Obsidian, Aplikasi Catatan Dengan Konsep Local-first!

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Sebelumnya kita sudah pernah membahas mengenai aplikasi Anytype : Aplikasi Catatan nan Mengutamakan Privasi! dimana aplikasi tersebut sudah cukup lama saya gunakan baik di Windows dan Linux, saya cukup suka lantaran memang selain cross platform, fitur dan tampilannya sendiri kurang lebih mirip Notion nan juga pernah saya andalkan sebelumnya.

Namun salah satu pembaca diartikel tersebut merekomendasikan Obsidian, tidak lama setelahnya tentu langsung saya coba, hasilnya, menarik!.

Apa itu Obsidian?

Secara umum, Obsidian ini dikenal sebagai aplikasi catatan berbasis Markdown nan berbeda dari aplikasi lain seperti Notion, Obsidian menekankan konsep local-first, dimana semua catatan disimpan di perangkat pengguna, bukan di server pihak ketiga.

⚡️ Akhirnya Kebagian Sinyal 5G di Rumah, Sekencang Apa?

Seperti pada gambar diatas, sebuah catatan bakal disimpan dalam sebuah Vault nan dapat kita simpan di local storage, jadi lantaran tanpa ada proses sync dengan internet, aplikasi ini melangkah sangat mulus dan cepat.

Nah sebelum kita lanjutkan, mari kita bedah dulu fitur apa saja nan ada di Obsidian?

Fitur Utama

Yang pertama jelas Obsidian ini menggunakan Markdown sebagai fondasi utama, dimana dengan itu, catatan bakal ringan, mudah untuk dipindah dan tentu kompatibel dengan banyak aplikasi lainnya.

Selain itu, ada backlinks dan graph view nan bisa kita gunakan untuk menghubungkan buahpikiran antar catatan dan memvisualisasikannya dalam corak map.

Ini jelas bakal sangat berfaedah bagi penulis kayak saya ini, lantaran setiap catatan bisa di track dengan lebih mudah.

Nah menariknya, ada ratusan plugin nan tersedia, mulai dari kanban, task manager, almanak dan lainnya nan bisa kita install dengan mudah.

Contoh, disini saya menginstall plugin Kanban lantaran memang berfaedah untuk saya,

Dan di community plugin, ada banyak banget plugin nan bisa dicoba, dan jujur belum saya coba cek semuanya, tolong rekomen plugin nan bagus dibawah dong guys.

Selain plugin, kita juga bisa mengatur tema dan css kustom, sehingga tentu tampilan bisa diubah sesuai preferensi.

Selain itu, ada fitur sync dan publish, sayangnya ini berbayar sehingga untuk support lintas platform, kita kudu pakai trik tambahan.

Gratis untuk penggunaan dasar!

Satu perihal nan pasti, Obsidian ini cuma-cuma untuk penggunaan dasar, semua plugin dan integrasi betul benar bisa kita manfaatkan tanpa ada batasan, namun tentu sayangnya untuk melakukan sync data, kita kudu beli paket langganan dengan nilai $5 untuk sync dan $10 untuk publish nan tentu bakal lebih murah jika bayar tahunan.

Alternatif Sync dan Dukungan Lintas Platform

Nah meskipun memang terbatas pada sync (kecuali Anda bayar) sebenarnya ada trik nan bisa kita lakukan, misalkan dengan menyimpan vault di OneDrive (ini melangkah sempurna untuk pengguna Windows multi devices), menggunakan Sync dari Google Drive alias Mega, dan nan paling mantap dan saya suka sih menggunakan Private Repository dari GitHub.

Seperti pada gambar diatas, jika saya selesai mencatat di Windows, cukup saya add dan push ke repo untuk selanjutnya saya pull dari perangkat saya di Linux. Begitupun sebaliknya.

Tentu dengan itu catatan bakal tersinkronisasi meskipun kudu ada langkah ekstra. Jika Anda pakai Windows dan aktif menggunakan OneDrive, Anda bisa menyimpan Vault di OneDrive nan bakal tersinkronisasi dengan akun Microsoft Anda guys. Jadinya ini lebih mudah dan seamless juga.

Nah selain itu, Obsidian juga tersedia secara cross platform, dia tersedia di Windows, Linux, Mac, Android dan iOS.

Untuk sync di Android saya bisa menggunakan Termux + Git. Terkesan ribet, tapi menurut saya sih ini cukup seru lantaran ada langkah tambahan nan bisa kita lakukan.

Kekurangan

Meskipun memang menarik, sigap dan tersedia sebagai aplikasi cross platform, sayangnya kurva belajar Obsidian ini cukup tinggi, jadi jika Anda sudah terbiasa dengan Notion, Evernote alias OneNote jelas rasanya butuh waktu untuk belajar dan menyesuaikan diri.

Selain itu, tampilan dan fiturnya juga tidak seintuitif aplikasi terkenal lainnya, apalagi mungkin jika dibandingkan dengan AnyType, tampilan Obsidian ini tetap jauh dibawahnya.

Dan terakhir, lantaran saya pengguna gratisan, sync tidak tersedia, meskipun ada solusi alternatif, tentu ini lebih ribet dibandingkan dengan jasa lainnya.

Cocok untuk siapa sih?

Nah Obsidian ini memang mengutamakan local-first nan berfaedah sangat cocok untuk pengguna nan mau betul benar menjaga privasi-nya.

Namun selain itu, ini juga cocok untuk nyaris semua pengguna untuk mencatat ide, draft, catatan harian, pengarsipan dan lainnya. Dan berikut adalah tabel perbandingkan dengan Anytype nan bisa Anda jadikan referensi untuk pilihan.

AspekObsidianAnytype
Konsep DasarCatatan berbasis Markdown, konsentrasi pada local-first (data tersimpan di perangkat).Catatan berbasis object-oriented, mirip Notion, konsentrasi pada kerjasama tim.
Penyimpanan DataLokal, privat, bisa sync berbayar dengan enkripsi end-to-end.Peer-to-peer sync, tanpa server pusat, tetap privat.
Fitur UtamaBacklinks, Graph View, plugin komunitas, tema & CSS custom.Workspace kolaboratif, sistem blok (text, list, image, table), tampilan modern.
KelebihanFleksibel, ekosistem plugin besar, cocok untuk perseorangan & penulis.Ramah untuk tim, tampilan elegan, kerjasama real-time.
KekuranganKurva belajar tinggi, sinkronisasi cuma-cuma tidak tersedia.Integrasi eksternal terbatas, ekosistem plugin belum sebesar Obsidian.
HargaGratis untuk dasar, sync & publish berbayar.Gratis untuk individu, paket berbayar untuk tim/workspace.
Target PenggunaPenulis, peneliti, developer, pengguna perseorangan nan mau knowledge base pribadi.Tim, startup, organisasi nan butuh workspace kolaboratif dengan privasi.

Kesimpulannya

Obsidian ini memang unggul lantaran privasi, elastisitas dan ekosistem plugin nan super luas dan kuat, cocok banget untuk pengguna nan mau membikin catatan jangka panjang nan tersimpan di lokal dan aman.

Meskipun mungkin butuh penerapan ekstra dan penyesuaian nan lebih lama, jika setup sudah selesai dan workflow juga sudah terbiasa, Obsidian ini bagi saya rasanya malah lebih asik dan lebih baik daripada penggunaan Anytype sebelumnya.

Selain itu, aplikasi-nya juga melangkah cepat, tidak royal resource dan tentu mendukung Linux nan jelas menjadi poin krusial bagi saya.

Jika Anda tertarik mencoba, Anda bisa mendownload Obsidian pada laman berikut https://obsidian.md/download

Nah apakah Anda juga menggunakan Obsidian? komen dibawah guys dan berikan pendapatmu dibawah, jika ada tambahan komen dibawah juga guys.

Written by

Gylang Satria

Penulis, Pengguna Windows 11, Linux Ubuntu, dan Samsung S24. Tag @gylang_satria di Disqus jika ada pertanyaan.

Post navigation

Previous Post

Selengkapnya