik untuk stabilitas maupun penyimpanan nilai. 

Tokenisasi Dirham Semakin Marak

Perhatian terhadap tokenisasi Dirham meningkat tajam sejak sebulan terakhir ketika pemerintah UAE sukses melakukan transaksi Digital Dirham pertama melalui platform mBridge. 

Transaksi tersebut selesai dalam waktu kurang dari dua menit, menandakan kesiapan sistem untuk diintegrasikan ke pembayaran antar lembaga pemerintah dan sektor swasta. 

Proyek ini merupakan bagian dari fase awal peluncuran CBDC Digital Dirham nan tetap dibatasi pada kegunaan pembayaran untuk menghindari gangguan terhadap produk tabungan dan perbankan tradisional. 

Pendekatan hati-hati ini menunjukkan bahwa UAE mau memastikan mengambil melangkah kondusif dan sesuai kebutuhan ekonomi.

Bersamaan dengan itu, ADI Foundation meluncurkan ADI Chain, jaringan Layer 2 pertama di area MENA nan secara unik dirancang untuk stablecoin dan tokenisasi aset. 

Peluncuran mainnet ADI Chain disertai dengan dirilisnya token $ADI di platform perdagangan besar seperti Kraken, Crypto.com, dan KuCoin, serta rencana kesiapan melalui Telegram Wallet dan Fasset. 

Infrastruktur ini dibangun setelah proses pengembangan panjang dan bekerja sama dengan lembaga besar untuk memfasilitasi mengambil blockchain skala nasional di negara berkembang.

Di dalam ekosistem ADI Chain, Dirham memainkan peran sentral. Jaringan ini dipilih sebagai tempat peluncuran stablecoin berbasis Dirham nan bakal diterbitkan oleh First Abu Dhabi Bank dan IHC, dan berada di bawah izin Bank Sentral UAE. 

Hal ini memberi legitimasi kuat bagi Dirham digital, menjadikannya bukan sekadar proyek eksperimental, tetapi bagian dari rencana besar modernisasi finansial di Uni Arab Emirates.

Infrastruktur ADI Chain juga didukung oleh teknologi ZKsync nan memberikan keamanan dan skalabilitas melalui zero-knowledge proofs. 

Alchemy menyediakan support untuk deployment berskala nasional, sementara WalletConnect dan Covalent menghadirkan konektivitas wallet dan info real time untuk kebutuhan institusional. 

Selain stablecoin, pemerintah dan pelaku industri dapat membangun rantai L3 nan sesuai regulasi, membuka kesempatan untuk remittance lintas negara, digital identity, tokenisasi real estat, hingga solusi info kesehatan.

Dalam sektor properti, ADI Chain bekerja sama dengan ADREC untuk mempercepat tokenisasi kepemilikan dan registri digital. Emirates Driving Company juga menguji pencatatan pendidikan berkendara berbasis blockchain, termasuk pembayaran nan memanfaatkan stablecoin Dirham. 

Seluruh ekosistem ini menunjukkan bahwa tokenisasi Dirham bukan lagi konsep di atas kertas, tetapi mulai bergerak ke arah penerapan nyata dalam aktivitas ekonomi.

Dengan lebih dari 50 proyek dalam pipeline dan kerja sama mulai dari lembaga pendidikan hingga forum internasional seperti World Economic Forum di Davos, ADI Chain mengokohkan dirinya sebagai pusat pengembangan blockchain institusional di area MENA. 

Langkah ini mempercepat proses tokenisasi Dirham lantaran infrastrukturnya telah siap menjadi rumah bagi stablecoin resmi nan bakal digunakan oleh sektor publik maupun swasta.

Stabilitas Nilai Dirham

Ketertarikan terhadap tokenisasi Dirham semakin besar ketika dibandingkan dengan pergerakan aset dunia sejak 2009 hingga 2025. 

Berdasarkan info diagram di atas, nan menunjukkan persentase perubahan selama lebih dari 16 tahun, Dirham tercatat sebagai aset dengan stabilitas paling tinggi dengan perubahan sekitar +0.05%. 

Pergerakan nan nyaris datar ini menegaskan karakter Dirham sebagai mata duit nan dipatok terhadap USD dan sangat dijaga stabilitasnya oleh otoritas moneter UAE.

Ketika nilai USD terhadap Yen mengalami perubahan besar hingga +50.78%, terlihat jelas bahwa pasar mata duit utama mengalami volatilitas nan signifikan. 

Penguatan ini menggambarkan perubahan kebijakan moneter Jepang dan momentum penguatan dolar global. Namun, perubahan sebesar itu juga menandakan akibat perubahan tinggi nan tidak selalu disukai oleh penanammodal nan mengutamakan stabilitas jangka panjang.

Indeks dolar alias DXY mencatat kenaikan +34.60% selama periode nan sama. Ini menunjukkan kecenderungan dolar menguat, tetapi juga merefleksikan perjalanan panjang dengan siklus naik turun nan drastis, terutama pada masa krisis likuiditas dan perubahan suku kembang Federal Reserve. 

Volatilitas semacam ini sering memengaruhi pasar dunia dan tidak selalu cocok untuk penanammodal nan mau meminimalkan risiko.

Euro mengalami pelemahan sebesar -23.41%, sementara Pound Inggris turun lebih dalam hingga -33.04% sejak 2009. 

Kedua mata duit utama Eropa ini menghadapi banyak tekanan, mulai dari krisis utang Eropa, kebijakan ekspansif ECB, hingga akibat jangka panjang Brexit terhadap ekonomi Inggris. 

Penurunan puluhan persen menunjukkan bahwa penyimpanan nilai dalam Euro dan Pound tidak lagi dianggap sekuat era sebelum 2009.

Di sisi lain, emas justru melonjak +332.18% dalam periode nan sama. Emas tetap menjadi aset lindung nilai nan kuat, terutama pada masa ketidakpastian seperti pandemi dan inflasi global. 

Namun, kenaikan sebesar itu juga menunjukkan tingkat sensitivitas tinggi terhadap siklus ekonomi, kebijakan moneter, dan sentimen investor. Emas bukan aset stabil, melainkan aset nan bergerak garang sesuai kondisi pasar.

Jika seluruh aset tersebut dianalisis secara bersamaan, Dirham menjadi mata duit nan paling konsisten menjaga nilai tanpa pergerakan besar. 

Tidak mengalami apresiasi ekstrem seperti emas dan tidak tertekan seperti Euro alias Pound, Dirham tetap bergerak dalam rentang nyaris datar selama lebih dari satu separuh dekade. Ini membikin tokenisasi Dirham relevan bagi penanammodal nan mencari stabilitas, bukan spekulasi.

Karena sifatnya nan stabil, Dirham digital alias stablecoin berbasis Dirham ideal digunakan sebagai penyimpan nilai jangka panjang dan instrumen transaksi lintas negara. 

Dengan prasarana blockchain seperti ADI Chain, stabilitas tersebut dapat diakses dalam format digital tanpa mengorbankan keamanan maupun kepatuhan regulasi. 

Tokenisasi membikin Dirham lebih likuid, lebih mudah ditransfer, dan lebih serbaguna untuk penggunaan global, sekaligus mempertahankan sifat utamanya sebagai aset perlindungan nilai.

Kesimpulan

Tokenisasi Dirham di Uni Arab Emirates sekarang memasuki tahap krusial dengan keberhasilan transaksi Digital Dirham dan peluncuran ADI Chain sebagai prasarana utama untuk stablecoin dan tokenisasi aset. 

Dengan support lembaga besar serta izin nan jelas, Dirham digital mempunyai fondasi kuat untuk digunakan secara luas dalam ekosistem finansial modern. 

Ketika mata duit dunia lain mengalami volatilitas, Dirham tetap mencatat stabilitas dengan perubahan sekitar +0.05% sejak 2009. 

Stabilitas ini menjadi daya tarik utama bagi penanammodal nan mau menjaga nilai dan meminimalkan risiko. 

Meskipun tidak dirancang untuk mengejar untung tinggi, tokenisasi Dirham memberi kesempatan besar untuk menghadirkan aset stabil nan teregulasi, dapat digunakan di beragam sektor, dan siap menjadi bagian krusial dari ekonomi digital UAE.

Disclaimer: Semua konten nan diterbitkan di website Cryptoharian.com ditujukan sarana informatif. Seluruh tulisan nan telah tayang di bukan nasihat investasi alias saran trading.

Sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada mata duit kripto, senantiasa lakukan riset lantaran mata uang digital adalah aset volatil dan berisiko tinggi. tidak bertanggung jawab atas kerugian maupun untung anda.

Selengkapnya