Area Zona Berikut Masih Jadi Batu Sandungan Bagi Bitcoin, Kata Analis

Sedang Trending 1 hari yang lalu

– Bitcoin (BTC) kembali menunjukkan pergerakan nan rentan di awal pekan, dengan nilai tetap berkutat di area tengah range setelah kandas menembus area resistensi di sekitar US$ 88.000. Kondisi ini membikin pasar berada di dalam fase beresiko tinggi, di mana pergerakan mini dapat dengan sigap berubah menjadi uji likuiditas ke bawah.

Analis kripto di media sosial X dengan nama samaran Killa, menyebut bahwa selama Bitcoin tidak bisa memperkuat di weekly open, tekanan penurunan tetap terbuka. Menurutnya, kegagalan mempertahankan level tersebut berpotensi mendorong nilai turun ke area US$ 86.300, apalagi hingga US$ 84.400, level nan dianggap sebagai sasaran likuiditas berikutnya jika struktur melemah.

Bitcoin saat ini tetap diperdagangkan di tengah range jangka pendek, kondisi nan dinilai tidak ideal untuk mengambil posisi agresif. Killa mengakui bahwa dia sempat menangkap pantulan sekitar 2 persen di area bawah, namun reli tersebut dengan sigap terkikis dan kembali mendekati titik awal.

“Pertempuran di atas US$ 88.000 telah berjalan cukup lama tanpa hasil nan meyakinkan,” ungkap Killa.

Ia menjelaskan, tanpa adanya penerimaan nilai nan jelas di atas area tersebut, Bitcoin condong melanjutkan pergerakan sideways nan disertai liquidity sweep ke leve-level bawah sebelum muncul pantulan nan lebih berarti. Pola ini kerap terjadi dalam fase konsolidasi nan berkepanjangan, terutama ketika pasar kekurangan katalis kuat.

Meskipun tetap memegang posisi long dari area US$ 87.500, Killa menegaskan pandangan besarnya tidak berubah. Ia tetap mengantisipasi adanya bearish retest nan bisa berjalan hingga Februari. Perbedaannya terletak pada eksekusi, bukan arah. Jika level weekly open ditembus ke bawah, dia memilih untuk menyingkir sementara dan menunggu struktur nilai nan lebih bersih sebelum kembali masuk pasar.

Sebagai langkah manajemen resiko, stop loss pada posisi long telah dipindahkan ke titik impas.

“Tidak ada argumen untuk membiarkan posisi kembali ke titik nol alias berubah menjadi kerugian andaikan pasar kandas mempertahankan level kunci,” ujarnya.

$BTC Update

Still holding the long from 87.5K, but given the recent price action, if BTC fails to hold the weekly open, we could easily move down toward 86.3K or even 84.4K.

We’ve been battling the 88K area for a while now, and if we can’t get acceptance above it, price will… https://t.co/qbjsKZeFAQ pic.twitter.com/1IrfC4nSfI

— Killa (@KillaXBT) December 30, 2025

Baca Juga: Analis Bandingkan Kondisi Bitcoin Saat Ini dengan 2020, Apa Hasilnya?

Sementara itu analis lain berjulukan Cristian Chifoi, memetakan dua skenario utama nan menurutnya berpotensi mendominasi perjalanan Bitcoin sepanjang 2026. Keduanya sama-sama tidak ramah bagi kebanyakan pelaku pasar, namun dengan sistem nan sangat berbeda.

Dalam skenario pertama, Bitcoin diperkirakan tetap bakal mencetak reli besar menuju rekor tertinggi baru pada paruh pertama 2026. Namun reli tersebut tidak bakal memperkuat lama. Setelah mencapai puncak baru, nilai berpotensi ambruk lebih dari 60 persen dalam waktu singkat, diikuti kelanjutan penurunan pada paruh kedua tahun tersebut. Total koreksi dalam skenario ini bisa melampuai 80 persen, menyerupai bear market sadis seperti siklus-siklus sebelumnya.

“Yang memebuat skenario ini semakin destruktif adalah ilmu jiwa pasar. Narasi negatif, mulai dari rumor teknologi baru seperti komputasi kuantum hingga dugaan bahwa siklus Bitcoin telah ‘rusak’, bakal membikin penanammodal ritel enggan untuk membeli, apalagi ketika nilai telah jatuh dalam,” kata Chifoi.

Sementara skenario kedua menawarkan gambaran nan lebih halus, namun tidak kalah menyakitkan. Dalam jenis ini, Bitcoin hanya mencetak puncak dangkal alias sekedar menembus area kisaran US$ 103.000 – US$ 120.000, sebelum kembali bergerak turun dan membentuk struktur konsolidasi besar sepanjang 2026. Harga diperkirakan bakal memperkuat dalam rentang luas antara US$ 80.000 hingga US$ 120.000 hingga akhir tahun.

Alih-alih terlihat seperti pasar bearish nan jelas, kondisi ini justru menciptakan kebingungan. Investor nan berambisi membeli di ‘dasar siklus’ bakal terus menuinggu konfirmasi penurunan lebih dalam nan tak kunjung datang. Pada saat nan sama, nilai tetap terasa terlalu mahal untuk menarik minat beli agresif. Akibatnya, pasar terjebak dalam fase paling sideways panjang nan menguras kesabaran, tanpa euforia dan tanpa kapitulasi.

“Skenario kedua bakal menjadi corak bear market nan tidak kasat mata. Tidak ada kepanikan massal, tetapi juga tidak ada kepercayaan kuat untuk masuk. Justru lantaran tidak terlihat seperti pasar jatuh, sebagian besar penanammodal bakal memilih menunggu di luar, sehingga permintaan tetap lemah,” paparnya.

Meski memaparkan dua kemungkinan tersebut, Chifoi menyatakan bahwa dia lebih condong pada skenario pertama, ialah reli terakhir diikuti kejatuhan tajam. Namun dia juga menekankan adanya pemisah invalidasi nan jelas. Jika Bitcoin hanya mencetak puncak dangkal alias kandas membentuk reli besar pada periode Januari hingga akhir Februari, maka probabilitas bakal bergeser ke skenario kedua.

“Jendela waktu awal 2026 bakal menjadi fase kunci untuk membaca arah pasar,” pungkas Chifoi.

scenario 1: BTC still does a major move up at new ATHs, then a big move down, more than 60% – all in H1 2026, then H2 moving down again with a total bear market retrace of more than 80% – no one would buy it cause of some narrative like quantum or BTC cycle broken or whatever… https://t.co/w0jBvZQ8VH

— Cristian Chifoi (@ChifoiCristian) December 30, 2025

Disclaimer: Semua konten nan diterbitkan di website Cryptoharian.com ditujukan sarana informatif. Seluruh tulisan nan telah tayang di bukan nasihat investasi alias saran trading.

Sebelum memutuskan untuk berinvestasi pada mata duit kripto, senantiasa lakukan riset lantaran mata uang digital adalah aset volatil dan berisiko tinggi. tidak bertanggung jawab atas kerugian maupun untung anda.

Selengkapnya