– Bitcoin (BTC) berpotensi menghadapi koreksi nan lebih dalam pada 2026 mendatang, dan bisa turun kembali ke kisaran US$ 69.000. Penurunan ini diprediksi oleh Gareth Soloway, selaku Chief Market Strategist di Verified Investing.
Berdasarkan analisanya, dia menilai pelemahan Bitcoin saat ini bukan sekedar volatilitas kripto, melainkan bagian dari siklus pasar nan lebih luas.

Dalam wawancara pada 19 Desember lalu, Soloway mengatakan bahwa penurunan kali ini kemungkinan tidak sedalam siklus sebelumnya.
“Menurut saya Bitcoin tidak bakal mengalami drawdown 75 persen seperti siklus lama. Lebih realistis di kisaran 40-50 persen, lampau membentuk pedoman baru dengan akumulasi duit institusi,” ungkap Soloway.
Dalam perihal ini, dia menjelaskan bahwa fase koreksi kemungkinan sudah berlangsung. Dari puncak ke titik terendah sementara, Bitcoin disebut telah mengalami penurunan sekitar 36 persen.
Support Kunci Berada di Puncak Siklus Lama
Secara teknikal, Soloway memandang Bitcoin berpotensi mengunjungi kembali puncak siklus sebelumnya nan sekarang menjadi area support penting.
“Jika memandang grafik, kita kemungkinan menuju US$ 69.000 – US$ 74.000. Jika koreksi dari puncak berhujung di sana, itu tepat di tengah skenario drawdown 40-45 persen,” ujarnya.
Baca Juga: Analisis Bitcoin di Awal Pekan: Sentimen Negatif Masih Menguat
Namun, dia mengingatkan mengenai skenario nan lebih jelek tetap terbuka jika pasar dunia runtuh.
“Kalau pasar saham betul-betul kolaps seperti skenario crash. Bitcoin kemungkinan bakal turun lebih dalam lantaran kepanikan membikin orang menjual semua aset,” kata Soloway.
Sinyal Dini Tekanan Pasar
Pandangan Soloway mengenai Bitcoin tak lepas dari sikapnya nan bearish terhadap saham. Menurutnya, mata uang digital kerap memberi sinyal awal ketika tekanan besar bakal melanda aset beresiko.
Dengan dugaan koreksi saham nan ‘normal’ sekitar 10 hingga 15 persen pada 2026, dia memperkirakan justru Bitcoin bisa mulai stabil lebih dulu.
“Bitcoin tetap dianggap aset beresiko, tapi duit besar semakin melihatnya sebagai emas digital, dan itu bisa menahan penurunan,” paparnya.
Selain itu, analis tersebut juga menyoroti divergensi kinerja, dengan saham naik dua digit sepanjang tahun, sementara Bitcoin tetap tertinggal.
Ketika ditanya apakah Bitcoin menarik dibanding saham di level saat ini, dia menjawab dengan tegas bahwa jika kudu memilih sekarang, dirinya bakal mengakumulasi Bitcoin secara perlahan saat turun.
Kendati demikian, Soloway juga memperingatkan bahwa leverage berlebihan dan euforia spekulatif, terutama di sektor AI membikin pasar saham rentan. Meski AI bakal berakibat besar, margin mulai tertekan di kembali layar.
“Masuk 2026, penanammodal perlu mencari aset defensif, termasuk kesempatan seperti Bitcoin terutama jika harganya mendekati US$ 70.000,” pungkas Soloway.
Disclaimer: Semua konten nan diterbitkan di website Cryptoharian.com ditujukan sarana informatif. Seluruh tulisan nan telah tayang di bukan nasihat investasi alias saran trading.
Sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada mata duit kripto, senantiasa lakukan riset lantaran mata uang digital adalah aset volatil dan berisiko tinggi. tidak bertanggung jawab atas kerugian maupun untung anda.
1 minggu yang lalu