– Bitcoin (BTC) diperdagangkan di kisaran US$ 87.000 pada akhir Desember 2025, setelah terkoreksi lebih dari 30 persen dari puncak Oktober di atas US$ 126.000. Pada saat nan sama, emas dan perak justru mencetak rekor tertinggi baru, memperlebar jarak keahlian antara aset mata uang digital dan logam mulia.
Namun bagi sebagian analis, divergensi ini bukanlah sinyal bahaya, melainkan pola nan sudah pernah terjadi sebelumnya. Mereka menilai kondisi pasar saat ini menyerupai fase pertengahan 2020, ketika logam mulia memimpin reli lebih dulu sebelum modal akhirnya berputar ke Bitcoin dan memicu salah satu kenaikan terbesar dalam sejarah aset tersebut.

Pandangan ini disampaikan oleh analis nan dikenal dengan nama Bull Theory, nan membagikan analisisnya di platform X pada 29 Desember. Ia menyoroti kemiripan mencolok antara situasi saat ini, dan periode pasca-kejatuhan pasar dunia pada Maret 2020.
Pada periode tersebut, stimulus bank sentral dalam skala besar pertama-tama mengalir ke emas dan perak. Harga emas naik dari sekitar US$ 1.450 menjadi US$ 2.075 pada Agustus 2020, sementara perak melonjak dari kisaran US$ 12 ke nyaris US$ 29. Bitcoin, sebaliknya, bergerak mendatar di rentang US$ 9.000 – US$ 12.000 selama nyaris lima bulan, sebelum akhirnya menembus level tersebut dan melonjak ke US$ 64.800 pada kuartal kedua 2021, nan mana di tahun tersebut kenaikan sekitar 440 persen dari level Agustus 2020.
Memasuki 2025, pola serupa kembali terlihat. Emas baru saja mencetak rekor baru di sekitar US$ 4.550, sementara perak melonjak ke puncak baru di bawah US$ 84 setelah reli tajam pada kuartal terakhir tahun ini. Bitcoin, di sisi lain, tetap tertahan di bawah US$ 90.000, berupaya pulih dari akibat peristiwa likuidasi besar pada 10 Oktober nan menghapus lebih dari US$ 19 miliar posisi leverage dari pasar.
Baca Juga: Banyak Perusahaan Treasury Kripto Diprediksi Tak Bertahan Tahun Depan
Menurut Bull Theory, kebenaran bahwa logam mulia bergerak lebih dulu secara historis justru sering menjadi pertanda bahwa aset beresiko bakal menyusul, bukan bahwa siklus telah berhujung Ia menambahkan bahwa kondisi ke depan apalagi berpotensi lebih mendukung dibandingkan 2020.
Jika pada siklus sebelumnya reli Bitcoin didorong nyaris sepenuhnya oleh likuiditas, maka memasuki 2026 ada kemugkinan kombinasi antara likuiditas dan struktur pasar nan lebih matang. Faktor-faktor seperti potensi pemangkasan suku kembang lanjutan, injeksi likuiditas baru, pelonggaran patokan leverage perbankan, kejelasan izin kripto, serta akses ETF nan semakin luas dipandang dapat menciptakan lingkungan nan lebih kondusif.
Dari sisi harga, pergerakan Bitcoin saat ini relatif tenang. Dalam sepekan terakhir, BTC bergerak sempit di antara area US$ 86.000 – US$ 90.000, dengan momentum jangka pendek nan lemah. Secara bulanan, keahlian tetap sedikit negatif, mencerminkan kehati-hatian pasar, bukan kepanikan.
Kondisi ini sangat kontras dengan pasar logam mulia. Sepanjang 2025, emas telah menguat sekitar 75 persen sementara perak mencatat kenaikan lebih dari 170 persen. Perbedaan keahlian tersebut mendorong rasio BTC terhadap emas dan perak ke level terendah dalam beberapa tahun.
Jika skenario rotasi modal seperti tahun 2020 kembali terulang, di mana logam mulai kehabisan momentum dan likuiditas beranjak ke aset beresiko, Bull Theory memperkirakan Bitcoin berpotensi mencatat kenaikan lebih dari empat kali menuju 2026.
Menurutnya, pergerakan mendatar Bitcoin saat ini lebih mencerminkan fase akumulasi dan konsolidasi, bukan awal dari pasar bearish baru.
Disclaimer: Semua konten nan diterbitkan di website Cryptoharian.com ditujukan sarana informatif. Seluruh tulisan nan telah tayang di bukan nasihat investasi alias saran trading.
Sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada mata duit kripto, senantiasa lakukan riset lantaran mata uang digital adalah aset volatil dan berisiko tinggi. tidak bertanggung jawab atas kerugian maupun untung anda.
2 hari yang lalu